Home Blog Page 20

HUKUM BERJALAN DALAM KEADAAN SHALAT UNTUK MENCARI SUTROH

0

HUKUM BERJALAN DALAM KEADAAN SHALAT
UNTUK MENCARI SUTROH

Fatwa Asy-Syaikh Ibnu Baz & Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahumallah.

 

سترة الإمام سترة للمأموم أثناء الصلاة:
________________________________________
السؤال: نعلم بأن سترة الإمام سترة للمأموم، فإذا انتهى الإمام من صلاته وقام المأموم يقضي فهل تستمر سترة الإمام سترة للمأمومين، أو يكون الإمام سترة للمأموم بعد انفراده؟
________________________________________
الجواب: المأموم لما سلم الإمام صار منفرداً فلا تكون سترة الإمام سترة له حتى الإمام الآن ليس بإمام؛ لأنه انصرف وذهب عن مكانه، لكن هل يشرع للمأموم بعد ذلك إذا قام يقضي ما فاته أن يتخذ سترة؟ الذي يظهر لي: أنه لا يشرع، وأن الصحابة رضي الله عنهم إذا فاتهم شيء قضوا بدون أن يتخذوا سترة، ثم لو قلنا: بأنه يستحب أن يتخذ سترة، أو يجب على قول من يرى وجوب السترة، فإن الغالب أنه يحتاج إلى مشي وإلى حركة لا نستبيحها إلا بدليل بين، فالظاهر أن المأموم يقال له: سترة الإمام انتهت معك وأنت لا تتخذ سترة؛ لأنه لم يرد اتخاذ السترة في أثناء الصلاة، وإنما تتخذ السترة قبل البدء في الصلاة.

الموسوعة الشاملة – لقاءات الباب المفتوح – للشيخ بن عثيمين شريط رقم 155


Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah
:

Makmum ketika imam telah salam, maka ia menjadi munfarid/sendirian. Maka dalam keadaan ini -sutroh imam adalah sutroh baginya (makmum) – tidak berlaku lagi, karena si imam saat ini bukan lagi imam, ia sudah berpindah dari posisinya sebagai imam.

Namun setelah itu jika makmum kembali berdiri meneruskan shalat, apakah disyari’atkan bagi makmum untuk mencari sutroh? Yang nampak bagiku, TIDAK DISYARIATKAN untuk mencari sutroh. Karena para sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika mereka masbuk dan hendak menyelesaikan sisa shalatnya, mereka TIDAK LAGI MENCARI SUTROH. Lalu jika kita katakan bahwa sebaiknya mencari sutroh, atau bahkan wajib bagi yang berpendapat wajibnya sutroh, maka pada umumnya diperlukan melangkah dan gerakan yang tentunya tidak bisa kita bolehkan KECUALI DENGAN DALIL YANG TEGAS.

Maka yang nampak disini, kita katakan kepada makmum bahwa sutroh anda sudah berakhir dengan berakhirnya imam dan ANDA TIDAK PERLU MENCARI SUTROH. KARENA TIDAK ADA DALIL MENGENAI MENCARI SUTROH DI TENGAH-TENGAH SHALAT. Yang ada dalilnya adalah mencari sutroh SEBELUM mulai shalat.”

(Liqa Babil Maftuh, kaset no. 155, fatwa no. 16, Al Mausu’ah Asy Syamilah)

 

 

—————————————————

 

Fatwa Asy-Syaikh Bin Baz rahimahullah :

حكم من مشى خطوات من أجل السترة

أرى البعض من الشباب إذا سلم الإمام من الصلاة وبقي على هذا الشاب بعض الركعات فإنه يتقدم بعض الخطوات إلى الأمام؛ لكي يمنع المارين عن المصلين الآخرين، فهل فعله هذا صحيح، وهل خطواته تلك تبطل الصلاة؟

PERTANYAAN :
Saya melihat pada sebagian pemuda jika imam shalat telah salam (selesai) dan tersisa untuk pemuda ini beberapa rakaat maka dia melangkah/berjalan beberapa langkah ke depan untuk mencegah orang yang lewat dari jamaah shalat yang lain, apakah perbuatan ini benar ? dan apakah melangkah ini membatalkan shalat ?

لا يضره إن شاء الله، خطوات يسيرة حتى يمر الناس من وراءه لا يضره ذلك إن شاء الله إن كان بقي عليه صلاة قضى، لكن كونه يبقى في مكانه ويصلي في مكانه الحمد لله، أولى من التقدم.

JAWAB :

Tidak memudharatkan/membatalkan shalatnya in syaa Allah. Melangkah sedikit sehingga orang-orang bisa lewat di belakang orang yang shalat, ini tidak membatalkan shalatnya, in syaa Allah. Jika masih ada raka’at yang tersisa, maka sempurnakanlah.

NAMUN jika ia TETAP pada tempatnya, shalat TETAP pada tempatnya, alhamdulillah, ini LEBIH UTAMA DARIPADA MELANGKAH”.

حكم من مشى خطوات من أجل السترة

http://www.binbaz.org.sa/mat/14420

Mendidik Anak Belajar dari Luqman Al-Hakim [1] – Nasihat Pendidikan Anak dalam Al-Qur’an

0

Pendidikan anak dalam Islam sangat diperhatikan, dan salah satu bukti nyata adalah disebutkannya kisah-kisah yang sarat nilai pendidikan di dalam al-Qur’an. Salah satunya ialah kisah Luqman Al-Hakim yang memberi nasihat sangat berharga kepada anaknya, hingga Allah subḥānahu wa ta’āla mengabadikan nasihat itu di dalam al-Qur’an.

Mengenai sosok Luqman sendiri, para ulama berbeda pendapat — ada yang mengatakan beliau seorang nabi, ada yang mengatakan orang shalih. Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa beliau adalah seorang hamba yang shalih, diberikan hikmah oleh Allah, bukan seorang nabi dan tidak diturunkan wahyu kepadanya.


Beberapa Nasihat Berharga Luqman Al-Hakim kepada Anaknya

Berikut ini beberapa nasihat penting yang terdapat dalam Surah Luqman (QS 31) yang dapat dijadikan teladan dalam mendidik anak.

1. Nasihat untuk Menjauhi Dosa Syirik

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika ia memberi pelajaran kepadanya: ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.’” (QS Luqman: 13)

Nasihat ini mengajarkan bahwa syirik adalah dosa terbesar dan harus didahulukan dalam pendidikan anak sebagai dasar aqidah.

2. Nasihat Berbakti kepada Kedua Orang Tua

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat) baik kepada dua orang ibu-bapaknya. Ibu-nya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Maka berdzikarlah kepada Aku dan kepada dua orang ibu-bapakmu. Hanya kepada Aku-lah kembalimu.” (QS Luqman: 14)

Luqman menghubungkan antara dasar aqidah (syirik) dengan akhlak kepada orang tua, menunjukkan bahwa pendidikan anak mencakup keduanya.

3. Nasihat untuk Mendahulukan Taat kepada Allah daripada Orang Tua Jika Diminta Maksiat

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفاً وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan jika keduanya memaksamu agar mempersekutukan dengan-Ku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik, dan ikutilah jalan orang yang bertaubat kepadaku. Kemudian hanya kepada Aku lah kembali (kalian) semua; maka Kuberitahukan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.” (QS Luqman: 15)

Dalam tafsirnya, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As‑Sa‘di menegaskan:

“Jika orang tuamu memaksamu menyekutukan Allah, maka janganlah engkau menaati perintah keduanya… karena hak Allah harus didahulukan atas hak siapa saja.”

4. Nasihat Berhati-Hati terhadap Setiap Perbuatan — Sekecil Apapun

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

“Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS Luqman: 16)

Nasihat ini mengajarkan bahwa tidak ada amal kecil atau besar yang luput dari pembalasan Allah—penting bagi pendidikan karakter anak untuk menghayati tanggung jawab.

5. Nasihat Mendirikan Shalat

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ …

“Hai anakku, dirikanlah shalat …” (QS Luqman: 17)

Shalat disebut sebagai inti ibadah yang dicontohkan sebagai nasihat dari ayah yang bijak kepada anaknya. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya hal yang pertama kali akan dihisab dari manusia dari amalnya di hari kiamat nanti adalah shalat.” (HR Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani, no. 810)


✅ Kesimpulan

  • Kisah Luqman Al-Hakim menunjukkan bahwa pendidikan anak mencakup aqidah (tauhid), akhlak kepada orang tua, pengutamaan Allah atas segala makhluk, kesadaran terhadap tanggung jawab setiap perbuatan, dan konsistensi dalam ibadah (shalat).

  • Nasihat-nasihat ini dapat dijadikan panduan praktis bagi orang tua dalam mendidik anak yang saleh dan berkarakter.

  • Referensi dari al-Qur’an dan tafsir klasik menunjukkan bahwa kisah ini bukan sekadar historis tetapi memiliki relevansi mendalam untuk pendidikan anak zaman sekarang.


Referensi

  1. Al-Qur’an: Surat Luqman (QS 31) ayat 13 , 14 , 15 , 16 , 17.

  2. Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhīm — Imam Ibnu Katsir, Jilid 6, hal. 300.

Biografi Ulama – Ibnul Qoyyim

0

Biografi Ulama
Ibnu Qoyyim

Beliau adalah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa’d bin Hariz Az-Zar’i Ad-Dimasyqi Al-Faqih Al-Ushuli Al-Mufassir An-Nahwi Al-Aris Syamsudin Abu Abdillah Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah. Beliau dilahirkan pada tahun 691 H.

Beliau menuntut ilmu kepada banyak para ulama diantara adalah Ays-Syihab An-Nablusi Al-Abid, Al-Qadhi Taqiyuddin Sulaiman, Fathiman binti Jauhar, Isa Al-Muth’im, Abu Bakr bin Abdud-Da’im dan masih banyak lain.

Beliau sangat menguasai dalam madzhabnya sehingga memberikan fatwa tentangnya. Beliau ditahan bersama dengan Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah di Al-Qal’ah. Oleh karena itu, beliau juga menyertai dan belajar kepada Syaikhk Taqiyyuddin Ibnu Taimiyah dan beliau baru dikeluarkan dari tahanan setelah Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah wafat.

Di antara beberapa pujian para ulama terhadap Ibnul Qoyyim:

  1. Al-Allamah Al-Hafidz Abdurrahman Ibnu Rajab Al-Hanbali mengomentari tentang beliau,”Saya tidak pernah menyaksikan orang yang semisalnya dalam hal yang sama. Saya juga tidak pernah melihat orang yang lebih luas ilmunya dari beliau, juga tidak ada orang yang lebih mengerti tentang makna-makna Al-Qur’an dan As-Sunnah serta hakikat keimanan melebihi beliau“.
  2. Al-Qadhi Burhanuddin Az-Zar’i mengomentari beliau,”Sangat sedikit orang di kolong langit yang memiliki ilmu seluas beliau“.

Di antara karya-karya ilmiah beliau adalah:

  1. Ijtima’ul Juyusy Al-Islamiyah, dicetak di India tahun 1304 H, di Mesir tahun 1350 H.
  2. Akhbarun Nisa’, cetakan lama.
  3. I’lamul Muwaqqi’in an Rabbil ‘Alamin, dicetak di India tahun 1313 H,di Mesir tahun 1325 H.
  4. Ighatsatul Lahfan fi Hukmi Thalaqil Ghadhban, dicetak di Al-Manar tahun 1322 H.
  5. Ighatsatul Lahfan min Masyayidisy Syaithan, dicetak pertama kali tahun 1320 H.
  6. Amtsalul Qur’an.
  7. Bada ‘i’ul Fawa ‘id, dicetak di Muniriyah.
  8. Buthlanul Kimia min Arba’iina Wajhan.
  9. Bayanud Dalil ‘ala Itighna’il Musabaqah anit Tahlil.
  10. At-Tibyan fi Aqsamil Qur’an, dicetak di Makkah tahun 1321 H, di Mesir tahun 1352 H, pada percetakan At-Tijariyah.
  11. At-Tahrirfi ma Yahillu wa Yahrumu minalHarir.
  12. At-Tuhfatul Makkiyyah.
  13.  Tuhfatul Wadud fi Ahkamil Maulud, dicetak di India tahun 1339 H.
  14.  Tafsirul Fatihah.
  15. Tafsirul Mu’awwadzatain, dicetak bersama Bada’i’ul Fawa’id.
  16.  Tafdhilu Makkah alal Madinah.
  17. Tahdzib Mukhtashar Sunan Abi Daud wa Idhahu Musykilatihi, wal kalam ‘ala ma Fihi. Kitab ini berupa manuskrip ada di tangan saya dari naskah Madinah, mudah-mudahan Allah menolong untuk pence-takannya.
  18. Jala’ul Afham fish Shalati ‘ala KhairilAnam, dicetak di India dan Al- Muniriyah
  19. Jawabu ‘Abidish Shulban wa Anna Mahum ‘alaihi Dinusy Syaithan.
  20. Al-Jawabul kafi liman Sa’ala ‘anid Dawa’isy Syafi, dicetak dua kali.
  21. Hadil Arwah ila Biladil Afraah, dicetak dalam catatan kaki Ilamul Muwaqqi’in, dan ada yang dicetak terpisah.
  22. Hurmatus Soma’.
  23. Hukmu Ighmami Hilali Ramadhan.
  24. Hukmu Tarikish Shalah.
    Kata Pengantar Syaikh Muhammad Hamid AlFaqi XXIX
    Tidak untuk tujuan komersil Maktabah Raudhatul Muhibbin
  25. Ar-Risalah Al-Jaliyyah fith Thariqatil Muhammadiyah, syair.
  26. Rafut-Tanzil.
  27. Raful Yadain fish Shalah.
  28. Raudhatul Muhibbin wa Nuzhatul Musytaqin, dicetak oleh Ahmad Ubaid Afandi di Damaskus.
  29. Zadul Musafirin ila Manazilis Su’ada’fi Hadyi Khatamil Anbiya’.
  30. Zadul Ma ‘adfi Hadyi Khairil ‘Ibad, dicetak di India dan Mesir berkali- kali.
  31. As-Sunnah wal Bid’ah.
  32. Syarhu Asma’il Kitab Al-Aziz.
  33. Syarhul Asma’Al-Husna.
  34. Syifa’ul ‘Alii, dicetak oleh Almarhum Sayyid Amin Al-Khanji.
  35. Ash-Shabru was Sakan.
  36. Ash-Shiratul Mustaqim fi Ahkami Ahliljahim.
  37. Ash-Shawa’iqul Munazzalah ‘alal Jahmiyyah wal Mu’aththilah, ring- kasannya dicetak di Makkah.
  38. Ath-Tha’un.
  39. Thabibul Qulub, Al-Ma’luf menginformasikan bahwa di Berlin, Jerman terdapat satu naskah daripadanya.
  40. Ath-Thuruqul Hukmiyyah fis Siyasatisy Syar’iyyah, dicetak di Mesir, dan di Madinah terdapat satu naskah manuskrip lama yang telah di- koreksi.
  41. Thariqul Hijratain, dicetak di Mesir dan dalam perpustakaan Dahiri- yah terdapat naskah tulisan tangan oleh pengarangnya sendiri.
  42. Iddatush Shabirin wa Dzakhiratusy Syakirin, dicetak di Salafiyah Mesir.
  43. Aqdu Mukamil Ahibba’ bainal Kalimith Thayyib wal Amalish Shalih Al-Marfu’Ila Rabbis Sama’.
  44. Al-Fathul Qudsi.
  45. Al-Farqu bainal Khullah wal Mahabbah wa Munadharatul Khalil li Qaumihi.
  46. Fadhlul Ilmi.
  47. Al-Furusiiyatul Muhammadiyyah, ada di perpustakaan Adz-Dzahiri- yah, termasuk dalam kitab Al-Kawakib Ad-Darari.
  48. Al-Fawa’id, dicetak di Al-Muniriyah.
    XXX “Melumpuhkan Senjata Syetan*
    Tidak untuk tujuan komersil Maktabah Raudhatul Muhibbin
  49. Al-Fawa’id Al-Masyuq ila ‘Ulumil Qur’an wa ‘Ilmil Bayan.
  50. Al-Kafiyatusy SyafiyatufilFirqatin Najiyah, Qashidah Nuniyah, dicetak di Mesir, diterangkan oleh Al-Allamah Ahmad bin Isa An-Najdi, ada di Syaikh Fauzan As-Sabiq, semoga Allah memperkenankan pence- takannya.
  51. Al-Kafiyatush Syafiyahfin Nahwi.
  52. Al-Kaba’ir.
  53. Al-Kalimut Thayyib walAmalush Shalih.
  54. Madarijus Salikin, dicetak di Al-Manar.
  55. Al Masa’ilut Tharablusiyah.
  56. Ma’anil Adawat wal Huruf.
  57. Miftahu Daris Sa’adah, dicetak oleh Almarhum Al-Khanji.
  58. Al-Mahdi.
  59. Al-Muhadzdzab.
  60. Naqdul Manqul wal Mahkul Mumayyaz bainal Mardudi wal Maqbul.
  61. Nikahul Muhrim.
  62. Nurul Mu’min.
  63. Hidayatul Hayara minal Yahudi wan Nashara, dicetak oleh Al-Khanji.
  64. Al-Wabilus Shabab minal Kalimith Thayyib, dicetak di India, dan di Mesir di Al-Manar dan Al-Muniriyah.
  65. Ar-Risalah At-Tabukiyah, dicetak di Makkah tahun 1349 H.
  66. dan yang lainnya

 

Ibnu Rajab berkata, “Beliau rahimahullah wafat pada akhir waktu isya, malam kamis 13 Rajab 752 H. Beliau dishalatkan keesokan harinya, setelah Dzuhur di masjid Jami’ Al-Jarrah. Beliau dimakamkan di pemakaman Al-Babus Shaghir. -Semoga Allah merahmatinya-

 

Sumber: Mawaridul Aman Al-Muntaqa min Ighatsatul Lahfan fi Mashayidisy Syaithan

Biografi Ulama – Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

0

Biografi Ulama
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Beliau adalah Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Muhammad bin Khidir bin Muhammad bin Khidir bin ‘Ali bin Abdullah bin Taimiyah Al-Harani Ad-Dimasyqi. beliau lahir pada hari senin, 10 Rabi’ul Awal 661 H di Haran.

Pada umur 7 tahun dia bersama ayahnya pindah ke Damsyik karena melarikan diri dari serbuan tentara Tar-tar.

Beliau tumbuh di lingkungan ilmu fiqih dan ilmu agama. Ayah, kakenya dan saudaranya serta sebagian besar pamannya adalah ulama-ulama terkenal. Dalam lingkungan keluarga inilah Ibnu Taimiyah tumbuh dan berkembang. Ia mulai menghafal Al-Qur’an saat masih kecil, mempelajari hadits, fiqih, ushul (aqidah), dan tafsir.  Sejak kecil beliau dikenal cerdas, kuat hafalannya, dan cepat menerima ilmu.

Selain keilmuan dan kedalaman pengetahuan agamanya, beliau dikenal sebagai orang yang suka melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Allah mengaruniai beliau dengan sifat-sifat terpuji yang sangat dikenal di tengah masyarakat. Beliau orang yang sangat dermawan sehingga mendahulukan kepentingan orang daripada dirinya sendiri. Beliau juga seorang yang tekun beribadah, berdzikir dan membaca Al-Qur’an. Hidup beliau jauh dari kemewahan dan kesenangan dan hampir tidak mempunyai simpanan harta selain yang sangat dibutuhkan. Selain itu, beliau juga dikenal sangat rendah hati dalam penampilan, pakaian dan pergaulan dengan orang lain.

Beliau wafat di dalam penjara sebagai seorang tahanan di penjara Qal’ah di Damsyik. Beliau Wafat pada malam Senin 20 Dzulqo’dah 728 H. Penduduk Damsyik beserta penduduk dari kota-kota di sekitarnya keluar hingga memenuhi kota untuk menshalatkan dan mengantarkan jenazah beliau ke kuburan. -Semoga Allah Azza wa Jalla merahmatinya-

 

Sumber: Mukhtarat Iqtidha’ Ash-Shirathal Mustaqim

Biografi Ulama – Imam Asy-Syathibi

0

Biografi Ulama
Imam Asy-Syathibi

Beliau adalah Ibrahim bin Musa bin Muhammad Al-Lakhmi Al-ghamathi Abu Ishak. Beliau lebih dikenal dengan sebutan Asy-Syathibi.

Beliau dijuluki dengan “Al-Imam Al-Allaamah” (yang sangat dalam ilmu pengetahuannya, Al-Muhaqqiq (yang memiliki kemampuan untuk meneliti sesuatu guna menemukan keselahan dan kemudian memberi solusi), Al-Qudwah (yang pantas diikuti), Al-Hafizh (yang telah menghafal dan menjaga ribuan hadits), dan Mujtahid (yang mampu mendayagunakan kemampuan untuk menghasilkan hukum).

Imam Adz-Dzahabi menimba ilmu pengetahuan Arab dan sebagainya dari beberapa imam besar, di antaranya:

  1. Ibnu Al-Fakhar Al-Albiri. Al-Imam yang sudah terkenal mendapat kelapangan dari Allah dalam keilmuannya. Kalaupun tidak mengambil guru lain yang memiliki spesialisasi lain, niscaya ia telah cukup.
  2. Abu Al-Qosim As-Sabthi. Al-Imam yang mulia, bapak ilmu lisan (bahasa) yang menjaddi pensyarah kitab Makshurah Hazim.
  3. Asy-Syarif Abu Abdillah At-Talmasani. Al-Imam Al-Muhaqqiq yang terpandai pada masanya.
  4. Abu Abdillah Al-Muqri. Al-Imam yang memiliki keluasan ilmu pada masanya (menurut kesepatakan umum).
  5. Quth Ad-Dairah -Syaikh Al-Jalah-. Seorang yang dikenal dengan sebutan Abu Sa’id bin Lub. Imam yang mulia, penjelajah ilmu, dan mahir dalam berdiploma.
  6. Ibnu Marzuq Al-jad. Ulama besar, Al-Muhaqqiq, dan guru ilmu ushul.
  7. Abu Abdullah Al-Balansi. Ulama besar, ahli tafsir dan pengarang.
  8. Abu Ja’far Asy-Syaquri. Al-Haj yang memiliki keluasan ilmu, penjelajah ilmu, mahir dalam berdiploma, dan orang–orang yang selalu bersamanya dapat mengambil banyak manfaat darinya.
  9. Abu Al-Abbas Al-Qabab. Penghafal hadits dan ahli dalam ilmu fiqih.
  10. Abu Abdullah Al-Hafar. SSeorang mufti dan seorang ahli hadits.

Al-Imam Al-Hafizh bin Marzuq berkata tentang imam Adz-Dzahabi, “ia adalah seorang syaikh, profesor, ahli ilmu fikih, seorang imam, imhaqqiq, dan ulama besar yang shalih

Di antara karya-karya Imam adz-Dzahabi yang terkenal adalah Al-Muwafaqat, Al-fadat wa Al-Insyadatyan, Umwan Al It-Tifaq fi Ibni Al-Isytiqaq, Syarh Al-Alfiyyah, Al-I’thisom, dan karya beliau yang lainnya.

Beliau memiliki sya’ir yang indah tatkala mendapatkan ujian bid’ah

Kalian sedang diuji wahai kaum dan ujian itu bermacam-macam

Kepada siapa hendak aku menyembunyikannya, sehingga hal itu membuatku harus berbuat sesuatu.

Mencegah mudharat dan bukan untuk mengambil suatu maslahat

Hanya Allah sebagai pelindungku dalam akal dan agamku

Banyak orang yang telah mengambil ilmu darinya, di antaranya adalah Abu Yahya bin Ashim dan Al-Qodhi, Abu Bakr bin Ashim dan Syaikh Abu Abdullah Al-Bayani.

Imam adz-Dzahabi meninggal dunia pada tanggal 8 Sya’ban 790 H.  -Semoga Allah Azza wa Jalla merahmatinya-

Sumber: Al-I’tisham

Biografi Ulama – Imam Adz-Dzahabi

0

Biografi Ulama
Imam Adz-Dzahabi

Imam adz-Dzahabi, nama beliau adalah Syamsuddin Muhammad bin ‘Utsman bin Qaimaz At-Turkmaniy Al-Fariqy Ad-Dimasyqiy Asy-Syafi’iy. Beliau dilahirkan di Damaskus pada tahun 673 H / 1274M.

beliau menuntut ilmu dari para Syaikh di negeri Syam, Mesir, dan Hijaz. Beliau memiliki kapabilitas yang tinggi dalam berbagai disiplin ilmu, khususnya qira’at Al-Qur’an dan Hadits. Beliau digelari dengan “imamul Wujud Hifzhan” (imamnya semua yang ada dalam hal hafalan), “Syaikhul Jarh wat Ta’dil” (pakar dalam menilai ketsiqohan perawi), dan “Rajulur Rijal fi kulli Sabil” (satu daru seribu orang dalam seluruh disiplin ilmu). Nama beliau terdengar sampai ke ufuk dan para penuntut ilmu dari berbagai negeri pun menimba ilmu dari beliau.

Dalam kitab Mu’jam karya beliau, tercata seribu tiga ratus syaikh yang darinya beliau sempat mengkaji ilmu dari mereka, juga yang beliau ajari dan beliau bacakan. Di antara mereka adalah para ulama besar yang terkenal dan para pengerang yang ternama.

Pada tahun 741 H, imam adz-Dzahabi mengalami kebutaan sampai dengan keadaan ini beliau berhenti ta’lif (menulis buku) namun beliau mencukupkan diri dengan mengajar sampai ajal menjelang pada hari ketiga bulan Dulqa’dah 747 H / 1438 M. Beliau dimakamkan di pekuburan “Al-Bab Ash-Shaghir” di Damaskus.

Beliau mewariskan karya-karya ilmiah yang berjumlah sekitar 90 buah, mencakup bidang hadits, sejarah, biografi, dan sebagainya. Di antara karya terbesar beliau adalah Tarikhul Islam, Siyarul A’lam, Mizanul I’tidal, Al-Musytabah fi Asma’ir Rijal, Tajridul Ushul fi Ahaditsir Rasul, dan masih banyak yang lainnya. -Semoga Allah Azza wa Jalla merahmatinya-

 

Sumber: Kitab Al-Kabair. 

 

Metode Mendidik Anak di dalam Islam

0

Islam adalah agama yang sempurna dan menyeluruh.
Allah ﷻ berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu.”
(QS. Al-Māidah [5]: 3)

Kesempurnaan Islam meliputi segala aspek kehidupan, termasuk tata cara mendidik anak agar menjadi generasi yang beriman, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi umat.

Syaikh Dr. Abdullah Nashih Ulwan rahimahullah (1928–1987 M) dalam karya monumentalnya تربية الأولاد في الإسلام (Tarbiyatul Aulad fil Islam), menjelaskan bahwa pendidikan anak dalam Islam dibangun atas lima metode utama:

  1. At-Tarbiyah bil Qudwah (pendidikan dengan teladan)

  2. At-Tarbiyah bil ‘Adah (pendidikan dengan kebiasaan)

  3. At-Tarbiyah bin Nashihah (pendidikan dengan nasihat)

  4. At-Tarbiyah bil Mulāhazhah (pendidikan dengan pengawasan/perhatian)

  5. At-Tarbiyah bil ‘Uqubah (pendidikan dengan hukuman yang mendidik)


1. At-Tarbiyah bil Qudwah (Pendidikan dengan Teladan)

Teladan adalah metode paling kuat dalam membentuk karakter anak. Anak cenderung meniru apa yang ia lihat daripada apa yang ia dengar.

Allah ﷻ menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai teladan terbaik:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah suri teladan yang baik bagimu…”
(QS. Al-Ahzab [33]: 21)

Makna:
Orang tua menjadi “madrasah pertama” bagi anak-anak. Bila mereka ingin anak saleh dan berakhlak mulia, maka pendidikan itu harus dimulai dari diri sendiri.

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).”
(QS. Ar-Rahman [55]: 60)


2. At-Tarbiyah bil ‘Adah (Pendidikan dengan Kebiasaan)

Kebiasaan membentuk karakter. Apa yang sering dilakukan anak akan melekat dalam jiwanya dan menjadi tabiat hidup.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Tidaklah seorang anak dilahirkan melainkan dilahirkan di atas fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
(HR. Muslim no. 2658)

Makna:
Kebiasaan baik yang ditanamkan sejak kecil akan menjadi benteng moral.
Orang tua berperan menciptakan lingkungan dan rutinitas yang islami, seperti shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, dan berkata sopan.


3. At-Tarbiyah bin Nashihah (Pendidikan dengan Nasihat)

Nasihat adalah metode yang menyentuh hati dan sangat efektif bila disampaikan dengan hikmah dan kasih sayang.

Teladan terbaik tentang nasihat terdapat pada kisah Luqman Al-Hakim:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya: ‘Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar.’”
(QS. Luqman [31]: 13)

Makna:
Nasihat yang disampaikan dengan cinta dan teladan akan membekas lebih dalam. Namun, nasihat tanpa perbuatan nyata hanya akan melahirkan kepalsuan.

Allah ﷻ memperingatkan:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنفُسَكُمْ…

“Mengapa kamu menyuruh orang lain berbuat baik, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri?”
(QS. Al-Baqarah [2]: 44)


4. At-Tarbiyah bil Mulāhazhah (Pendidikan dengan Perhatian dan Pengawasan)

Perhatian orang tua adalah bentuk kasih sayang yang nyata. Pengawasan yang bijak membantu anak tumbuh dalam ketaatan dan menjauh dari kesalahan.

Contoh Nabi ﷺ dalam mendidik anak kecil:
Dari Umar bin Abi Salamah radhiyallāhu ‘anhu:

يَا غُلَامُ! سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

“Wahai anak muda, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang dekat darimu.”
(HR. Al-Bukhari no. 5376, Muslim no. 2022)

Makna:
Nabi ﷺ memberikan perhatian langsung dengan lembut dan mendidik, bukan dengan kemarahan.

Selain itu, Rasulullah ﷺ memperingatkan agar orang tua memilih teman pergaulan yang baik untuk anak-anaknya, karena teman sangat berpengaruh pada akhlak.

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ…
“Perumpamaan teman duduk yang baik dan yang buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi…”
(Muttafaqun ‘Alaih – HR. Al-Bukhari no. 5534, Muslim no. 2628)


5. At-Tarbiyah bil ‘Uqubah (Pendidikan dengan Hukuman yang Mendidik)

Hukuman adalah alat pendidikan terakhir, bukan bentuk kemarahan. Tujuannya untuk memperbaiki, bukan melukai.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Perintahkan anak-anakmu untuk shalat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka (dengan pukulan mendidik) bila berumur sepuluh tahun, serta pisahkan tempat tidur mereka.”
(HR. Abu Dawud no. 495)

Catatan Penting:

  • Hukuman fisik hanya dilakukan dengan syarat tidak melukai dan disertai kasih sayang.

  • Metode ini harus disertai dialog, pemahaman, dan kehangatan, agar anak tidak tumbuh dalam ketakutan, melainkan dalam kesadaran.


Penutup

Islam menempatkan pendidikan anak sebagai tanggung jawab suci yang harus dijalankan dengan ilmu, kasih sayang, dan keteladanan.

Sebagaimana doa indah dalam Al-Qur’an:

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي…

“Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang Engkau berikan kepadaku dan kepada orang tuaku, dan agar aku berbuat amal saleh yang Engkau ridai, serta perbaikilah keturunanku.”
(QS. Al-Ahqaf [46]: 15)


Referensi Lengkap

  1. Dr. Abdullah Nashih Ulwan, تربية الأولاد في الإسلام (Tarbiyatul Aulad fil Islam), Dār as-Salām, Kairo.

  2. Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Māidah: 3, QS. Al-Ahzab: 21, QS. Luqman: 13, QS. Al-Baqarah: 44, QS. Al-Ahqaf: 15.

  3. Shahih Muslim, no. 2658 – Kitab Al-Qadar.

  4. Shahih Al-Bukhari, no. 5376, no. 5534.

  5. Sunan Abu Dawud, no. 495 – Kitab As-Shalah.

  6. Riyadhus Shalihin, Imam An-Nawawi, Bab Tarbiyyah wal Akhlaq.

[Video] Rekaman Kajian Singkat 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

0

[Video] Rekaman Kajian Singkat
10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

 

Keutamaan 10 Hari Pertama di Bulan Dzulhijjah

0

Keutamaan 10 Pertama Awal di Bulan Dzulhijjah

 

Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah merupakan hari-hari yang paling utama dibanding dengan hari-hari yang lainnya, karena Nabi bersaksi bahwa sepuluh hari tersebut adalah hari-hari yang paling utama di dunia, dan beliau juga menganjurkan untuk memperbanyak amalan shalih pada hari-hari tersebut. Semua amalan shalih yang paling utama di dunia, dan beliau juga menganjurkan untuk memperbanyak amalan shalih pada hari-hari tersebut. Semua amalan shalih yang dikerjakan pada sepuluh hari ini lebih dicintai oleh Allah dari pada amalan-amalan shalih yang dikerjakan pada selain hari-hari tersebut. Ini menunjukkan betapa utamanya amalan shalih pada hari tersebut dan betapa banyak pahalanya. Amalan-amalan shalih yang dikerjakan pada sepuluh hari tersebut akan berlipat ganda pahalanya, tanpa terkecuali.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِا أَحَبُّ إِلَى الله عَزَّوَجَلَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ، يَعْنِيْ أَيَّامَ الْعَشْرِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ الله وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ الله ؟ قَالَ: “وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ الله إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

“Tidak ada hari dimana suatu amal shalih lebih di cintai Allah melebihi amal shalih yang dilakukan di hari-hari ini (yakni sepuluh hari pertama Dzulhijjah)”. Para sahabat bertanya,”Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad di jalan Allah?” Nabi ٍShallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk lebih utama dibanding jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (kemedan jihad) dan tidak ada satu pun yang kembali (ia mati syahid)”. (Shahih HR. al-Bukhari, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, ad-Darimi dll)

Dalam lafazh lain:

مَا مِنْ عَمَلٍ أَزْكَى عِنْدَ الله عَزَّ وَجَلَّ وَلَا أَعْظَمَ أَجْرًا مِنْ خَيْرٍ تَعْمَلُهُ فِي عَشْرِ الْأَضْحَى قِيلَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ الله عَزَّ وَجَلَّ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ الله عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Tidak ada amalan yang lebih suci di sisi Allah dan lebih besar pahalanya dari pada kebaikan yang dilakukan pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah”. Lalu ada yang bertanya, “Termasuk jihad di jalan Allah ?” Rasulullah bersabda,”Termasuk jihad di jalan Allah, kecuali seseorang keluar dengan jiwa dan hartanya (ke medan jihad) dan tidak ada satu pun yang kembali (ia mati syahid)”. (Shahih HR. ad-Darimi, ath-Thahawi)

Diantara keutamaan sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah ini yaitu:

  1. Bahwa Allah bersumpah dengan sepuluh hari tersebut dalam firman-Nya.

    وَالْفَجْرِ﴿١﴾وَلَيَالٍ عَشْرٍ

    Demi fajar, demi malam yang sepuluh. [al-Fajr/89:1-2]

    Yang dimaksud dengan “malam yang sepuluh” adalah sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Ibnu az-Zubair, Mujahid, dan lainnya dari kalangan kaum Salaf dan Khalaf. (Tafsir Ibni Katsir (VIII/390). Cet. Dar Thaybah)

  2. Sepuluh hari tersebut termasuk hari-hari yang ditentukan, yang padanya Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk banyak bertasbih, bertahlil, dan bertahmid. Allah Ta’ala berfirman:

    وَيَذْكُرُوا اسْمَ الله فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

    …dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rizki yang diberikan kepada mereka berupa hewan ternak..[al-Hajj/22:28].

    Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhu berkata, “Hari-hari itu adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah”. Imam Ahmad meriwayatkan dari Jabir secara marfu’ bahwa ini (hari yang dimaksud) adalah sepuluh hari yang disumpah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya,

    وَالْفَجْرِ﴿١﴾وَلَيَالٍ عَشْرٍ

    (Demi fajar, demi malam yang sepuluh) [al-Fajr/89 ayat 1-2]. (Tafsir Ibni Katsir (V/415). Cet Dar Thaybah)

  3. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersaksi bahwa sepuluh hari tersebut termasuk hari-hari yang paling utama di dunia. Beliau bersabda:

    أَفْضَلُ أَيَّامِ الدُّنْيَا أَيَّامُ الْعَشْرِ، يَعْنِي : عَشْرَذِيْ الْحِجَّةِ، قِيْلَ : وَلاَ مِشْلُهُنَّ فِيْ سَبِيْلِ الله؟ قَالَ : وَلاَ مِشْلُهُنَّ فِيْ سَبِيْلِ الله، إِلاَّ رَجُلٌ عَفَّرَ وَجْهَهُ فِيْ التُّرَابِ

    ”Hari-hari yang paling utama di dunia ini yaitu hari yang sepuluh, yakni sepuluh hari pertama Dzulhijjah”. Dikatakan kepada beliau, “Termasuk lebih utama dari jihad dijalan Allah?” Beliau menjawab,”Termasuk lebih utama dari jihad di jalan Allah. Kecuali seseorang yang menutup wajahnya dengan debu (mati syahid-pent)” (Hasan HR al-Bazaar)

  4. Di dalamnya terdapat hari Arafah, yang merupakan hari yang terbaik. Dan ibadah haji tidak sah apabila tidak wukuf di ‘Arafah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    اَلْحَجُّ عَرَفَةُ

    Haji itu wukuf di Arafah. (Shahih HR at-Tirmidzi)

  5. Di dalamnya terdapat hari penyembelihan qurban.
  6. Pada sepuluh hari tersebut, terkumpul pokok-pokok ibadah yaitu shalat, puasa, sedekah, haji, yang tidak terdapat pada hari-hari selainnya.

Amal-amal di Bulan Dzulhijjah

Di dalam hadits di atas, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa amal-amal shalih pada sepuluh hari di awal bulan Dzulhijjah lebih utama dari amal-amal shalih di bulan lainnya. Yang termasuk dari amal-amal shalih sangatlah banyak, di antaranya:

  1. Berpuasa Pada Sembilan Hari Pertama Bulan Dzulhijjah.
    Mulai dari awal bulan Dzulhijjah, ternyata telah ada amalan yang disunnahkan untuk kita kerjakan. Diriwayatkan dari sebagian isteri Nabi, mereka berkata:

    كَانَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنْ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari bulan Dzulhijjah, hari ‘Asyura, tiga hari pada setiap bulan, dan hari Senin pertama awal bulan serta hari Kamis. (Shahih HR Abu Dawud)

    Hadits ini menganjurkan kita berpuasa pada sembilan hari bulan Dzulhijjah. Dan ini merupakan pendapat jumhur ulama. Adapun hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma berikut ini:

    مَارَاَيْتُ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَا ئِمًا فِيْ الْعَشْرِ قَطٌّ

    Aku tidak pernah sekali pun melihat Rasulullah berpuasa pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. (Shahih HR Muslim)

    Imam Ahmad rahimahullah berkata tentang dua hadits yang bertentangan ini, “Bahwasanya yang menetapkan (puasa pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah) lebih didahulukan dari yang menafikan….” (ASy-Syarhul Mumti ‘ala Zad al-Mustaqni: VI/470)

    Imam an-Nawawi rahimahullah berkata,”Perkataan ‘Aisyah Radhiyalalahu anhuma bahwa beliau Shallallahu ‘alihi wa sallam tidak berpuasa pada sepuluh hari tersebut, mungkin beliau tidak berpuasa karena suatu sebab, seperti sakit, safar, atau selainnya. Atau ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma memang tidak melihat beliau berpuasa pada hari-hari tersebut. Tetapi tidak melihatnya ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma idak mesti menunjukkan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa. Dan ini ditunjukkan oleh hadits yang pertama….” (Syarh Shahih Muslim: VIII/71)

    Syaikh Muhammad bin al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,”Bahwasanya itu merupakan pengabaran dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma tentang apa yang ia ketahui. Dan perkataan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam didahulukan atas sesuatu yang tidak diketahui oleh perawi. Imam Ahmad rahimahullah telah merajihkan bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada sepuluh hari tersebut. Jika hadits tersebut ditetapkan, maka tidak ada masalah, dan jika tidak ditetapkan, sesungguhnya puasa pada sepuluh hari tersebut masuk dalam keumuman amalan shalih yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Tidak ada hari dimana suatu amal shalih lebih dicintai Allah melebihi amal shalih yang dilakukan di hari-hari ini (yakni sepuluh hari pertama Dzulhijjah ).’ Dan puasa termasuk dalam amalan shalih”. (Fatawa Fadhillati asy-Syaikh al-Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin fiz ZAkati wash-Shiyam: I/792 no. 401)

  2. Puasa ‘Arafah
    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى الله أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ، وَالسَّنَةَ الَّتِيْ بَعْدَهُ

    Puasa pada hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah), aku berharap kepada Allah, akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya…. (Shahih HR Muslim)

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda ketika ditanya tentang puasa hari ‘Arafah:

    يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْهَا ضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

    …..menghapuskan (dosa) setahun sebelumnya dan setahun setelahnya… (Shahih HR Muslim)

    Puasa ini dikenal pula dengan nama puasa Arafah karena pada tanggal tersebut orang yang sedang menjalankan haji berkumpul di Arafah untuk melakukan runtutan amalan yang wajib dikerjakan pada saat berhaji yaitu ibadah wukuf.

    Pendapat jumhur ulama bahwa dosa-dosa yang dihapus dengan puasa Arafah ini yaitu dosa-dosa kecil. Adapun dosa-dosa besar, maka wajib baginya taubat. Pendapat mereka dikuatkan dengan perkataan mereka:

    Karena puasa Arafah tidak lebih kuat dan lebih utama dari shalat wajib yang lima waktu, shalat Jum’at, dan Ramadhan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

    Shalat yang lima waktu, shalat Jum’at sampai ke Jum’at berikutnya, Ramadhan sampai ke Ramadhan berikutnya, itu menghapus (dosa-dosa) di antara keduanya, selama dia menjauhi dosa-dosa besar. (Shahih HR Muslim)

    Mereka berkata:”Jika ibadah-ibadah yang agung dan mulia tersebut yang termasuk dari rukun-rukun Islam tidak kuat untuk menghapuskan dosa-dosa besar, maka puasa Arafah yang sunnah ini lebih tidak bisa lagi”. Inilah pendapat yang rajih. (Fat-hu Dzil-Jalail wal-Ikram: VII/356, Tas-hilul Ilmam: III/241, dan Taudhihul Ahkam: III/530-531)

  3. Bertakbir
    Ketahuilah, bahwa disyari’atkan bertakbir, bertahmid dan bertahlil pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah ini. Dari Abu Hurairah secara marfu’:

    مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبُّ إِلَى الله عَزَّوَجَلَّ اَلْعَمَلٌ فِهِيْنَّ مِنْ عَشرِ ذِى الْحِجَّةِ، فَعَلَيْكُم بِالتَّسْبِيْحِ وَ التَّهلِيْلِ وَالتَّكبِيْرِ

    Tidak ada hari-hari yang amal shalih lebih dicintai oleh Allah dari pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Maka hendaklah kalian bertasbih, bertahlil, dan bertakbir. (HR Abu Utsman al-Buhairi dalam al-Fawa-id. Lihat Irwa-ul Ghalil: III/398-399)

    Disyari’atkan juga bertakbir setelah shalat shubuh pada hari Arafah sampai akhir hari tasyriq, yaitu dengan takbir:

    الله أَكْبَرُ، الله أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله، وَالله أَكْبَرُ، الله أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

    Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, Allah Maha Besar. Allah Maha Besar, dan bagi Allah-lah segala puji.

  4. Memperbanyak Amal Shalih Dan Ketaatan Kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
    Yaitu dengan memperbanyak shalat-shalat sunnah, sedekah, berbakti kepada orang tua, menyambung tali kekerabatan, bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya, memperbanyak dzikir kepada Allah, bertakbir, membaca al-Qur’an, dan amalan-amalan shalih lainnya. Sedekah dianjurkan setiap hari, maka pada hari-hari ini lebih sangat dianjurkan lagi, begitu juga ibadah-ibadah yang lain.Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, ia berkata:كَانَ سَعِيْدُ بْنُ جُبَيْرٍ إِذَا دَخَلَ أَيَّامَ…Bahwa Sa’id bin Jubair jika memasuki bulan Dzulhijjah, ia sangat bersungguh-sungguh sampai-sampai dia hampir tidak mampu melakukannya. (HR ad-Darimi)
  5. Haji dan Umrah
    Allah Ta’ala berfirman:

    وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

    ….kewajiban bagi manusia kepada Allah, berhaji ke Baitullah, bagi siapa yang memiliki kemampuan untuk melakukan perjalanan….. [Ali ‘Imran/3:97]

    Haji dan Umrah adalah salah satu ibadah yang paling mulia dan sarana taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah yang paling afdhal. Di antara keutamaan haji dan Umrah adalah:

    1. Barangsiapa yang berhaji dan umrah ke Baitullah, dia tidak berkata kotor, berbuat kefasikan, maka akan kembali seperti baru dilahirkan oleh ibunya.
    2.  Antara dua umrah menghapuskan dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya surga.
    3. Haji menghapus dosa-dosa sebelumnya.
    4. Haji mabrur termasuk seutama-utama amal setelah jihad fi sabilillah.
    5. Haji dan umrah menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa.
    6. Jihad yang paling bagus dan paling utama adalah haji yang mabrur.
    7. Orang yang haji dan umrah adalah tamu Allah.
    8. Do’a orang yang haji dan umrah dikabulkan oleh Allah.
    9. Orang yang meninggal dunia ketika pergi melaksanakan haji dan umrah, akan dicatat baginya pahala umrah sampai hari kiamat.
    10. Orang yang meninggal ketika dalam keadaan ihram, akan dibangkitkan di hari Kiamat dalam keadaan membaca talbiyah.
  6. ‘Idul Adh-ha
    Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu beliau berkata:”Bahwa ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, masyarakat Madinah memiliki dua hari yang mereka rayakan dengan bermain. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: ‘dua hari apakah ini?’ Mereka menjawab: ‘Kami merayakannya dengan bermain di dua hari ini ketika zaman Jahiliyyah,’ kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    إِنَّ الله تَبَارَكَ وَ تَعَالَى قَدْأَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا، يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ

    Sesungguhnya Allah telah memberikan ganti kepada kalian dua hari yang lebih baik; ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adh-ha (Shahih HR Ahmad, Abu Daud)

  7. Berqurban
    Di antara amal taat dan ibadah yang mulia yang dianjurkan adalah berqurban. Qurban adalah hewan yang disembelih pada hari raya ‘Idul Adh-ha berupa unta, sapi dan kambing yang dimaksudkan dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

    فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

    Laksanakanlah shalat untuk Rabb-mu dan sembelihlah kurban. [al-Kautsar/108:2].

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

    Barang siapa yang memiliki kelapangan namun ia tidak berqurban maka jangan mendekati tempat shalat kami. (Hasan : HR Ahmad, Ibnu Majah, al-Hakim dll)

    Sebagian ulama berpendapat dengan dasar hadits di atas, bahwa hukum menyembelih binatang qurban bagi seseorang adalah wajib bagi yang mampu.

    ‘Atha’ bin Yasar bertanya kepada Abu Ayyub al-Anshari: “Bagaimana penyembelihan qurban pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?”Beliau menjawab:

    كَانَ الرَّجُلُ يُضَحِّي بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ فَيَأْكُلُونَ وَيُطْعِمُونَ حَتَّى تَبَاهَى النَّاسُ فَصَارَتْ كَمَا تَرَى

    Seseorang berqurban dengan seekor kambing untuk diri dan keluarganya. Kemudian mereka memakannya dan memberi makan orang-orang sampai mereka berbangga. Maka jadilah seperti yang engkau lihat”. (Shahih HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah)

    Barangsiapa yang berqurban untuk diri dan keluarganya maka disunnahkan ketika menyembelih mengucapkan:

    بِاسْمِ الله، وَالله أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنِّىْ، اللَّهُمَّ هَذَا عَنِّىْ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِيْ

    Dengan nama Allah, dan Allah Maha Besar, Ya Allah, terimalah (qurban) dariku, ya Allah, ini dariku dan dari keluargaku.

    Disunnahkan bagi orang yang berqurban agar menyembelih sendiri. Jika tidak mampu maka hendaklah ia menghadiri, dan tidak diperbolehkan memberikan upah bagi tukang jagal dari hewan kurban tersebut.

    Kemudian, juga tidak memotong rambut dan kuku bagi yang berqurban. Seseorang yang ingin berqurban, dilarang memotong kuku atau rambut dirinya (bukan hewannya) ketika sudah masuk tanggal 1 Dzulhijjah sampai ia memotong hewan qurbannya.

    Dari Ummu Salamah bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فَإِذَا أُهِلَّ هِلَالُ ذِي الْحِجَّةِ فَلَا يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلَا مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّيَ

    Barang siapa yang memiliki hewan yang hendak ia sembelih(pada hari raya), jika sudah masuk tanggal 1 Dzulhijjah maka janganlah memotong (mencukur) rambutnya dan kukunya sedikitpun, sampai dia menyembelih qurbannya. (Shahih HR Muslim)

Wallaahu’alah.. Semoga Allah Azza wa Jalla selalu melimpahkan shalawat, salam dan berkah-Nya kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga serta para Sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik sampai hari Kiamat.

 

Oleh: al-Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawwas

 

Lihat video singkat kajian “Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah”

 

Apa dan Siapa itu Wahabi? [2]

0

Apa dan Siapa itu Wahabi? [2]

 

Bukti Kebohongan Tuduhan Wahabi Tehadap Dakwah Ahlussunnah Wal Jama’ah

Dengan membandingkan antara tuduhan-tuduhan sebelumnya dengan aqidah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang kita sebutkan di atas, tentu dengan sendirinya kita akan mengetahui kebohongan tuduhan-tuduhan tersebut.

Tuduhan-tuduhan bohong tersebut disebar luaskan oleh musuh dakwah Ahluss sunnah ke berbagai negeri Islam, sampai pada masa sekarang ini, masih banyak orang tertipu dengan kebohongan tersebut. sekalipun telah terbukti kebohongannya, bahkan seluruh karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab membantah tuduhan tersebut.

Kita ambil contoh kecil saja dalam kitab beliau “Ushul Tsalatsah” kitab yang kecil sekali, tapi penuh dengan mutiara ilmu, beliau mulai dengan menyebutkan perkataan Imam Syafi’i, kemudian di pertengahannya beliau sebutkan perkataan Ibnu Katsir yang bermazhab syafi’i jika beliau tidak mencintai para imam mazhab yang empat atau hanya berpegang dengan mazhab Hambali saja, mana mungkin beliau akan menyebutkan perkataan mereka tersebut.

Bahkan beliau dalam salah satu surat beliau kepada salah seorang kepala suku di daerah Syam berkata: “Saya katakan kepada orang yang menentangku, sesungguhnya yang wajib atas manusia adalah mengikuti apa yang diwasiatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka bacalah buku-buku yang terdapat pada kalian, jangan kalian ambil dari ucapanku sedikitpun, tetapi apabila kalian telah mengetahui perkataan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat dalam kitab kalian tersebut maka ikutilah, sekalipun kebanyakan manusia menentangnya.” (lihat kumpulan surat-surat pribadi beliau dalam kitab Majmu’ Muallafaat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, jilid 3)

Dalam ungkapan beliau di atas jelas sekali bahwa beliau tidak mengajak manusia kepada pendapat beliau, tetapi mengajak untuk mengikuti ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Bahkan Raja Abdul Aziz dalam sebuah pidato yang beliau sampaikan di kota Makkah di hadapan jamaah haji tgl 11 Mei 1929 M dengan judul “Inilah Aqidah Kami”: “Mereka menamakan kami sebagai orang-orang wahabi, mereka menamakan mazhab kami wahabi, dengan anggapan sebagai mazhab khusus, ini adalah kesalahan yang amat keji, muncul dari isu-isu bohong yang disebarkan oleh orang-orang yang mempunyai tujuan tertentu, dan kami bukanlah pengikut mazhab dan aqidah baru, Muhammad bin Abdul Wahab tidak membawa sesuatu yang baru, aqidah kami adalah aqidah salafus sholeh, yaitu yang terdapat dalam kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, serta apa yang menjadi pegangan salafus sholeh. Kami memuliakan imam-imam yang empat, kami tidak membeda-bedakan antara imam-imam; Malik, Syafi’i , Ahmad dan Abu Hanifah, seluruh mereka adalah orang-orang yang dihormati dalam pandangan kami, sekalipun kami dalam masalah fikih berpegang dengan mazhab hambaly.” (al Wajiz fi Sirah Malik Abdul Aziz, hal: 216)

Dari sini terbukti lagi kebohongan dan propaganda yang dibuat oleh musuh Islam dan musuh dakwah Ahlussunnah bahwa teroris diciptakan oleh wahabi. Karena seluruh buku-buku aqidah yang menjadi pegangan di kampus-kampus tidak pernah luput dari membongkar kesesatan teroris (Khawarij dan Mu’tazilah). Begitu pula tuduhan bahwa Mereka tidak menghormati para wali Allah atau dianggap membikin mazhab yang kelima. Pada kenyataannya semua buku-buku yang dipelajari dalam seluruh jenjang pendidikan adalah buku-buku para wali Allah dari berbagai mazhab. Pembicara sebutkan di sini buku-buku yang menjadi panduan di Universitas Islam Madinah.

  • Untuk mata kuliah Aqidah: kitab “Syarah Aqidah Thawiyah” karangan Ibnu Abdil ‘iz Al Hanafi, “Fathul Majiid” karangan Abdurahman bin Hasan Al hambaly. Ditambah sebagai penunjang, “Al Ibaanah karangan Imam Abu Hasan Al Asy’ari, “Al Hujjah” karangan Al Ashfahany Asy Syafi’i, “Asy Syari’ah” karangan Al Ajurry, Kitab “At Tauhid” karangan Ibnu Khuzaimah, Kitab “At Tauhid” karangan Ibnu Mandah, dll.
  • Untuk mata kuliyah Tafsir: Tafsir Ibnu Katsir Asy Syafi’i, Tafsir Asy Syaukany. Ditambah sebagai penunjang: Tafsir At Thobary, Tafsir Al Qurtuby Al Maliky, Tafsir Al Baghawy As Syafi’i, dan lainnya.
  • Untuk mata kuliyah Hadits: Kutub As Sittah beserta Syarahnya seperti: “Fathul Bary”karangan Ibnu Hajar Asy Syafi’i, “Syarah Shahih Muslim” karangan Imam An Nawawy Asy Syafi”i, dll.
  • Untuk mata kuliyah fikih: “Bidayatul Mujtahid” karangan Ibnu Rusy Al maliky, “Subulus Salam” karangan Ash Shan’any. Ditambah sebagai penunjang: “al Majmu’” karangan Imam An Nawawy Asy Syafi”i, kitab “Al Mughny” karangan Ibnu Qudamah Al Hambali, dll. Kalau ingin untuk melihat lebih dekat lagi tentang kitab-kitab yang menjadi panduan mahasiswa di Arab Saudi silakan berkunjung ke perpustakaan Universitas Islam Madinah atau perpustakaan mesjid Nabawi, di sana akan terbukti segala kebohongan dan propaganda yang dibikin oleh musuh Islam dan kelompok yang berseberangan dengan paham Ahlussunnah wal Jama’ah seperti tuduhan teroris dan wahabi.

Selanjutnya kami mengajak para hadirin semua apabila mendengar tuduhan jelek tentang dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, atau membaca buku yang menyebarkan tuduhan jelek tersebut, maka sebaiknya ia meneliti langsung dari buku-buku Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab atau buku-buku ulama yang seaqidah dengannya, supaya ia mengetahui tentang kebohongan tuduhan-tuduhan tersebut, sebagaimana perintah Allah kepada kita:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bila seorang fasik datang kepadamu membawa sebuah berita maka telitilah, agar kamu tidak mencela suatu kaum dengan kebodohan, sehingga kamu menjadi menyesal terhadap apa yang kamu lakukan.”

Karena buku-buku Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bisa didapatkan dengan sangat mudah terlebih-lebih pada musim haji dibagikan secara gratis, di situ akan terbukti bahwa beliau tidak mengajak kepada mazhab baru atau kepercayaan baru yang menyimpang dari pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah, namun semata-mata ia mengajak untuk beramal sesuai dengan kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, sesuai dengan mazhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah, meneladani Rasulullah dan para sahabatnya serta generasi terkemuka umat ini, serta menjauhi segala bentuk bid’ah dan khurafat.

 

Sumber: Dr. Ali Musri M.A (Rektor Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafii, Jember, Jawa Timur)