Tathirul I’tiqad (4): Mengapa Pengakuan “Allah Pencipta” Belum Cukup?

0
7

Salah satu poin penting dalam Tathīrul I‘tiqād ‘an Adrānil Ilḥād karya Imām ash-Shan‘ānī adalah penjelasan bahwa sekadar mengakui “Allah Pencipta” tidak menjadikan seseorang mukmin dan muwahhid.


1. Kaum Musyrikin Mengakui Rubūbiyyah, Tapi Tetap Kafir

Ash-Shan‘ānī menjelaskan bahwa orang-orang musyrik yang diperangi Nabi ﷺ tidak mengingkari bahwa Allah adalah Pencipta, Pemberi rezeki, Pengatur alam semesta. Mereka mengakui tauhid rubūbiyyah, namun tetap dihukumi musyrik karena mereka menyekutukan Allah dalam ibadah (tauhid ulūhiyyah).

Beliau berkata:

اذا تقرر عندك ان المشركين لم ينفعهم الاقرار بالله مع اشراكهم الانداد من المخلوقين معه في العبادة

“Jika telah tetap di sisimu bahwa orang-orang musyrik tidaklah bermanfaat bagi MEREKA pengakuan kepada Allah sementara mereka menyekutukan tandingan-tandingan dari makhluk bersama-Nya dalam ibadah…”

hal ini menjadi jelas: Mengapa pengakuan “Allah Pencipta” belum cukup?
Karena inti tauhid yang menjadi misi para rasul adalah ibadah hanya kepada Allah, bukan sekadar mengakui Allah sebagai Rabb.


2. Dalil Al-Qur’an: Musyrikin Mengakui Allah Pencipta

Al-Qur’an dengan sangat jelas mengabarkan bahwa musyrikin Quraisy mengakui Allah sebagai Pencipta dan Pengatur, namun tetap disebut musyrik dan kafir.

1) Mereka mengakui Allah menciptakan langit dan bumi

Allah Ta‘ālā berfirman:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan sungguh jika engkau (wahai Muhammad) bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Niscaya mereka menjawab: ‘Allah.’ Katakanlah: ‘Segala puji bagi Allah,’ tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Luqmān: 25)

2) Mereka mengakui Allah Pencipta mereka sendiri

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ فَأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

“Dan sungguh, jika engkau bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan mereka?’ Niscaya mereka menjawab: ‘Allah.’ Maka bagaimana mereka dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. az-Zukhruf: 87)

3) Mereka mengakui Allah sebagai Pemberi rezeki dan Pengatur

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang memiliki pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah.’ Maka katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?’” (QS. Yūnus: 31)

4) Namun mereka tetap musyrik

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ

“Dan kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan-Nya.” (QS. Yūsuf: 106)

Ayat-ayat ini menjadi landasan utama ash-Shan‘ānī ketika menjelaskan bahwa tauhid rubūbiyyah saja tidak cukup, karena musyrikin juga mengakuinya.


3. Penjelasan Syaikh Al-Fauzan dan Syaikh Ar-Rajihi

1) Penjelasan Syaikh al-Fauzān dalam Sabīlur Ras̱yād

Dalam syarahnya, Syaikh Ṣāliḥ al-Fauzān menegaskan bahwa pengakuan rubūbiyyah adalah fitrah, namun tidak memasukkan seseorang ke dalam Islam kecuali jika berlanjut menjadi tauhid ulūhiyyah (ibadah). Intinya:

اخبر الله تعالى في كتابه العزيز ان المشركين مقرون بتوحيد الربوبية وانه خالقهم وخالق كل شيء لكن لم ينفعهم ذلك لشركهم بالله تعالى في توحيد الالوهية والعبادة

“Allah Ta‘ālā mengabarkan dalam Kitab-Nya bahwa orang-orang musyrik itu mengakui tauhid rubūbiyyah dan bahwa Dia Pencipta mereka dan Pencipta segala sesuatu. Namun pengakuan ini tidak bermanfaat bagi mereka karena mereka berbuat syirik kepada Allah dalam tauhid ulūhiyyah dan ibadah.”

Maknanya:

    1. Kaum Musyrikin mengatahui Allah yang mencipta dan mengatur,
    2. Tapi mereka tetap beribadah kepada selain Allah (berdoa, bernazar, menyembelih, tawaf),
    3. Sehingga mereka tetap dihukumi musyrik.

2) Penjelasan Syaikh ar-Rājihī dalam Taufīq Rabbil ‘Ibād

Syaikh ‘Abdul-‘Azīz ar-Rājihī menjelaskan bahwa pokok keempat dalam Tathīrul I‘tiqād adalah:

ان المشركين مقرون بان الله خالق السموات والارض وانه الرازق المحيي المميت المدبر للامور ومع ذلك حكم الله بكفرهم لشركهم في عبادته

“Bahwa orang-orang musyrik itu mengakui bahwa Allah adalah Pencipta langit dan bumi, bahwa Dia Maha Pemberi rezeki, yang menghidupkan dan mematikan, dan yang mengatur segala urusan. Namun demikian Allah tetap menghukumi mereka kafir karena kesyirikan mereka dalam ibadah kepada-Nya.”

Syaikh ar-Rājihī juga menegaskan bahwa pokok keempat ini merupakan kelanjutan dari penjelasan sebelumnya tentang pembagian tauhid rubūbiyyah dan ulūhiyyah, agar tidak ada yang tertipu dengan sekadar pengakuan rubūbiyyah:

هذا هو الاصل الرابع من الاصول التي ذكرها المؤلف وهو ان المشركين مقرون بان الله خالق كل شيء ولكن المطلوب منهم هو افراد الله بالعبادة لا مجرد الاقرار بالربوبية

“Inilah pokok keempat dari pokok-pokok yang disebutkan oleh penulis, yaitu bahwa orang-orang musyrik mengakui bahwa Allah Pencipta segala sesuatu. Akan tetapi yang dituntut dari mereka adalah mengesakan Allah dalam ibadah, bukan sekadar pengakuan rubūbiyyah.”


4. Kesaksian Ulama Lain: Tauhid Rubūbiyyah Saja Tidak Cukup

1. Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah

Ibnu Taimiyyah rahimahullāh menjelaskan bahwa tauhid rubūbiyyah yang diakui oleh seluruh manusia tidak cukup untuk menyelamatkan:

فاما توحيد الربوبية الذي اقر به الخلق وقرره اهل الكلام فلا يكفي وحده بل هو من الحجة عليهم

“Adapun tauhid rubūbiyyah yang diakui oleh makhluk dan ditegaskan oleh ahli kalam, maka ia tidak cukup sendirian; bahkan ia menjadi hujjah atas mereka.”

Artinya, pengakuan “Allah Pencipta” akan menjadi bukti yang memberatkan di hari kiamat, bila tidak diikuti dengan ibadah hanya kepada-Nya.

2. Syaikh asy-Syanqīṭī

Syaikh Muḥammad al-Amīn asy-Syanqīṭī rahimahullāh menjelaskan:

والايات الدالة على ان المشركين مقرون بربوبيته جل وعلا ولم ينفعهم ذلك لاشراكهم معه غيره في حقوقه جل وعلا كثيرة

“Ayat-ayat yang menunjukkan bahwa orang-orang musyrik mengakui rubūbiyyah-Nya ‘azza wa jalla—sedangkan pengakuan itu tidak bermanfaat bagi mereka karena mereka menyekutukan-Nya dalam hak-hak-Nya ‘azza wa jalla—itu sangat banyak.”

Ini semakin menegaskan: Masalah utama musyrikin bukan pada pengakuan rubūbiyyah, tapi pada ibadah yang mereka tujukan kepada selain Allah


5. Hadits: Hak Allah atas Hamba

Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada Mu‘ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu hak Allah yang paling mendasar, yaitu tauhid ulūhiyyah:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
«يَا مُعَاذُ، أَتَدْرِي مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ؟» قُلْتُ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: «حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا»

“Wahai Mu‘ādz, tahukah engkau apa hak Allah atas hamba-hamba-Nya?” Aku menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” (HR. al-Bukhārī dan Muslim)

Hadits ini selaras dengan pokok keempat dalam Tathīrul I‘tiqād:

    1. Bukan sekadar mengakui Allah Pencipta,
    2. Tapi mengkhususkan ibadah hanya kepada-Nya.

6. Kesimpulan

Dari penjelasan ash-Shan‘ānī dan para ulama lainnya, dapat disimpulkan beberapa poin penting:

  1. Tauhid rubūbiyyah diakui hampir semua manusia
    Bahkan kaum musyrik Quraisy pun mengakui Allah Pencipta, Pemberi rezeki, dan Pengatur alam

  2. Tauhid ulūhiyyah adalah inti dakwah para rasul
    Yaitu mengkhususkan doa, istighātsah, nazar, sembelihan, tawaf, rasa takut, dan harap hanya kepada Allah. Inilah fokus Tathīrul I‘tiqād.

  3. Pengakuan rubūbiyyah tanpa tauhid ulūhiyyah tidak menyelamatkan
    Inilah yang dinyatakan ash-Shan‘ānī dalam perkataannya bahwa pengakuan musyrikin “لم ينفعهم الاقرار بالله” (tidak bermanfaat bagi mereka pengakuan kepada Allah) selama mereka tetap menyekutukan-Nya.

  4. Pengakuan rubūbiyyah justru menjadi hujjah atas orang yang tetap berbuat syirik
    Karena ia mengakui bahwa hanya Allah yang mencipta, memberi rezeki, mengatur, namun dalam ibadah masih bergantung kepada selain-Nya
  5. Realitas hari ini sangat mirip dengan yang digambarkan ash-Shan‘ānī
    Banyak kaum muslimin:

    • Mengakui Allah sebagai Rabb dan Pencipta,

    • Tapi dalam ibadah: meminta kepada kuburan, wali, orang “alim ghaib”, atau benda-benda yang dianggap keramat.
      Inilah fenomena yang ingin dibersihkan oleh ash-Shan‘ānī dalam Tathīrul I‘tiqād

  6. Mengucap “Allah Pencipta”, “Allah Pengatur”, “Allah Maha Kuasa” belum cukup untuk disebut muwahhid, sampai seorang hamba benar-benar memurnikan ibadah hanya kepada Allah dan meninggalkan segala bentuk penyekutuan, baik kepada malaikat, nabi, wali, jin, maupun selainnya.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang benar-benar merealisasikan:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. al-Fātiḥah: 5)

Āmīn.


Referensi

  1. Al-Imam Muhammad bin Isma‘il Al-Amir Ash-Shan‘ani, Tathīrul I‘tiqād ‘an Adrānil Ilhād, Riyadh: Ar-Ri’āsah Al-‘Āmmah lil-Buḥūts Al-‘Ilmiyyah wal-Iftā’
  2. Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan, Sabīlur Rasyād fī Syarh Tathīril I‘tiqād ‘an Adrānil Ilhād, Dār Ibn Al-Jawzī
  3. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Ar-Rājihī, Tawfīq Rabbil ‘Ibād fī Syarh Kitāb Tathīril I‘tiqād ‘an Adrānil Ilhād liṣ-Ṣan‘ānī, Dār Ibn Al-Jawzī
  4. Aḥmad bin ‘Abdul-Ḥalīm Ibn Taimiyyah, Majmū‘ al-Fatāwā
  5. Muḥammad al-Amīn asy-Syanqīṭī, Aḍwā’ul-Bayān fī Īḍāḥil-Qur’ān bil-Qur’ān, Dārul-‘Ilm,

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Mohon masukkan nama anda di sini