Home Blog Page 6

Faktor Pendukung Utama Memperoleh Kebaikan — Lapangnya Dada sebagai Kunci Hidayah

0

Setiap hamba mendambakan kebaikan dan hidayah dari Allah ﷻ. Namun, tidak semua orang mampu menerimanya dengan hati yang tenang.
Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah menyebutkan bahwa lapangnya dada (انشراح الصدر) adalah faktor pendukung utama bagi seorang hamba dalam memperoleh dan menapaki jalan kebaikan.

Ketika hati lapang, seseorang akan lebih mudah menerima perintah Allah, sabar menghadapi ujian, dan tunduk pada kebenaran.


Penjelasan Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr

Dalam kitabnya عشرة أسباب لانشراح الصدر (‘Asyaratu Asbāb li-Insyirāḥiṣ Ṣadr), Syaikh Abdurrazzaq menyebutkan:

إِنَّ انْشِرَاحَ الصَّدْرِ يُعَدُّ مِنْ أَهَمِّ الْعَوَامِلِ وَالْأَسْبَابِ الَّتِي تُعِينُ الْعَبْدَ عَلَى نَيْلِ الْخَيْرِ وَالتَّوْفِيقِ.

“Sesungguhnya lapangnya dada merupakan salah satu faktor terpenting dan sebab terbesar yang membantu seorang hamba untuk memperoleh kebaikan dan taufik dari Allah.”

(‘Asyaratu Asbāb li-Insyirāḥiṣ Ṣadr, hal. 7)

Keterangan:
Lapang dada (insyirah) berarti ketenangan hati, kebersihan jiwa, dan kesiapan menerima kebenaran, yang Allah karuniakan kepada hamba-hamba-Nya yang bertauhid dan beriman.


Dalil dari Kisah Nabi Musa ‘Alaihissalām

Ketika Allah ﷻ mengutus Nabi Musa ‘alaihis-salām untuk menghadapi Fir‘aun yang zalim dan sombong, beliau tidak meminta kekuasaan atau bala tentara, melainkan memohon kelapangan dada agar kuat menjalankan amanah dakwah.

Allah ﷻ berfirman:

رَبِّ ٱشْرَحْ لِى صَدْرِى وَيَسِّرْ لِىٓ أَمْرِى

“Wahai Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku.”
(QS. Ṭāhā [20]: 25–26)

Makna:
Permohonan Nabi Musa ini menunjukkan bahwa kelapangan dada adalah bekal utama dalam berdakwah dan menjalankan perintah Allah.
Tanpa dada yang lapang, seseorang akan mudah marah, sempit pikirannya, dan lemah menghadapi ujian.


Dalil dari Rasulullah ﷺ

Allah ﷻ juga menganugerahkan kelapangan dada kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagai bentuk pertolongan dan persiapan menghadapi beban risalah kenabian.

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?”
(QS. الشرح [Al-Insyirah]: 1)

Makna Tafsir:
Menurut para mufassir, ayat ini bermakna pembersihan hati Rasulullah ﷺ dari segala kesempitan, kesedihan, dan keraguan, serta pengisian dengan iman, hikmah, dan keteguhan.
Inilah bentuk lapangnya dada yang sempurna — hati yang penuh keyakinan dan keridhaan kepada Allah.


Lapangnya Dada dan Kaitannya dengan Hidayah

Syaikh Abdurrazzaq menegaskan bahwa lapangnya dada adalah tanda hidayah, sedangkan sempitnya dada adalah tanda kesesatan dan penolakan terhadap kebenaran.

Hal ini sebagaimana firman Allah ﷻ:

فَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يَهْدِيَهُۥ يَشْرَحْ صَدْرَهُۥ لِلْإِسْلَـٰمِۖ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُۥ يَجْعَلْ صَدْرَهُۥ ضَيِّقًا حَرَجًۭا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى ٱلسَّمَآءِ

“Barang siapa Allah kehendaki untuk mendapat petunjuk, niscaya Dia lapangkan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barang siapa Allah kehendaki untuk disesatkan, niscaya Dia jadikan dadanya sempit lagi sesak, seakan-akan ia mendaki ke langit.”
(QS. الأنعام [Al-An‘ām]: 125)

Makna Ayat:
Orang yang beriman dan ikhlas akan Allah beri keluasan dada untuk menerima kebenaran.
Sebaliknya, orang yang berpaling dari tauhid akan merasa sempit, gelisah, dan jauh dari ketenangan.


Kesimpulan

Poin Penting Penjelasan
Faktor utama kebaikan Lapangnya dada (insyirah)
Makna lapang dada Ketenangan hati, kesiapan menerima perintah Allah
Contoh dari Nabi Musa Berdoa agar dilapangkan dada dalam berdakwah
Contoh dari Nabi Muhammad ﷺ Allah melapangkan dadanya agar mampu memikul risalah
Tanda hidayah Dada yang lapang menerima Islam dan kebenaran

Referensi Lengkap:

  1. عشرة أسباب لانشراح الصدر (‘Asyaratu Asbāb li-Insyirāḥiṣ Ṣadr) — Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr, cet. Dārul Kutub Al-‘Ilmiyyah, hal. 7.

  2. Al-Qur’an: QS. Ṭāhā: 25–26, QS. Al-Insyirah: 1, QS. Al-An‘ām: 125.

  3. Tafsir Ibn Katsir, bab Tafsir Surah Asy-Syarh.

  4. Tafsir As-Sa‘di, bab Surah Thaha dan Al-Insyirah.

Baiknya Rumah Tangga Menjadi Sebab Baiknya Umat

0

Keluarga adalah pondasi utama bagi tegaknya umat Islam. Dari rumah tangga yang baik akan lahir generasi yang beriman, berakhlak mulia, dan berkontribusi bagi kemajuan umat. Sebaliknya, rusaknya keluarga menjadi awal dari rusaknya masyarakat dan lemahnya umat.

Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Namd mengatakan,

فإن صلاح البيوت صلاح للأمة، و صلاح الأمة هو السبب الأعظم لغزتها و كرامتها

“Sesungguhnya kebaikan rumah tangga merupakan kebaikan pula bagi umat, dan kebaikan umat merupakan sebab terbesar kuat dan mulianya umat tsb.”

Umat Islam tidak akan menjadi baik kecuali bila rumah-rumah tangganya baik. Sebuah rumah tangga tidak akan menjadi baik kecuali bila suami dan istri sama-sama istiqamah dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala, menunaikan hak dan kewajiban, serta menanamkan nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrīm: 6)

Ayat ini menegaskan bahwa setiap kepala keluarga memiliki tanggung jawab spiritual untuk membimbing keluarganya menuju jalan keselamatan dunia dan akhirat.

Ketika semua sebab itu terjadi, maka berbagai masalah pun akan semakin berkurang atau bahkan hilang sama sekali. Sehingga ketenangan pun akan turun, kasih sayang dan rahmat akan datang.

Kesimpulan

Kebaikan umat Islam tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi dan politik, tetapi dimulai dari kekuatan moral dan spiritual dalam rumah tangga. Ketika suami dan istri menegakkan nilai Islam, saling menasihati dalam kebaikan, dan mendidik anak dengan iman, maka umat akan menjadi kuat dan mulia.

Keluarga adalah madrasah pertama bagi pembentukan karakter, akhlak, dan keimanan. Maka perbaikilah rumah tanggamu, karena baiknya rumah tangga adalah sebab baiknya umat.

Referensi:

  1. Min Akhtho’i Al-Azwāj — Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Namd.

  2. Tafsir Ibnu Katsir, penjelasan QS. Ar-Rum: 21.

  3. Riyadhus Shalihin — Imam An-Nawawi, Bab “Hak Suami Istri”.

  4. Al-Qur’an: QS. At-Tahrīm: 6 dan QS. Ar-Rum: 21.

  5. Sunan At-Tirmidzi, hadis no. 3895.

Waktu dan Tata Cara Shalat Id Menurut Mazhab Syafii

0

⚠️ *Waktu dan Tata Cara Shalat Id*

▶️ *Waktu Shalat Id*
Waktu shalat Id dimulai dengan terbitnya matahari dan seterusnya hingga tergelincirnya matahari. Waktu yang paling disukai ketika naiknya matahari seukuran tombak, sebagaimana Rasulullaah ﷺ terus menerus shalat pada waktu tersebut.

▶️ *Tata Cara Shalat Id*
Shalat Id adalah dua rakaat, bertakbir di awal setelah membaca doa istiftaah dan sebelum membaca ta’awudz, sebanyak 7 takbir selain takbiratul ihram dan selain takbir rukuk.

Pada rakaat kedua imam bertakbir sebanyak 5 takbir selain takbir bangkit (berdiri) dari sujud dan selain takbir untuk rukuk.

Maka apabila imam memulai dengan al-fatihah dan lupa melakukan takbir dan telah berlalu waktu untuk bertakbir, adapun apabila memulai dengan isti’adzah maka tidak terlewat waktu takbir.

Dan walaupun imam meninggalkan takbir (tambahan yang 7 dan 5 takbir) maka tidaklah sujud sahwi, karena takbir tsb bukanlah dari sunnah ab’adh dalam shalat (sunnah ab’adh: amalan shalat yang wajib ditutupi kekurangannya dengan sujud sahwi)

Dan memisahkan di antara setiap dua takbir dengan ucapan dzikir secara sirr (lirih atau perlahan): “subhanallaah, alhamdulillaah, laa ilaaha illallaah, allahu akbar”

Kemudian setelahnya (setelah membaca dzikir yg sirr) barulah bertakbir kembali dengan jahr (mengeraskan suara).

Dan apabila ketika menghadiri musholla (lapangan) dan imam telah selesai melakukan takbir atau sebagian dari takbir (takbir yg tambahan), maka janganlah menyempurnakannya (menutupi kekurangan takbirnya), karena hal tersebut dzikir yang sunnah (dzikir di antara takbir) yang telah terlewat tempatnya maka tidak ada baginya untuk menyempurnakannya.

Dan apabila telah terlewat waktu shalat id (tertinggal shalat id, telah selesai shalat id) maka shalatlah qodho dan bertakbir (yg tambahan).

Takbir yg tambahan merupakan haiat (haiat: tidak perlu ditutupi dengan sujud sahwi) dan waktu takbir yg tambahan adalah sebelum membaca surat al-fatihah.

Kemudian setelah imam bertakbir dengan takbir yang tujuh pada rakaat pertama, dan begitu juga setelah takbir yang lima pada rakaat kedua, maka membaca ta’awudz (memohon perlindungan kepada Allah dari syaithon), dan membaca surat al-fatihah.

Dan disunnahkan setelah membaca al-fatihah di *rakaat pertama membaca surat Qaf*, dan pada *rakaat kedua membaca surat Al-Qamar*,

atau disunnahkan juga *membaca surat al-A’la pada rakaat pertama* dan *surat al-Ghosyiyyah pada rakaat kedua*

Dan disunnahkan mengeraskan bacaan Al-Qur’an dan takbir (yg tambahan) di dalam shalat.

Referensi

فقه الشافعي للمبتدئين

Mengapa Mempelajari Asma wa Shifat Allah?

0

Asma wa shifat merupakan salah satu dari penjabaran rukun iman, yaitu beriman terhadap keberadaan Allah, beriman kepada rububiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya, nama-nama dan shifat-Nya. Apabila seorang tidak mengimani salah satu dari empat hal tersebut maka keimanannya tidaklah diterima.

Selain itu asma wa shifat memiliki kedudukan yang agung di dalam agama ini. Hal itu dikarenakan Asma wa shifat merupakan salah satu dari tiga jenis tauhid.

Tidak mungkin seorang beribadah kepada Allah dengan sempurna hingga mengetahui tentang nama-nama dan shifat Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman

ولله الأسماء الحسنى فادعوه بها

Dan hanya milik Allah lah nama-nama yang indah (baik), maka berdo’alah (beribadah) kepada Allah dengannya (nama-nama tsb) (Al-A’raaf: 18)

Do’a dalam kandungan ayat ini terdapat dua hal:
1. Doa Masalah ( دعاء المسألة )
Seorang melakukan permintaan (kebutuhan terhadap suatu permasalahan) yang di dalam permintaannya itu terdapat kesesuaian dari nama-nama dan shifat-shifat Nya. Misal seorang berdoa, “Wahai Rabb yang Maha Pengampun, ampunilah diriku.. Wahai Rabb yang Maha Penyayang, sayangilah diriku..”

2. Doa Ibadah ( دعاء العبادة )
Seorang beribadah kepada Allah dengan kandungan-kandungan yang terdapat di dalam nama-nama dan shifat-shifat Nya. Misal seorang bertaubat kepada Allah karena Allah Maha Penerima Taubat, seorang berdzikir dengan lisannya kepada Allah karena Allah Maha Mendengar, dan semisalnya.

Setiap doa masalah, terkandung di dalamnya doa ibadah. Begitu pula sebaliknya dalam doa ibadah melazimkan doa masalah. Allah ta’ala berfirman,

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (Al-A’raaf: 55-56)

Selain itu, diantara dalil yang menunjukkan pentingnya asma wa shifat ialah hadits Nabi

لَوْ أَنَّ الْعِبَادَ لَمْ يُذْنِبُوْا لَخَلَقَ اللهُ الْخَلقَ يُذْنِبُوْنَ ثُمَّ يَغْفِرُ لَهُمْ

Seandainya ada ada seorang hamba yang tidak berbuat dosa maksiat, maka Allah akan menciptkan makhluk yang mereka berbuat dosa kemudian beristighfar (memohon ampun) kepada Allah [HR. Al-Hakim (4/246)]

Bagaimana Hukum Anak Kecil Sholat di Masjid

0

Bagaimana Hukum Anak Kecil Sholat di Masjid? Nabi ﷺ bersabda,

مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِينَ وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِينَ فَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا

Perintahkanlah anak kecil untuk melaksanakan shalat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun, dan *apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun maka pukul-lah dia apabila tidak melaksanakan shalat* (HR. Abu Daud no. 494)

Syaikh Abdullah Al-Fauzan menjelaskan hadits ini menunjukkan bahwa wali dari anak-anak baik bapaknya, kakeknya, saudaranya, atau selainnya memerintahkan anaknya yang kecil untuk shalat, baik anak laki-laki ataupun perempuan dan *mengajarinya hal-hal yang membatalkan keabsahan sholat dari syarat-syarat dan rukun-rukun.* Dan itu semua apabila telah sampai pada umur 7 tahun karena kebanyakan telah tamyiz.

Kebanyakan para wali bergampangan dalam masalah yang besar ini, terutama pada anak perempuan.

*Hadits ini juga menunjukkan kebolehannya anak kecil masuk ke dalam masjid, karena masjid merupakan tempat untuk menunaikan sholat.*

Dan bagi wali sang anak apabila anak telah mumayyiz biasakan pergi ke masjid dan melaksanakan shalat jama’ah, *dan menjadikan anak tsb bersamanya sholat di sampingnya agar membentuk kecintaan terhadap ibadah dan terikat (tertarik) dengan masjid.* (Selesai penjelasan syaikh Abdullah Al-Fauzan).

Namun, sangat disayangkan tidak sedikit para orang tua yang mengajak anak-anaknya ke masjid dengan tujuan mengajarkan anak-anaknya shalat dan terbiasa ke masjid, tetapi tidak menjaga mereka ketika berada di dalam masjid dengan shalat bersama di samping mereka. Membiarkan mereka shalat terpisah, sehingga anak-anak pun menjadikan shalat sebagai permainan belaka.

Para orang tua tidak pula memperhatikan keabsahan shalat, syarat-syarat dan rukun-rukun shalat pada mereka. Lantas bagaimana mungkin menumbuhkan kecintaan ibadah shalat pada anak dan mendidik mereka??

Referensi:

أحكام حضور المساجد، ص. ٧٢-٧٣

Manusia Terbagi Menjadi Empat Golongan

0

Syaikh Abdul Aziz Ar-Rajihi menyebutkan bahwasanya manusia terbagi menjadi empat golongan. Tiga di antaranya adalah orang-orang yang beriman, dan satu sisanya adalah orang yang kafir.

1. Golongan Pertama: Orang yang senantiasa berlomba dan dekat dengan kebaikan.

Mereka adalah orang-orang yang mengikhlaskan ibadah kepada Allah, mengerjakan yang wajib-wajib, meninggalkan yang haram, dan dosa besar, dan mereka bersemangat dalam perbuatan yang sunnah, dan meninggalkan yang makruh dan tidak berlebihan pada hal-hal yang mubah.

 

2. Golongan Kedua: Orang yang Pertengahan.

Mereka adalah golongan kanan yang mengerjakan kewajiban, meninggalkan yang haram dan dosa besar, dan mencukupkan dengan hal-hal tsb saja. Tidak ada semangat di sisi mereka dalam mengerjakan yang sunnah dan meninggalkan yang makruh dan berlebihan dalam hal yang mubah.

 

3. Golongan Ketiga: Orang yang Menzholimi Dirinya Sendiri.

Mereka adalah orang-orang muslim yang bertauhid, mengikhlashkan ibadah, dan tidak menjadikan di dalam amalan mereka kesyirikan. Mereka mengerjakan yang wajib tetapi tidak mengerjakan sebagian yang wajib, mereka meninggalkan yang haram tetapi mengerjakan sebagian yang haram. Mereka berada di atas ancaman dimasukkan ke dalam neraka. Kebanyakan dari mereka diadzab di alam kubur dengan sebab kemaksiatan dan kejahatan yang mereka mati di atas hal tersebut.

 

Allah ta’ala berfirman tentang tiga golongan tersebut,

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar (Fathir: 32)

 

4. Golongan Keempat: Orang yang kafir.

Allah menyebutkan tentang golongan ini setelah menyebutkan tiga golongan sebelumnya.

Allah ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لَا يُقْضَىٰ عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُم مِّنْ عَذَابِهَا ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي كُلَّ كَفُورٍ

Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka Jahannam. Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir (Fathir: 36)

 

Termasuk golongan yang mana kah kita???

 

Referensi:

شرح أصول السنة للحميدي، ص. ٧-١١

Termasuk Perkara Jahiliyyah Menyeru kepada Masing-masing Kaum Ketika Terjadi Perselisihan

0

Suatu ketika dalam peperangan, seorang sahabat dari Muhajirin mendorong punggung seorang sahabat dari Anshor. Kemudian sahabat Anshor tersebut menyeru kepada kaumnya, ‘Hai orang-orang Anshor, kemarilah!’

Kemudian sahabat dari Muhajirin pun juga menyeru kepada kaumnya, ‘Hai orang-orang Muhajirin, kemarilah!’

Mendengar hal tersebut Rasulullaah bersabda,

مَا بَالُ دَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

” Mengapa kalian menyeru dengan seruan jahiliyyah? ” (HR. Muslim no. 2584)

Imam Muslim Rahimahullah menjelaskan bahwa maksud seruan tersebut adalah untuk meminta bantuan.

Dan seruan jahiliyyah adalah perkara yang dilarang karena menjadikan seorang padanya terdapat sifat jahiliyyah, dari tolong menolongnya kabilah (suku) dalam perkara urusan dunia dan bergantung kepadanya. Dan terdapat sifat jahiliyyah menjadikan hukum-hukum pada kelompok dan kabilah. Maka Islam datang membatalkan hal tsb dan memutuskan perkara dengan hukum-hukum syariat. [Syarah Shahih Muslim Syarah Shahih Muslim (XVI/207)]

Syaikh shalih fauzan juga menjelaskan bahwa seorang tidak boleh merasa menjadi mulia (bangga) dengan kabilah (suku), melainkan karena Islam. Tidak boleh pula merasa mulia karena negerinya. Adapun negeri kaum muslimin seluruhnya adalah sama, tidak ada keistimewaan sebagiannya atas sebagian yang lainnya. Kecuali yang Allah istimewakan dari selainnya semisal Makkah dan Madinah. [Fadhlul Islam, 41]

Maka kemuliaan sesungguhnya dia adalah dengan Islam. Allah ta’ala berfirman,

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ

“Dan bagi Allah-lah kemuliaan dan bagi Rasul-Nya, dan bagi orang-orang mukmin” (al-Munafiqun: 8) [Syarh Fadhlul Islam, 40]

Umar bin Khatthab radhiallaahu’anhu pernah mengatakan,

إن كنا أذل قوم فأعزنا الله بالإسلام فمهما نطلب العز بغير ما أعزنا الله به أذلنا الله

“Sungguh kita dahulu adalah kaum yang hina, maka Allah telah memuliakan kita dengan Islam, maka apabila kita mencari kemuliaan dengan selain apa yang telah Allah muliakan dengannya, Allah akan menghinakan kita” (HR. al-Hakim no. 207, dalam Mustadrak)

 

Referensi:
– شرح فضل الإسلام
– صحيح مسلم بشرح النووي
– المستدرك على الصحيحين

Hasbunallah wa Nikmal wakil – Cukuplah Allah Menjadi Penolong

0

حسبنا الله و نعم الوكيل

Hasbunallah wa ni’mal wakil

“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”

Merupakan perkataan Nabi Ibrahim tatkala dilemparkan kedalam Api. Dan perkataan Rasulullaah tatkala perang uhud. Dan inilah perkataan yang diucapkan dalam kondisi genting, yaitu tatkala abu sufyan mengumpulkan pasukan kembali untuk menyerang Rasulullaah

إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung (Ali Imran: 173)

Ibnu Abbas mengatakan,

قَالَهَا إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام حِينَ أُلْقِيَ فِي النَّارِ

Hasbunallah wa ni’mal wakil adalah ucapan Ibrahim Alaihis Salam ketika di lemparkan ke api..” (HR. Bukhori no. 4563)

Referensi

فتح المجيد في شرح جوهرة التوحيد

Doa Untuk Orang Menikah

0

Sangat dianjurkan untuk mengucapkan selamat doa untuk orang menikah (kedua mempelai). Hal ini sebagaimana ungkapan kebahagiaan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam apabila beliau memberikan ucapan selamat kepada orang yang menikah beliau mendoakannya dengan doa,

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

BAAROKALLAAHU LAKA WA BAAROKA ALAIKA WA JAMA’A BAINAKUMAA FII KHOIR

Semoga Allah memberkahimu di waktu bahagia dan memberkahimu di waktu susah, serta semoga Allah mempersatukan kalian berdua dalam kebaikan” (HR. Abu Dawud no. 2130).

 

Empat Kelompok Manusia dalam Beribadah dan Berdoa

0

Asy-Syaikh Taqiyuddin Al-Maqrizi Asy-Syafi’i (766 H – 854 H) di dalam kitabnya تجريد التوحيد menjelaskan bahwa ada empat kelompok manusia dalam beribadah dan berdoa kepada Allah:

  1. Orang yang beribadah dan berdoa (Meminta Pertolongan) kepada Allah untuk Beribadah.
    Maka beribadah kepada Allah puncak dari keinginan mereka, dan karena hal tersebut permintaan mereka untuk membantu mereka agar melakukan ibadah.
  2. Orang yang berpaling dari beribadah dan Berdoa.
    Tetapi, apabila dia berdoa kepada Allah, memohon pertolongan dengannya maka untuk kepentingan dirinya dan syahwatnya.
  3. Orang yang melakukan segala macam ibadah tetapi tidak berdoa.
    Mereka terbagi menjadi dua, yaitu:

    • Orang yang mengingkari takdir, mereka yang mengatakan Allah ta’ala sungguh telah melakukan kepadanya seluruh yang ditakdirkannya dari pemberian-pemberian Allah, dan tidak tersisa sedikit pun bantuan bagi Allah untuk berbuat.
    • Orang yang beribadah dan melakukan wirid-wirid namun doa permohonan mereka kurang dari tawakal dan pertolongan, hati mereka belum merasa luas untuk mengkaitkan sebab-sebab dengan takdir.
  4. Orang yang berdoa (meminta pertolongan) kepada Allah, tetapi tidak beribadah