Home Blog Page 12

Keutamaan Mendidik Anak Perempuan

0

Anak dambaan bagi setiap keluarga. Akan tetapi, sebagian orang ada yang lebih mendambakan kehadiran anak laki-laki ketimbang anak perempuan. Padahal islam menjelaskan secara khusus tentang keutamaan mendidik anak perempuan dan ganjaran bagi orang tua.

Al Imam Muslim rahimahullah memuat sebuah bab di dalam kitab shahihnya dengan judul (باب فَضْلِ الإِحْسَانِ إِلَى الْبَنَاتِ) “Keutamaan Berbuat Baik kepada Anak-Anak Perempuan

beliau membawakan hadist dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata  bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ وَضَمَّ أَصَابِعَهُ

Barangsiapa yang mengayomi dua anak perempuan hingga dewasa maka ia akan datang pada hari kiamat bersamaku” (Anas bin Malik berkata: Nabi menggabungkan jari-jari jemari beliau). (HR Muslim 2631)

Hukum Mendatangi Peramal atau Melihat Ramalan

0

Bagaimana hukum mendatangi peramal atau melihat ramalan?

Ketahuilah, agama Islam datang untuk menghapus ajaran atau keyakinan kesyirikan. Karena di dalam keyakinan tersebut terdapat ketergantungan pada selain Allah ta’ala, ada keyakinan bahwa bahaya dan manfaat itu datang dari selain Allah, juga terdapat pembenaran terhadap pernyataan tukang ramal yang mengaku-ngaku mengetahui perkara ghaib dengan penuh kedustaan, hal inilah mengapa disebut syirik. (baca: Tidak Ada Seorang Pun yang Mengetahui Perkara Ghaib)

Di antara dalil tentang larangan untuk mendatangi Peramal adalah hadist yang diriwayatkan sebagian istri-istri Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam, Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda

 

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

 

“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.” (HR. Muslim no. 2230)

 

dan dari Abu Huroiroh radhiallahu’anhu, Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda,

 

مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ أَوْ أَتَى امْرَأَةً امْرَأَتَهُ حَائِضًا أَوْ أَتَى امْرَأَةً  امْرَأَتَهُ فِي دُبُرِهَا فَقَدْ بَرِئَ مِمَّا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

 

“Barangsiapa mendatangi seorang dukun kemudian membenarkan apa yang ia katakan atau mendatangi seorang wanita (isterinya saat haid), atau mendatangi seorang wanita (istrinya lewat dubur), maka ia telah berlepas diri (kafir) dari apa yang telah diturunkan kepada Muhammad” (HR. Tirmidzi 3904)

Tidak Ada Seorang pun yang Mengetahui Perkara Ghaib

1

Peristiwa yang akan datang, atau nasib seseorang kelak merupakan perkara ghaib yang tidak diketahui oleh seorang pun. Akan tetapi, tidak sedikit orang mendatangi peramal atau dukun untuk mengetahui nasib mereka atau mengubahnya menjadi lebih baik. Padahal Allah ta’ala mengabarkan bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui perkara ghaib. Bahkan, Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam pun tidak mengetahuinya, kecuali apa yang dikabarkan oleh Allah ta’ala, 

 

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

 

“Katakanlah (wahai Muhammad):Aku tidak kuasa mendatangkan kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula kuasa menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan andaikata aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (al-A’râf: 188)

Allah Ta’ala memerintahkan Rasululllah shalallahu’alaihi wa sallam agar menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Selain itu, beliau juga diperintahkan agar mengetakan bahwa beliau tidak mengetahui sedikit pun, kecuali apa yang diperlihatkan oleh Allah kepadanya. Hal tersebut sebagaimana yang telah Allah ta’ala firmankan di dalam surat Al-Jinn: 26

 

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا

 

“(Dialah) yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu” (Al-Jinn: 26)

 

Sumber:

  • Tafsir Ibnu Katsir

Orang Yang Memperolok-olok Agama Allah

0

Bagaimana hukum orang yang memperolok-olok Agama Allah? orang yang memperolok-olok atau bersenda gurau dengan salah satu syiar Islam seperti adzan, jilbab (hijab), shalat, puasa, zakat, haji, atau yang selainnya, maka orang semacam ini dihukumi kufur. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman,

 

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

 

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman…” [At Taubah : 65-66].

ayat ini memiliki sebab asbabun nuzul berkaitan dengan sekelompok orang yang tatkala itu perang Tabuk, seorang dari mereka berkata, “aku tidak melihat para Qari’ kita, melainkan mereka adalah orang-orang yang paling banyak makannya, paling dusta bicaranya, dan paling penakut jika berhadapan dengan musuh”. Maka perkara ini diadukan kepada Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam. Lalu orang tersebut datang kepada beliau yang saat itu telah berangkat dengan mengendarai untaya. Orang tersebut berkata, “Ya Rasulullah, saat itu kami hanya bermain-main.” Maka kemudian Rasulullah shalallalahu’alaihi wa sallam membacakan dua ayat di atas (At-Taubah: 65-66). Kisah ini dituliskan di dalam tafsir ibnu katsir.

 

Sumber:

  • Nawaqidhul Islam
  • Tafsir Ibnu Katsir

Hukum Menceritakan Kisah Yang Tidak Nyata Untuk Diambil Hikmahnya

0

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu

Ustadz, seringkali ana mendapatkan email yg berisikan suatu kisah/cerita yg dimaksudkan agar kita mengambil hikmah didalamnya ataupun dimaksudkan sbg dakwah.

Yg ingin ana tanyakan adalah bagaimana hukum kisah/cerita hikmah tsb jika:

  1. Kisah/cerita tsb merupakan kisah nyata.
  2. Kisah/certia tsb merupakan karangan saja.
  3. Kisah tsb merupakan kisah nyata namun berasal dari sumber non-muslim yg kemudian diubah redaksinya menjadi kisah yg “islami.”

Jazakallahu khairan

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu, wa jazakumullah khairan.

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

Untuk menjawab pertanyaan di atas, mari perhatikan beberapa poin di bawah ini:

Pertama, kisah atau cerita asal hukumnya diperbolehkan jika kisah itu benar, dalilnya adalah beberapa ayat suci yang ada di dalam Al Quran Al Karim yang menunjukkan akan kebolehan bercerita, dari ayat-ayat yang menunjukkan akan hal tersebut misalnya:

 

{ لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ}

Artinya: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”. QS. Yusuf:111.

{إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ }

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Rabb mereka; tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. QS. Al Baqarah:62.

{لَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ }

Artinya: “Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir”. QS. Al A’raf:176.

{نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَذَا الْقُرْآنَ وَإِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ}

Artinya: “Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan al-Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui”. QS. Yusuf:3.

{فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا فَلَمَّا جَاءَهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ }

Artinya: “Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan kemalu-maluan, ia berkata:”Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberi balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami”.Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya).Syu’aib berkata:”Janganlah kamu takut.Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu”. QS. Al Qashash:25.

Dan kalau kita perhatikan Al Quran Al Karim, maka akan kita dapatkan penuh dengan cerita-cerita umat-umat terdahulu, semenjak Nabi Adam sampai kepada Nabi Muhammad ‘alaihimash shalatu wassalam, agar kaum muslimin bisa mengambil pelajaran dari kisah-kisah tersebut. Wallahu a’lam

Kedua, Cerita-cerita yang ada di dalam Al Quran Al Karim, hadits-hadits yang shahih, cerita-cerita para shahabat radhiyallahu ‘anhum, para tabi’in, para ulama setelahnya rahimahumullah dengan sanad yang benar maka sudah mencukupi untuk dijadikan sebagai bahan renungan, dakwah, nasehat dan sebagainya, yang bermanfa’at bagi umat manusia khususnya umat muslim.

 

 

Ketiga, Berbohong adalah dosa besar sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama yang mengarang kitab tentang dosa-dosa besar, diantaranya Imam Adz Dzahabi dan yang lainnya rahimahumullah,karena dosa berbohong di ancam masuk neraka. Hadits-hadits yang berkenaan dengan dosa berbohong:

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا ، وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ ، حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا.

Artinya: “Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan menunjukkan kepada surga, sesungguhnya seseorang benar-benar berkata jujur sehingga ia menjadi shiddiq (orang yang terpercaya), dan sesungguhnya dusta menunjukkan kepada perbuatan dosa dan perbuatan dosa menunjukkan kepada neraka dan sungguh seseorang benar-benar berdusta sehingga ditulis di sisi Allah sebagai tukang dusta”. Hadits riwayat Bukhari dan Muslim.

مِنْ أَفْرَى الْفِرَى أَنْ يُرِىَ عَيْنَيْهِ مَا لَمْ تَرَ.

Artinya: “Termasuk dari dusta yang paling besar adalah kedua matanya memperlihatkan (menceritakan) sesuatu yang tidak pernah dilihat olehnya.” Hadits riwayat Bukhari.

فَانْطَلَقْنَا فَأَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُسْتَلْقٍ لِقَفَاهُ ، وَإِذَا آخَرُ قَائِمٌ عَلَيْهِ بِكَلُّوبٍ مِنْ حَدِيدٍ ، وَإِذَا هُوَ يَأْتِى أَحَدَ شِقَّىْ وَجْهِهِ فَيُشَرْشِرُ شِدْقَهُ إِلَى قَفَاهُ ، وَمَنْخِرَهُ إِلَى قَفَاهُ وَعَيْنَهُ إِلَى قَفَاهُ – قَالَ وَرُبَّمَا قَالَ أَبُو رَجَاءٍ فَيَشُقُّ – قَالَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ إِلَى الْجَانِبِ الآخَرِ ، فَيَفْعَلُ بِهِ مِثْلَ مَا فَعَلَ بِالْجَانِبِ الأَوَّلِ ، فَمَا يَفْرُغُ مِنْ ذَلِكَ الْجَانِبِ حَتَّى يَصِحَّ ذَلِكَ الْجَانِبُ كَمَا كَانَ ، ثُمَّ يَعُودُ عَلَيْهِ فَيَفْعَلُ مِثْلَ مَا فَعَلَ الْمَرَّةَ الأُولَى . قَالَ قُلْتُ سُبْحَانَ اللَّهِ مَا هَذَانِ… وَأَمَّا الرَّجُلُ الَّذِى أَتَيْتَ عَلَيْهِ يُشَرْشَرُ شِدْقُهُ إِلَى قَفَاهُ ، وَمَنْخِرُهُ إِلَى قَفَاهُ ، وَعَيْنُهُ إِلَى قَفَاهُ ، فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَغْدُو مِنْ بَيْتِهِ فَيَكْذِبُ الْكَذْبَةَ تَبْلُغُ الآفَاقَ.

Artinya: “lalu kami berangkat mendatangi seseorang yang berbaring terlentang, dan seorang lagi berdiri di sampingnya sambil memegang serokan besi pengait bara, lalu menghampiri muka temannya dan mengoyak mulut hingga ke tengkuknya dan tulang hidungnya hingga ke tengkuknya, dan matanya hingga ke tengkuknya, lalu dia berpindah ke sisi tubuh temannya bagian yang lain, lalu melakukan hal yang serupa, tatkala selesai mengoyak bagian kedua, sisi tubuh bagian pertama kembali seperti sedia kala, dan dia mengulanginya lagi seperti kali pertama, aku berkata: “Subhanallah (Maha suci Allah)! Siapa mereka berdua?”…”Adapun lelaki yang mulut, hidung dan matanya dikoyak hingga tengkuknya, adalah seorang yang keluar dari rumahnya, lalu memberitakan kabar bohong yang samapi ke seluruh penjuru dunia”.  HR. Bukhari

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ. رواه مسلم

Artinya: “Cukuplah seorang manusia dikatakan telah berdusta, jika ia mengatakan setiap sesuatu yang ia dengar.” Hadits riwayat Muslim

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ، وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ، وَإِنْ كَانَ مَازِحًا، وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلْقُهُ.

Artinya: “Aku penjamin sebuah rumah di kebun surga bagi siapa yang meninggalkan pertikaian meskipun ia benar, dan penjamin sebuah rumah di tengah-tengah surga bagi siapa yang meninggalkan dusta meskipun ia bercanda, dan penjamin sebuah rumah di surga yang paling tinggi bagi siapa yang baik akhlaqnya.” Hadits riwayat Abu Daud dan dihasankan oleh Imam Al Albani di dalam kitab Shahihul Jami’.

Keempat, Petunjuk terbaik adalah petunjuknya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, termasuk di dalamnya petunjuk untuk berdakwah, karena berdakwah adalah ibadah maka tidak ada contoh yang terbaik dalam berdakwah kecuali petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman:

{قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ}

Artinya: “Katakanlah, “Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. QS. Yusuf:108.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Artinya: “Amma ba’du, maka sesungguhnya sebaik-baiknya perkataan adalah Kitabullahi dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah yang mengada-ada dan setiap bid’ah itu sesat”. Hadits riwayat Muslim.

Dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah berdakwah dengan kisah-kisah bohong, begitupula para shahabat beliau radhiyallahu ‘anhum.

Bahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah menceritakan sebab kebinasaan Bani Israel, tidak lain adalah karena mereka mendongeng, berkisah

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ لمَّا هَلَكُوا قَصُّوا

Artinya: “Sesungguhnya Bani Israel ketika binasa mereka berdongeng”. HR. Ath Thabarani di dalam kitab Al Mu’jam Al Kabir dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 1681.

Ibnu Al Atsir rahimahullah berkata :

“Arti “Ketika binasa mereka berdongeng” adalah mereka bersandar kepada ucapan dan meninggalkan amal, maka hal itu penyebab kebinasaan mereka, atau kebalikannya, yaitu mereka binasa dengan meninggalkan amal dan akhirnya mereka hanya mendongeng”. Lihat kitab An Nihayah Fi Gharib al Ahadits.

Berkata Al Albani rahimahullah:

“Dapat juga dikatakan, bahwa sebab kehancuran mereka  adalah para dai mereka memperhatikan kisah-kisah dan hikayat tanpa fikih dan ilmu yang bermanfaat yang mengenalkan kepada manusia perihal agama mereka, akhirnya hal itu membawa mereka kepada amal shalih (tanpa ilmu dan pemahaman), maka ketika mereka melakukan itu mereka binasa”. Lihat kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 1681.

Berkata Ibnu Al Jauzy rahimahullah:

“Para Ahli Kisah tidak dicela dari sisi namanya ini, karena Allah Azza wa Jalla berfirman:

نَحْنُ نَقصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ القَصَص

Dan juga berfirman:

فَاقْصُص القَصَص

Tetapi para ahli kisah dicela, karena kebanyakan mereka terlalu mudah menyebutkan kisah-kisah tanpa menyebutkan ilmu yang bermanfaat, kemudian kebanyakan mereka keliru dalam penyampaian dan terkadang bersandar dengan sesuatu yang kebanyakan mustahil”. Lihat kitab Talbis Iblis, hal. 150.

Berkata Al Hafizh Al ‘Iraqy rahimahullah:

“Termasuk penyakit mereka adalah berbicara kepada kebanyakan orang awam dengan sesuatu yang tidak sampai akal mereka kepadanya, maka akhirnya mereka terprosok ke dalam keyakinan-keyakinan yang buruk, ini kalau seandainya cerita itu benar, apalagi kalau seandainya cerita itu sesuatu yang batil!!!”. Lihat kitab Tahdzir al Khawash, karya As Suyuthy, hal. 180.

Berkata Ibnu Al Jauzy rahimahullah:

“Seorang yang suka berkisah meriwayatkan kepada orang-orang awam hadits-hadits yang munkar, dia menyebutkan kepada mereka yang kalau seandainya dia mencium bau ilmu (sedikit saja dari kisah tersebut), niscaya dia tidak akan menceritakannya, akhirnya orang-orang awam keluar dari sisinya belajar hal-hal yang batil, jika ada seorang ahli ilmu yang mengingkari mereka, mereka akan menjawab: “Kami telah mendapatkan ini dengan lafazh “Akhbarana” (telah diberitahukan kepada kami) dan hadatsana (dia telah meriwayatkan kepada kami) (artinya kisah ini ada sanadnya), berapa banyak para ahli kisah merusak makhluk dengan hadits-hadits yang palsu, berapa banyak warna tubuh telah menguning gara-gara kelaparan, berapa banyak yang bertekad untuk bepergian ke sebuah tempat, berapa banyak orang yang melarang dirinya dari sesuatu yang telah dihalalkan, berapa banyak yang meninggalkan untuk meriwayatkan hadits dengan sangkaan darinya hal itu menyelisihi diri di dalam hawa nafsunya, berapa banyak orang yang menjadikan anaknya yatim dengan sikap zuhudnya padahal dia masih hidup, berapa banyak yang tidak mau bergaul dengan istrinya tidak menunaikan hak istrinya, maka akhirnya si istri bukanlah seorang yang janda bukan pula seorang yang mempunyai suami”. Lihat kitab al Maudhu’at, 1/32.

Perkataan Ibnu Al Jauzy di atas menjelaskan bahwa berapa banyak penyimpangan-penyimpangan syariat dilakukan oleh sebagian orang akibat cerita-cerita palsu yang mereka dengan dari para ahli kisah, berupa kisah zuhud, wara’ dan sebagainya.

Dari sinilah sebagian ulama terdahulu mencela para ahli kisah ini di dalam rangka berdakwah:

Ahmad bin Hanbal berkata:

“Manusia yang paling pendusta adalah para ahli kisah dan para peminta-minta, sungguh orang-orang sangat membutuhkan para ahli kisah yang jujur, karena mereka menyebutkan kematian dan siksa kubur”, kemudian beliau ditanya: “Apakah engkau menghadiri perkumpulannya?”, beliau menjawab: “Tidak”. Lihat kitab Al Adab Asy Syar’iyyah, karya Ibnu Muflih Al Hanbaly, 2/82.

InsyaAllah dari poin-poin yang sudah disampaikan di atas bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, wallahu a’lam.

 

Oleh: Ustadz Ahmad Zainuddin

Pengaruh Tabiat Istri Terhadap Cara Suami Mencari Nafkah

0

PENGARUH TABIAT ISTRI TERHADAP CARA SUAMI MENCARI NAFKAH

Imam Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:

“Aku datang kepada seorang pedagang kain di Mekkah untuk membeli baju, lalu si pedagang mulai memuji-muji dagangannya dan bersumpah, lalu akupun meninggalkannya dan aku katakan tidaklah layak beli dari orang semacam itu, lalu akupun beli dari pedagang lain.”

2 tahun setelah itu aku berhaji dan aku bertemu lagi dengan orang itu, tapi aku tidak lagi mendengarnya memuji-muji dagangannya dan bersumpah, Lalu aku tanya kepadanya:

“Bukankah engkau orang yang dulu pernah berjumpa denganku beberapa tahun lalu?”

Ia menjawab : “Iya benar”

Aku bertanya lagi:

“Apa yang membuatmu berubah seperti sekarang? Aku tidak lagi melihatmu memuji-muji dagangan dan bersumpah!”

Ia pun bercerita:

“Dulu aku punya istri yang jika aku datang kepadanya dengan sedikit rizki, ia meremehkannya dan jika aku datang dengan rizki yang banyak ia menganggapnya sedikit. Lalu Allah mewafatkan istriku tersebut, dan akupun menikah lagi dengan seorang wanita. Jika aku hendak pergi ke pasar, ia memegang bajuku lalu berkata:

‘Wahai suamiku, bertaqwalah kepada Allah, jangan engkau beri makan aku kecuali dengan yang thayyib (halal). Jika engkau datang dengan sedikit rezeki, aku akan menganggapnya banyak, dan jika kau tidak dapat apa-apa aku akan membantumu memintal (kain)’.”

Masya Allah…

Milikilah sifat Qana’ah -suka menerima- / jiwa selalu merasa cukup.

Janganlah menjadi jurang dosa bagi Suamimu. Wanita shalihah akan mendorong Suaminya kpd kebaikan, sedangkan wanita kufur akan menjadi pendorong bagi suaminya untuk berbuat dosa.

CUKUPKAN DIRI DENGAN YANG HALAL

Ukuran Rizki itu terletak pada keberkahannya, bukan pada jumlahnya

[Kitab al-Mujaalasah wa Jawaahirul ‘Ilm (5/252) karya Abu Bakr Ahmad Bin Marwan bin Muhammad ad-Dainuri al-Qodhi al-Maliki. Penerbit: Jum’iyyah at-Tarbiyyah]~

Sumber: bbg-alilmu.com

Tertolaknya Doa Seorang Hamba

0

Banyak orang yang berdoa, akan tetapi melakukan perbuatan yang menyebabkan tertolaknya doa seorang hamba. Padahal apabila tidak terpenuhi salah satu syarat tersebut, maka doa tersebut tidak dikabulkan. di antara salah satu sebab tertolaknya doa seorang hamba adalah Makanan, Minuman dan Pakaiannya berasal dari yang haram. 

Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya? (HR. Muslim 1015)

dan pada zaman sekarang ini berapa banyak orang yang mengkonsumsi makanan, minuman dan pakaian yang haram baik dari harta riba, perjudian atau harta suap yang yang lainnya. Oleh karena itu, maksiat dan makan makanan yang haram merupakan sebab tertolaknya doa seorang hamba. Begitu pula hati yang lalai dalam berdoa, itu pula salah satu penghalang.

Tujuan Diciptakannya Manusia dan Misi Tauhid Para Nabi dan Rasul

0

Segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah ﷻ pasti memiliki tujuan. Tidak ada satu pun ciptaan-Nya yang sia-sia.

Demikian pula manusia — makhluk termulia di muka bumi — diciptakan bukan tanpa maksud, tetapi untuk tujuan agung yang menjadi inti dari keberadaan hidupnya, yaitu mengabdi dan mentauhidkan Allah semata.


1. Tujuan Diciptakannya Jin dan Manusia: Untuk Beribadah kepada Allah

Allah ﷻ berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. الذاريات [Adz-Dzāriyāt]: 56)

Makna Ayat:
Menurut para ulama tafsir, ayat ini adalah dalil paling jelas bahwa seluruh makhluk diciptakan untuk tujuan penghambaan (ibadah) kepada Allah.
Artinya, inti kehidupan manusia bukan hanya mencari nafkah, belajar, atau berkeluarga — tetapi menjadikan seluruh aktivitasnya sebagai bentuk pengabdian kepada Allah.


2. Penjelasan Imam Ibnu Katsir rahimahullah

Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam تفسير القرآن العظيم (Tafsir al-Qur’an al-‘Aẓīm):

يقول تعالى مخبرا انه انما خلق الخلق ليعبدوه وحده لا شريك له، فمن اطاعه جزاه الجزاء الاوفى، ومن عصاه عذبه عذابا نكرا.

“Allah ﷻ mengabarkan bahwa Dia menciptakan makhluk hanya untuk beribadah kepada-Nya semata, tanpa menyekutukan-Nya. Barang siapa taat kepada-Nya, maka akan diberi balasan terbaik, dan barang siapa durhaka, maka akan mendapat azab yang pedih.”

(Tafsir Ibnu Katsir, Dār Ṭayyibah, jilid 7, hlm. 406)

Kemudian beliau menukil penafsiran sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā:

الا ليعبدون اي ليوحدون

“(Kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku) — maksudnya agar mereka mentauhidkan-Ku.”

(Tafsir Ibnu Katsir, Dār Ṭayyibah, jilid 7, hlm. 406)

Kesimpulan:
Tujuan penciptaan bukan semata-mata untuk ritual ibadah, melainkan agar manusia mewujudkan tauhid (pengesaan Allah) dalam setiap aspek kehidupannya.


3. Semua Nabi dan Rasul Diutus untuk Menyeru kepada Tauhid

Misi utama seluruh Nabi dan Rasul yang diutus Allah adalah sama: mengajak umatnya beribadah kepada Allah saja dan menjauhi segala bentuk kesyirikan.

Allah ﷻ berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah saja dan jauhilah thaghut.’”
(QS. النحل [An-Naḥl]: 36)

Dan juga dalam firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku saja.’”
(QS. الأنبياء [Al-Anbiyā’]: 25)


4. Tafsir Ibnu Katsir tentang Misi Tauhid Para Nabi

Dalam menafsirkan dua ayat di atas, Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

يخبر تعالى انه ارسل في كل امة رسولا يدعوهم الى عبادة الله وحده لا شريك له وينهاهم عن عبادة ما سواه من الانداد والاوثان.

“Allah ﷻ mengabarkan bahwa Dia mengutus pada setiap umat seorang rasul yang menyeru mereka agar beribadah hanya kepada Allah semata, tanpa sekutu bagi-Nya, dan melarang mereka dari menyembah selain-Nya, baik berhala maupun sesembahan lainnya.”

(Tafsir Ibnu Katsir, Dār Ṭayyibah, jilid 5, hlm. 148)

Makna Thāghūt:
Yang dimaksud dengan thaghūt adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah, baik itu manusia, jin, berhala, ideologi, atau hawa nafsu.


5. Pelajaran Penting bagi Umat Islam

Dari ayat-ayat dan tafsir di atas, dapat disimpulkan:

  1. Tujuan hidup manusia dan jin adalah beribadah kepada Allah — bukan sekadar ritual, tapi pengabdian total dalam seluruh aspek kehidupan.

  2. Seluruh Nabi dan Rasul memiliki satu dakwah utama: Tauhid — menyeru umatnya untuk menyembah Allah semata dan menjauhi syirik.

  3. Tauhid adalah inti risalah Islam, sedangkan syirik adalah dosa terbesar yang menghapus amal.


Referensi Lengkap

  1. Al-Qur’an: QS. Adz-Dzāriyāt [51]: 56, QS. An-Naḥl [16]: 36, QS. Al-Anbiyā’ [21]: 25.

  2. Tafsir al-Qur’an al-‘Aẓīm — Imam Ibnu Katsir, Dār Ṭayyibah, Riyadh, jilid 5 & 7.

  3. Tafsīr al-BaghawīMa‘ālimut Tanzīl, bab Tafsir Adz-Dzāriyāt: 56.

  4. Kitāb at-Tauhīd — Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhāb, bab tentang tujuan penciptaan manusia.

  5. Syaikh Shalih al-Fauzan, Syarh Kitāb at-Tauhīd, Dārul ‘Āṣimah, bab 1.

 

Doa Memakai Pakaian

0

Doa memakai pakaian ini diriwayatkan dari sahabat Muadz bin Anas radhiallaahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “barangsiapa memakai baju lalu membaca doa:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَسَانِي هَذَا الثَّوْبَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ

ALHAMDULILLAHIL LADZII KASAANII HADZA ATS TSAUBA WA RAZAQANIIHI MIN GHAIRI HAULIN MINNI WA LAA QUWWATIN

(Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pakaian ini kepadaku sebagai rizki, tanpa daya dan kekuatan dariku)

Maka akan diampuni dosanya yang lalu dan yang akan datang” (HR. Abu Daud no. 4023)

 

Larangan Mencukur Rambut dan Memotong Kuku Bagi Pekurban

0

Seperti kita ketahui bahwa bulan Dzulhijjah identik dengan hari raya kurban (Idul ‘Adha), dan disunnahkan -bagi yang mampu- untuk berkurban baik itu unta, kambing, domba, ataupun sapi. Akan tetapi, ada larangan mencukur rambut dan memotong kuku bagi pekurban dari Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam. Hal ini yang berlaku pada perkurban. Lantas bagaimana untuk anggota keluarganya? apakah mereka juga terkena larangan tersebut?

عن أم سلمة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِي الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ

Dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anhaa bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Jika kalian melihat hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin menyembelih (kurban) maka hendaknya dia tidak memotong rambut dan kukunya” (HR Muslim no 1977)

Dalam riwayat yang lain :

مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فَإِذَا أَهَلَّ هِلاَلُ ذِي الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّيَ

“Barang siapa yang memiliki hewan sembelihan yang akan ia sembelih maka jika telah nampak hilal bulan Dzulhijjah maka janganlah ia memotong rambutnya dan kukunya sedikitpun hingga ia menyembelih” (HR Muslim no 1977)

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz -rahimahullaah- berkata, “Keluarga shohibul qurban tidak punya kewajiban apa-apa.  Keluarganya tidak dilarang dari mencukur rambut dan memotong kuku, demikian pendapat yang tepat dari pendapat yang ada. Larangan tadi hanya berlaku untuk orang yang berqurban secara khusus di mana ia adalah yang membeli qurban dengan hartanya.” (Fatawa Islamiyah, 2: 316).

Ulama Al Lajnah Ad Daimah (Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia) menerangkan, “Disyari’atkan bagi orang yang hendak berqurban jika telah masuk 1 Dzulhijjah, hendaklah ia tidak memotong rambut kepala dan kukunya, juga rambut pada tubuhnya hingga ia berqurban.

Oleh karena itu, larangan tersebut hanya berlaku pada perkurban, tidak berlaku pada anggota keluarga lainnya dari pekurban.