Tathirul I’tiqad (3): Pembagian Tauhid Rububiyyah dan Uluhiyyah Menurut Ash-Shan’ani

0
8

Dalam Tathīrul I‘tiqād ‘an Adrān al-Ilhād, Imām Muḥammad bin Ismā‘īl ash-Shan‘ānī رحمه الله menaruh perhatian khusus pada pemurnian akidah dari segala bentuk kesyirikan dan bid‘ah. Salah satu pilar utama kitab ini adalah penjelasan tentang pembagian tauhid—khususnya tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah (ibadah).


1. Tauhid Terbagi Menjadi Dua

Ash-Shan‘ani menjelaskan pembahasan ini pada al-aṣl ats-tsālith dalam Tathīrul I‘tiqād dengan ungkapan:

الاصل الثالث اقسام التوحيد ان التوحيد قسمان القسم الاول توحيد الربوبية والخالقية والرازقية ونحوها

“Pokok ketiga: pembagian tauhid. Sesungguhnya tauhid itu ada dua bagian. Bagian pertama adalah tauhid rububiyyah, penciptaan, pemberian rezeki dan semisalnya.”

Kemudian beliau melanjutkan:

والقسم الثاني توحيد العبادة ومعناه افراد الله وحده بجميع انواع العبادات

“Adapun bagian kedua adalah tauhid ibadah; maknanya adalah mengesakan Allah semata dalam seluruh jenis ibadah.”


2. Tauhid Rububiyyah

2.1 Definisi Tauhid Rububiyyah

Syaikh ‘Abdul-‘Azīz ar-Rājihī menjelaskan makna tauhid rububiyyah:

توحيد الربوبية ان توحد الله بافعال الرب كالخلق والرزق والاحياء والاماتة وتدبير الامر كله

“Tauhid rububiyyah adalah engkau mengesakan Allah dalam perbuatan-perbuatan rububiyyah, seperti mencipta, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, dan mengatur seluruh urusan.”

Jadi, inti tauhid rububiyyah adalah meyakini bahwa hanya Allah yang:

    • menciptakan seluruh makhluk,
    • mengatur alam semesta,
    • memberi rezeki,
    • menghidupkan dan mematikan,
    • men-takdir-kan segala sesuatu.

Ash-Shan‘ani menegaskan bahwa bentuk tauhid ini diakui bahkan oleh orang-orang musyrik di zaman Nabi, mereka mengakui Allah sebagai Pencipta dan Pengatur, namun tetap beribadah kepada selain-Nya.

2.2 Dalil Al-Qur’an tentang Rububiyyah

Di antara ayat yang menunjukkan tauhid rububiyyah adalah firman Allah Ta‘ālā:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ

“Wahai manusia, ingatlah nikmat Allah atas kalian. Adakah pencipta selain Allah yang memberi rezeki kepada kalian dari langit dan bumi? Tiada ilah (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kalian dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Fāṭir: 3)

Ayat ini menggabungkan dua hal sekaligus:

    1. Pengakuan rububiyyah: hanya Allah Pencipta dan Pemberi rezeki.
    2. Konsekuensi uluhiyyah: karena hanya Allah yang mencipta dan memberi rezeki, maka hanya Dia pula yang berhak disembah.

2.3 Pengakuan Rububiyyah Tidak Cukup

Para ulama menjelaskan bahwa tauhid rububiyyah wajib diimani, tetapi tidak cukup untuk memasukkan seseorang ke dalam Islam jika tidak disertai tauhid uluhiyyah.

Syaikh Ṣāliḥ al-Fauzān dalam Sabīlur Rasyād ketika membahas jenis-jenis tauhid menekankan bahwa orang-orang musyrik dahulu mengakui rububiyyah Allah, namun tetap disifati musyrik dan diperangi, karena mereka menjadikan sekutu dalam ibadah, bukan dalam rububiyyah.

Dengan kata lain, Mengakui Allah sebagai Pencipta saja tidak menjadikan seseorang sebagai muwahhid, sampai ia mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya.


3. Tauhid Uluhiyyah (Ibadah): Fokus Utama Dakwah Para Rasul

3.1 Definisi Tauhid Uluhiyyah

Ash-Shan‘ani menyebut jenis tauhid kedua sebagai “tawḥīd al-‘ibādah” yang disebut juga tauhid uluhiyyah.

والقسم الثاني توحيد العبادة ومعناه افراد الله وحده بجميع انواع العبادات

“Bagian kedua adalah tauhid ibadah; maknanya adalah mengesakan Allah semata dalam seluruh jenis ibadah.”

Syaikh ar-Rājihī menjelaskan:

وتوحيد الالوهية ان توحد الله بافعالك انت ايها العبد فتقصد بصلاتك وصومك وسائر عباداتك وجه الله وحده

“Tauhid uluhiyyah adalah engkau mengesakan Allah dalam perbuatan-perbuatanmu, wahai hamba! Maka engkau menghadap dengan shalatmu, puasamu, dan seluruh ibadahmu hanya kepada Allah semata.”

Dari sini, tampak bahwa:

    1. Rububiyyah: terkait perbuatan Allah (mencipta, memberi rezeki).
    2. Uluhiyyah: terkait perbuatan hamba (shalat, doa, nadzar, istighāṡah, tawakal, cinta, takut, harap, dsb) yang harus diikhlaskan hanya untuk Allah.

3.2 Dalil Al-Qur’an: Misi Semua Rasul

Tauhid uluhiyyah inilah fokus utama dakwah seluruh rasul. Allah Ta‘ālā berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (wahai Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku.” (QS. al-Anbiyā’: 25)

Ayat ini menegaskan bahwa inti risalah semua nabi adalah:

“lā ilāha illā Allāh”tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah.

3.3 Dalil Hadits: Hak Allah atas Hamba

Rasulullah ﷺ menjelaskan hubungan antara tauhid uluhiyyah dan keselamatan akhirat dalam hadits Mu‘ādz bin Jabal رضي الله عنه:

فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Sesungguhnya hak Allah atas para hamba adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.”

Hadits ini sejalan dengan pembahasan ash-Shan‘ani: hak Allah itu adalah tauhid uluhiyyah, bukan sekadar pengakuan rububiyyah.


4. Hubungan Rububiyyah dan Uluhiyyah: Tidak Boleh Dipisah

Para ulama menjelaskan bahwa tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah saling terkait erat:

  • Barangsiapa mentauhidkan Allah dalam rububiyyah, wajib baginya untuk mentauhidkan Allah dalam ibadah.
  • Barangsiapa beribadah kepada selain Allah, berarti ia tidak jujur dalam pengakuan rububiyyah, karena logika yang lurus menuntut: yang mencipta dan memberi rezeki, itulah yang berhak disembah.

Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah رحمه الله memberikan definisi penting tentang ibadah, yang menjadi inti tauhid uluhiyyah:

العبادة اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الاقوال والاعمال الظاهرة والباطنة

“Ibadah adalah nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, berupa ucapan dan perbuatan, lahir maupun batin.”

Dari definisi ini, kita memahami bahwa tauhid uluhiyyah berarti:

Tidak ada satu pun jenis ibadah — doa, sujud, istighāṡah, tawakal, nadzar, menyembelih, takut, cinta, khusyuk, dan selainnya — yang dipersembahkan kepada selain Allah.

Dalam Taufīq Rabbil ‘Ibād, Syaikh ar-Rājihī menjelaskan bahwa pembagian ini bukanlah “bid‘ah dalam pembagian”, tetapi hasil pengamatan terhadap nash-nash syar‘i: ada ayat-ayat yang menekankan rububiyyah, ada yang menekankan uluhiyyah, dan ada yang menggabungkan keduanya.

Sedangkan Syaikh al-Fauzān dalam Sabīlur Rasyād menegaskan bahwa:

    1. Tauhid rububiyyah dan asma’ wa shifat sering digabung dalam istilah “tauhid ma‘rifah wa itsbāt”.
    2. Tauhid uluhiyyah kadang disebut “tauhid al-‘ibādah wa al-qaṣd”.

Tujuannya sama: menerangkan sisi “mengenal Allah” dan sisi “beribadah kepada Allah” secara seimbang, agar kaum muslimin tidak tertipu dengan pengakuan rububiyyah tapi tetap bergelimang syirik dalam amal.


5. Kesimpulan

Dari penjelasan ash-Shan‘ani dan para ulama lainnya, ada beberapa pelajaran penting yang sangat relevan untuk konteks kekinian:

  1. Tidak cukup hanya berkata, “Saya percaya Tuhan”
    • Pengakuan bahwa Allah Pencipta dan Pemberi rezeki belum otomatis dianggap tauhid yang menyelamatkan, jika masih ada doa kepada kubur, jin, wali, atau makhluk lain.
  2. Fokus dakwah para rasul adalah memurnikan ibadah

    • Ayat “لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ” menunjukkan bahwa misi utama mereka adalah tauhid uluhiyyah, bukan sekadar mengajak manusia mengakui keberadaan Tuhan.

  3. Syirik terbesar terjadi di ranah uluhiyyah

    • Seperti yang diisyaratkan oleh ash-Shan‘ani dalam bagian lain kitabnya, kesyirikan yang meluas di tengah umat adalah meminta, bernazar, menyembelih, dan beristighāṡah kepada selain Allah, meskipun lisan tetap mengucapkan “lā ilāha illā Allāh”.

  4. Memahami pembagian tauhid membantu membaca realitas

    • Kita bisa membedakan: mana wilayah akidah rububiyyah (keyakinan terhadap takdir, penciptaan, rezeki), dan mana wilayah tauhid uluhiyyah (ibadah lahir-batin).

    • Kekeliruan sering terjadi ketika orang mencampur keduanya, lalu berargumentasi: “Kami tidak menyembah mereka, hanya menjadikannya perantara,” padahal praktiknya adalah bentuk ibadah kepada selain Allah.

Semoga pembahasan ini membantu kita untuk:

    1. tidak puas hanya dengan pengakuan rububiyyah,
    2. tetapi bersungguh-sungguh memurnikan tauhid uluhiyyah,
    3. sehingga ibadah kita—doa, sujud, cinta, takut, harap, nadzar, isti‘ānah, istighāṡah—hanya kita tujukan kepada Allah Ta‘ālā.


Referensi

  1. Al-Imam Muhammad bin Isma‘il Al-Amir Ash-Shan‘ani, Tathīrul I‘tiqād ‘an Adrānil Ilhād, Riyadh: Ar-Ri’āsah Al-‘Āmmah lil-Buḥūts Al-‘Ilmiyyah wal-Iftā’
  2. Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan, Sabīlur Rasyād fī Syarh Tathīril I‘tiqād ‘an Adrānil Ilhād, Dār Ibn Al-Jawzī
  3. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Ar-Rājihī, Tawfīq Rabbil ‘Ibād fī Syarh Kitāb Tathīril I‘tiqād ‘an Adrānil Ilhād liṣ-Ṣan‘ānī, Dār Ibn Al-Jawzī

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Mohon masukkan nama anda di sini