Home Blog Page 10

Berjalan untuk Dunia, Berlari untuk Akhirat

0

Seringkali seorang disibukkan dengan mengejar dunia, disibukkan dengan pekerjaan, perdagangan mereka, dan perkara lainnya yang dapat meningkatkan kehidupan dunia mereka. Tetapi tatkala berkaitan dengan kehidupan akhirat, tidak sedikit yang lalai darinya. Seakan dunia mengejar mereka, dan akhirat berjalan menjauhinya.

Ditulis oleh: Abu Hanifah Jandriyadi

Allah ta’ala memerintahkan kita untuk mencari karunia-Nya berupa rejeki yang halal, mencukupkan diri sendiri. Allah ta’ala berfirman :

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ ذَلُولا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka BERJALANLAH di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al-Mulk : 15)

Terdapat ayat serupa yang memerintahkan kita untuk BERJALAN diatas permukaan bumi untuk menggapai karunia-Nya berupa rejeki yang halal. Akan tetapi tatkala Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk menuju negeri akhirat dengan beriman, beramal shalih dan kebajikan-kebajikan lainnya, Allah memerintahkan kita untuk bersegera, bahkan dengan kalimat perintah : BERLARILAH ! Yaitu melarikan diri dari segala keburukan, Allah berfirman :

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ

“Maka BERLARILAH kalian menuju Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (Adz-Dzariyat : 50)

Apa yang dimaksud dengan perintah berlarilah menuju Allah ?

Asy-Syaikh As-Sa’di rahmatullah ‘alaihi menafsirkan :

الفرار بما يكرهه الله ظاهرا و باطنا إلى ما يحبه ظاهرا و باطنا، فرار من الجهل إلى العلم و من الكفر إلى الإيمان، و من المعصية إلى الطاعة، و من الغفلة إلى ذكر الله

“Maksudnya ialah berlari menjauh dari segala perkara yang dibenci Allah baik yang nampak maupun tidak nampak menuju kepada perkara yang Dia cintai baik perkara yang nampak maupun yang tidak nampak. Berlari menjauh dari kebodohan menuju ilmu, dari kekafiran menuju keimanan, dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari kelalaian menuju mengingat Allah.”

Beliau melanjutkan :

سمى الله الرجوع إليه فرارا، لأن في الرجوع لغيره أنواع المخاوف والمكاره. و في الرجوع إليه أنواع المحاب و الأمن و السعاده و الفوز

“Allah menamakan kembali kepada-Nya dengan berlari, karena kembali kepada selain-Nya malah terdapat berbagai hal yang ditakuti dan hal-hal yang tidak disukai. Sedangkan kembali kepada-Nya terdapat berbagai hal yang disukai, keamanan, kebahagiaan dan keberuntungan.”

Hal ini juga selaras dengan penuturan Al-Imam Al-Baghawi rahmatullah ‘alaihi yang menyimpulkan tafsir ayat ini :

ففروا إلى الله، فاهربوا من عذاب الله إلى ثوابه، بالإيمان و الطاعة

“Berlarilah dengan cepat, selamatkanlah diri kalian dari adzab Allah menuju ganjaran pahala-Nya dengan keimanan dan ketaatan.”

Hamba Allah yang faqir

Sumber bacaan :
-Taisir Karimir Rahman hal. 777 terbitan Dar Ibn Hazm
-Ma’alimu At-Tanzil jilid 4 hal. 212 terbitan DKi

Larangan Tidur Tengkurap atau Telungkup

0

Terkadang ketika seorang sedang membaca atau menulis sesuatu melakukannya dengan posisi tidur tengkurap atau telungkup. Akan tetapi, ternyata terdapat larangan tidur tengkurap atau telungkup di dalam Islam. Hal ini berdasarkan hadits Nabi ﷺ, dari Abu Dzar Jundub bin Junadah radhiallahu’anhu berkata,

مَرَّ بِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا مُضْطَجِعٌ عَلَى بَطْنِي فَرَكَضَنِي بِرِجْلِهِ وَقَالَ يَا جُنَيْدِبُ إِنَّمَا هَذِهِ ضِجْعَةُ أَهْلِ النَّارِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewatiku yang sedang berbaring diatas perutku (tidur telungkup), maka beliau mendorongku dengan kakinya sambil bersabda: “Wahai Junaidib, ini adalah cara berbaringnya penghuni neraka.” (HR. Ibnu Majah no. 3724)

Di dalam hadits riwayat lain tidur tengkurap atau telungkup merupakan hal yang dibenci oleh Allah ta’ala, dari Thikfah bin Qais radhiallahu’anhu dia berkata,

أَصَابَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَائِمًا فِي الْمَسْجِدِ عَلَى بَطْنِي فَرَكَضَنِي بِرِجْلِهِ وَقَالَ مَا لَكَ وَلِهَذَا النَّوْمِ هَذِهِ نَوْمَةٌ يَكْرَهُهَا اللَّهُ أَوْ يُبْغِضُهَا اللَّهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendapatiku tidur di atas perutku (telungkup) di Masjid, maka beliau membangunkaku dengan kedua kakinya sambil bersabda: “Kenapa kamu seperti ini? Ini adalah cara tidur yang di benci Allah atau tidak di sukai Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 3723)

Imam Nawawi rahimahullah membawakan hadits di atas (Ibnu Majah no. 3723) di dalam kitabnya Riyaadhush Shaalihiin pada Bab Adab-adab Tidur dan Berbaring.

Kemudian Syaikh DR. Musthofa dib Al-Bugho, dkk memberikan faidah dalam kitab Nuzh-hatul Muttaqin Syarah Riyaadhus Shaalihiin hal. 646 bahwa

النهي عن النوم على البطن

Larangan dari tidur di atas perut (Telungkup)

Larangan Beribadah di Kuburan dan Berlebihan Terhadap Kuburan

0

Syaikh Taqiyuddin Al-Maqrizi Asy-Syafi’i (766 H – 854 H) mengatakan di dalam kitabnya “تجريد التوحيد المفيد”

و أنه لا يجوز إشراك غيره معه لا في الأفعال و لا في لفاظ و لا في الإرادات، فالشرك به في الأفعال كالسجود لغيره، و الطواف بغيره بيته المحرّم، و حلق الرأس عبوديّةً و خضوعًا لغيره، و تقبيل الأحجار غير الحجر الأسود الذي هو يمينه تعالى في الأرض، و تقبيل القبور واستلامها والسجودلها

Sungguh tidak diperbolehkan (diharamkan) berbuat syirik kepada selain Allah bersamaan dengan beribadah kepada-Nya, tidak dalam perbuatan, tidak dalam ucapan, tidak dalam keinginan. Maka kesyirikan dalam perbuatan adalah semisal sujud kepada selain Allah, thowaf selain di baitullah (makkah) yang disucikan, mencukur rambut dengan maksud ketaatan dan ketundukkan kepada selain Allah, mencium batu selain batu hajar aswad yang merupakan tangan kanan Allah ta’ala di bumi, dan mencium kuburan, berserah diri kepada kuburan, dan sujud kepada kuburan.

فد لعن لنبي ﷺ من اتخذ قبور الأنبياء و الصالحين مساجد يصلّى لله فيها

Sungguh laknat Nabi ﷺ bagi siapa yang menjadikan kuburan Nabi-nabi dan orang-orang shalih sebagai masjid-masjid kemudian sholat di dalamnya.

فكيف من اتخذ القبور أوثانًا تُعبد من دون الله ؟! فهذا لم يعلم قول الله تعلى : إِيَّاكَ نَعْبُدُ

Maka bagaimana lagi orang yang menjadikan kuburan sebagai berhala-berhala yang diibadahi dari selain Allah?! Maka dia tidak memahami firman Allah ta’ala إِيَّاكَ نَعْبُدُ (Hanya kepada Engkau saja kami beribadah, Al-Fatihah: 5)

Kemudian Syaikh Al-Maqrizi Asy-Syafi’i membawakan hadits Nabi ﷺ

لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسْجِدًا

“Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani disebabkan mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid” (HR. Bukhori no. 1330)

مِنْ شِرَارِ النَّاسِ مَنْ تُدْرِكْهُمْ السَّاعَةُ وَهُمْ أَحْيَاءٌ، وَالَّذِينَ يَتَّخِذُونَ قُبُورَهُمْ مَسَاجِد

“Seburuk-buruk manusia adalah orang yang mendapatkan hari kiamat dalam keadaan hidup, dan orang yang menjadikan kuburan mereka sebagai masjid” (HR. Bukhori no. 7067, Ahmad no. 4113)

وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang sebelum kalian itu menjadikan kuburan para nabi dan orang-orang shalih dari mereka sebagai masjid, maka janganlah kalian menjadikan kuburan-kuburan itu sebagai masjid, karena sungguh aku melarang kalian dari hal itu” (HR. Muslim no. 532)

Pembagian dan Perbedaan Cinta

0

Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan di dalam إفادة المستفيد bahwa cinta terbagi menjadi dua, yaitu

 

1. Mahabbah Ibadah ( محبة العبادة )
2. Mahabbah Tabi’at ( محبة الطبيعية )

 

Syaikh al-Fauzan menjelaskan,

محبة العبادة، و هي التي يكون معها الذل و الخضوع و الاستسلام للمحبوب، و هذه لا تكون إلا لله، فمن أدخل معه غيره فيها فهو مشرك

 

Mahabbah Ibadah adalah adanya bersama rasa cinta disertai dengan rasa kerendahan, ketundukkan, kepasrahan diri kepada yang dicintai, dan ini tidak diperuntukkan kecuali kepada Allah, maka barang siapa yang memberikan mahabbah kepada selain Allah bersamaan dengan mahabbah kepada Allah, maka dia adalah musyrik

 

Kemudian Syaikh al-Fauzan membawakan firman Allah,

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لله

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah” (Al-Baqarah: 165)

 

وأما المحبة الطبيعية و هي محبة القرابة والوالدين و الأولاد، و محبة الأكل والشرب، و محبة الزوجة، فهذه محبة طبيعبة لا يؤاخذ عليها الإنسان إلا إذا قدّمها على محبة الله

 

Adapun Mahabbah Tabi’at adalah kecintaan pada keluarga, kedua orang tua, anak-anak, kecintaan pada makan dan minum, dan kecintaan kepada istri. Ini adalah Mahabbah Tabi’at, manusia tidak dihukum karenanya. Kecuali jika kecintaan kepada makhluk mendahului kecintaan kepada Allah

 

Kemudian Syaikh al-Fauzan membawakan firman Allah

 

قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ

 

Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya” (At-Taubah: 24)

Cinta (Al-Mahabbah) Merupakan Ibadah yang Wajib Diberikan Hanya Kepada Allah

0

Cinta (al-Mahabbah) Merupakan Ibadah yang Wajib Hanya Diberikan kepada Allah

Syaikh Al-Maqrizi Asy-Syafi’i (766 H – 854 H) mengatakan di dalam kitabnya “تجريد التوحيد المفيد”

والإلهيّة : كون العباد يتّخذونه سبحانه محبوبًا مألوهًا، و يفردونه بالحبّ والخوف والرجاء، والإخبات، والتّوبة والنّذر والطّاعة، والطّلب والتوكل، ونحو هذه الاشياء

Tauhid Ilahiyyah adalah suatu keadaan hamba menjadikan Allah yang Maha Suci sebagai *dzat yang dicintai*, yang disembah, mengesakan-Nya dengan cinta, takut, harap, ketundukkan, taubat, nadzar, ketaatan, berdo’a, tawakkal, dan yang semisalnya.

Syaikh Abdul Aziz Ar-Rajihi menjelaskan di dalam kitab فتح الرب الحميد bahwa yang dimaksud adalah Mahabbah Ibadah

محبة العبادة، و هي المحبة التي تتقتضي الذل والخضوع، فالعبادة سم يجمع غاية الحب له و غاية الذل له

Mahabbah Ibadah (Kecintaan Ibadah) adalah kecintaan yang memerlukan kerendahan dan ketundukkan, maka ibadah adalah penamaan yang mengumpulkan tujuan kecintaan kepada-Nya dan mengumpulkan tujuan kerendahan/ ketundukkan kepada-Nya.

Syaikh Ar-Rajihi melanjutkan,

و ضابط محبة العبادة التي لا يجز صرفها لغير الله، فلها ركنان :

الأول: كمال الحب
الثني: كمال الذل و الخوف

Dan ketentuan Mahabbah Ibadah (Kecintaan Ibadah) yang tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah, maka baginya dua rukun:
1. Kesempurnaan cinta
2. Kesempurnaan ketundukkan dan takut.

Tidak Makan Berlebihan

0

Makan berlebihan merupakan perkara yang dibenci di dalam Agama Islam. Ibnu Jama’ah Rahimahullaah (w. 733 H) menuliskan di dalam kitab ” تذكرة لسامع ”

من أعظم الأسباب المعينة على الاشتغال والفهم و عدم الملال: أكل قدر اليسير من الحلال

Di antara sebab-sebab yang paling besar untuk membantu sibuk (menuntut ilmu) dan memahami (ilmu) dan tidak ada kejenuhan (pada ilmu) adalah makan sekedarnya yang sederhana dari makanan yang halal.

قل الشافعي: ما شبعت منذ ست عشرة سنة

Imam syafi’i mengatakan, “Aku tidak pernah kenyang semenjak 16 tahun”

و سبب ذلك أن كثرة الأكل جالبة لكثرة الشرب، و كثرته جالبة للنوم والبلادة، و قصور الذهن، و فتور الحواس، و كسل الجسم، هذا مع ما فيه من الكراهية الشرعية

Seseorang apabila banyak makan menyebabkan banyaknya minum, banyaknya makan dan minum menyebabkan menjadi tidur dan bodoh, pendeknya akal, lemahnya panca indera, dan malasnya badan, ini semua termasuk yang dibenci di dalam syari’at islam

ولم أحد من الأولياء، والأئمة العلما يصف أو وصف بكثرة الأكل، و لاحمد به

Tidak ada seorang pun dari para wali, imam-imam ulama mensifati atau disifati dengan banyaknya makan dan tidak pula dipuji dengan banyaknya makan.

وإنما يحمد كثرة الأكل من الدواب التي لا تعقل

Bahwa yang sesungguhnya dipuji dengan banyaknya makan itu dari hewan-hewan yang tidak memiliki akal.

*sebagaimana apabila seorang memiliki kambing, sapi atau unta tentu dia akan senang apabila hewannya tersebut banyak makan sehingga menjadi gemuk dan berisi*

Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

“Tidaklah Manusia memenuhi wadah yang buruk melebihi perut, cukup bagi manusia beberapa suapan yang menegakkan tulang punggungnya, bila tidak bisa maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya dan sepertiga untuk nafasnya” (HR. Tirmidzi no. 2380, Ibnu Majah 3349)

Imam at-Tirmidzi membawakan hadits ini di dalam kitab Zuhud dan menuliskan bab dengan judul “م جاء في كراهية كثرة الأكل ” yakni, dibencinya banyak makan

Takut (Al-Khauf) Merupakan Ibadah yang Wajib Diberikan Hanya Kepada Allah

0

Takut (Al-Khauf) Merupakan Ibadah yang Wajib Diberikan Hanya Kepada Allah

Syaikh Al-Maqrizi Asy-Syafi’i (766 H – 854 H) mengatakan di dalam kitabnya “تجريد التوحيد المفيد”

والإلهيّة : كون العباد يتّخذونه سبحانه محبوبًا مألوهًا، و يفردونه بالحبّ والخوف والرجاء، والإخبات، والتّوبة والنّذر والطّاعة، والطّلب والتوكل، ونحو هذه الاشياء

Tauhid Ilahiyyah adalah suatu keadaan hamba menjadikan Allah yang Maha Suci sebagai dzat yang dicintai, yang disembah, mengesakan-Nya dengan cinta, takut, harap, ketundukkan, taubat, nadzar, ketaatan, berdo’a, tawakkal, dan yang semisalnya.

Syaikh Abdul Aziz Ar-Rajihi Rahimahullah menjelaskan di dalam kitabnya
“فتح الرب الحميد ”
bahwa takut (الخوف) terbagi menjadi dua, yaitu
1. Khauf Tabiat ( الخوف الطبيعي )
2. Khauf Ibadah ( الخوف العبادة )

Syaikh Ar-Rajihi menjelaskan bahwa Khauf Tabiat adalah

كأن تخاف من المخلوق الذي له أسباب ظاهرة فتخاف من العدو فتأخذ حذرك، أو تخاف من السباع، أو تخاف من البرد فتلبس ثيابك، أو تخاف من الجن فتتحرز منهم بالأوراد الشرعية، و تتعوذ بكلمات الله التماتة من شرّ ما خلق، وتقرأ آية الكرسي

Anda takut dari makhluk yang padanya terdapat sebab-sebab yang nampak, semisal takut terhadap musuh sehingga mengambil perhatianmu, atau takut dari hewan-hewan buas, atau takut dari rasa dingin sehingga memakai pakaian yang tebal, atau takut dari jin sehingga menjaga diri kalian dengan wirid-wirid syar’i, dan berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari keburukan makhluk-Nya, dan membaca ayat kursi.

Dan Khauf Ibadah adalah

أن تخاف من شيء ليست أسبابه ظاهرة، فتاخف من الميت مثلًا أن يميت ولدك، أو يحرمك دخول الجنة، أو يقطع رزقك أو يسلط عليك عدوه فتدعوه من دون الله، فهذا خوف السرِّ، وهذا شرك لمن صرفه لغير الله

Anda takut dari sesuatu yang sebab-sebabnya tidak nampak, semisal Anda takut dari mayyit yg seandainya dapat mematikan anakmu atau menahan anda masuk ke dalam surga, atau memutus rizkimu atau menguasai anda kepada musuh-musuh, maka itu merupakan peribadahan kepada selain Allah, ini adalah takut yang tersembunyi, dan ini adalah kesyirikan bagi yang memalingkan kepada selain Allah.

Syaikh Shalih Fauzan juga menjelaskan di dalam kitab ” إفادة المستفيد ” tentang khauf ibadah adalah

هو الذي يكون معه ذل و انقياد للمفوف

Adanya bersamaan dengan takut rasa kehinaan diri dan ketundukkan diri kepada sesuatu yang ditakuti.

Dan Khauf Tabiat adalah

فهو الذي لا يكون معه ذل و لا خضوع

Tidak adanya penyertaan dengan takut rasa kehinaan diri dan tidak pula ketundukkan diri terhadap yang ditakuti

Setelah itu Syaikh Shalih Fauzan membawakan firman Allah ta’ala,

فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman” (Ali Imran: 175)

Meminta Agar Diberikan Teman yang Shalih

0

Di dalam kitab sunan Tirmidzi, pada kitab shalat hadits no. 413

Seorang tabi’in, Huraits bin Qobishoh tatkala itu datang ke madinah, kemudian berdo’a

اللَّهُمَّ يَسِّرْ لِي جَلِيسًا صَالِحًا

“Ya Allah mudahkanlah aku untuk mendapatkan teman duduk yg shalih”

Kemudian setelah itu, tabi’in tersebut bertemu dengan salah seorang sahabat Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam, Abu Huroiroh radhiallaahu’anhu.

Hingga kemudian tabi’in tersebut mengambil ilmu kepada sahabat tersebut.

عَنْ حُرَيْثِ بْنِ قَبِيصَةَ قَالَ
قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فَقُلْتُ اللَّهُمَّ يَسِّرْ لِي جَلِيسًا صَالِحًا قَالَ فَجَلَسْتُ إِلَى أَبِي هُرَيْرَةَ فَقُلْتُ إِنِّي سَأَلْتُ اللَّهَ أَنْ يَرْزُقَنِي جَلِيسًا صَالِحًا فَحَدِّثْنِي بِحَدِيثٍ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَنْفَعَنِي بِهِ

*teks hadits diambil dari aplikasi “Ensiklopedi Hadits – Kitab 9 Imam”

Menjadikan Perantara Orang Shalih untuk Bertaqarrub dengan Allah adalah Kesyirikan

0

Di antara bentuk kesyirikan adalah menjadikan orang shalih sebagai perantara untuk bertaqarrub kepada Allah

Syaikh Taqiyyuddin Al-Maqrizi Asy-Syafi’i (766 H – 854 H) menyebutkan dalam kitab تجريد التوحيد المفيد

فالشرك في الإلهية و العبادة هو الغالب على أهل الإشرك، وهو شرك عبّاد الأصنام، و عبّاد الملائكة، و عبّاد الجن، و عبّاد المشايخ و الصالحين الأحياء والأموات

bahwa Syirik di dalam Ilahiyyah (Tauhid Uluhiyyah) dan peribadahan yang dominan terjadi pada ahli syirik adalah beribadah kepada berhala, beribadah kepada malaikat, beribadah kepada jin, *beribadah kepada syaikh (guru atau ulama) dan orang shalih yang hidup maupun mati*.

Kemudian Al-Maqrizi membawakan firman Allah,

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ

“(Dan orang-orang musyrikin berkata): ‘kami tidak menyembah mereka, melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya’ ” (Az-Zumar: 3)

Mengusap Kepala dan Telinga Ketika Berwudhu

0

Di antara sunnah-sunnah berwudhu menurut mazhab syafi’i adalah

* مسح جميع الرأس

Mengusap seluruh kepala

* مسح الأذنين

Mengusap kedua telinga.

Di dalam kitab *Fiqih Syafi’i Lil Mubtadiin hal. 23* diterangkan bahwa

تمسح الأذين ظاهرهما و بطنهما، و يتم المسح بماء جديد غير الماء الذى مسح الرأس ، لأنه عضو تميز عن الرأس فى السم و الخلقة

Membasuh kedua telinga zhohirnya (bagian luar) dan batinnya (bagian dalam), dan menyempurnakan dengan air yang baru bukan dengan air yang digunakan mengusap kepala. *Karena sesungguhnya telinga anggota tubuh tersendiri yang berbeda dari kepala dalam namanya maupun penciptaannya.*

Di dalam kitab *Kifayathul Akhyar hal. 40* dijelaskan

يستحب مسح الصماخين بماء جديد

Lebih disukai membasuh kedua lubang telinga dengan air yang baru

Berdasarkan hadits dari Abdullaah bin Zaid _radhiallaahu’anhu_

ريت رسول اللُه ﷺ يتوضأ فأخذ لأذنيه ماء خلاف الماء الذي أخذه لرأسه

“Saya melihat Rasulullaah ﷺ berwudhu kemudian mengambil air untuk telinganya berbeda dengan air yang diambilnya untuk kepalanya (HR. Hakim dalam Al-Mustadrak no. 538 dan Al-Baihaqi, Hakim mengatakan sanadnya shahih berdasarkan syarat Muslim)

*Kesimpulannya:*
1. Mengusap sebagian kecil dari kepala atau rambut wudhunya masih sah berdasarkan mazhab syafi’i, karena mengusap seluruhnya merupakan sunnah
2. mengusap kepala dan telinga merupakan bagian yg berbeda di dalam mazhab syafi’i
3. disunnahkan menggunakan air yang berbeda dalam mengusap kepala dan telinga
4. mengusap telinga maksudnya adalah mengusap bagian dalam dan luar telinga

*Referensi:*
Fiqh Syafi’i Lil Mubtadiin
Matan Ghoyah wa Taqriib
Kifaayatul Akhyaar