Home Blog Page 19

Bacaan Dzikir Pagi 1

0

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَعَالَى مِنْ صَلَاةِ الْغَدَاةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيلَ وَلَأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَى أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَيَّ مَنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً

dari Anas bin Malik ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh, aku duduk bersama kaum yang berdzikir kepada Allah Ta’ala dari shalat Subuh hingga terbit matahari lebih aku sukai daripada aku membebaskan empat anak Isma’il. Dan sungguh aku duduk bersama suatu kaum yang berdzikir kepada Allah dari Shalat ‘Ashar hingga matahari tenggelam adalah lebih aku sukai daripada aku membebaskan empat orang budak.” (HR. Abu Daud no. 3182)

Berikut beberapa di antara dzikir-dzikir ketika pagi hari yang senantiasa dibaca oleh Nabi shalallahu’alaihi wa sallam.

 

(1) Membaca surat An-naas, Al-Falaq, dan Al-Ikhlash [3 kali]

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas: 1-4) (Dibaca 3 x)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ  وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai Shubuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”. (QS. Al Falaq: 1-5) (Dibaca 3 x)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb manusia. Raja manusia. Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia.” (QS. An Naas: 1-6) (Dibaca 3 x)

 

Dalilnya;

عَنْ مُعَاذِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ خُبَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْنَا فِي لَيْلَةِ مَطَرٍ وَظُلْمَةٍ شَدِيدَةٍ نَطْلُبُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُصَلِّيَ لَنَا فَأَدْرَكْنَاهُ فَقَالَ أَصَلَّيْتُمْ فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا فَقَالَ قُلْ فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ قُلْ فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ قُلْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَقُولُ قَالَ قُلْ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ حِينَ تُمْسِي وَحِينَ تُصْبِحُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ

“dari Mu’adz bin Abdullah bin Khubaib dari bapaknya ia berkata; “pada malam hujan lagi gelap gulita kami keluar mencari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk shalat bersama kami, lalu kami menemukannya, beliau bersabda; “apakah kalian telah shalat?”, namun sedikitpun aku tidak berkata-kata, beliau bersabda; “katakanlah”, namun sedikitpun aku tidak berkata-kata, beliau bersabda; “katakanlah”, namun sedikitpun aku tidak berkata-kata, kemudian beliau bersabda; “katakanlah”, hingga aku berkata; “wahai Rasulullah, apa yang harus aku katakan?, Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda; “katakanlah (bacalah surat) QUL HUWALLAHU AHAD DAN QUL A’UDZU BIRABBINNAAS DAN QUL A’UDZU BIRABBIL FALAQ ketika sore dan pagi tiga kali, maka dengan ayat-ayat ini akan mencukupkanmu (menjagamu) dari segala keburukan.” ” (HR. Abu Daud no. 4419 dalam Sunannya, kitab Adab)

 

 

(2) Membaca;

اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ

Allahumma bika ash-bahnaa wa bika amsaynaa wa bika nahyaa wa bika namuutu wa ilaikan nusyuur.

“Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu petang. Dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami hidup dan dengan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu kebangkitan (bagi semua makhluk).” (Dibaca 1 x)

 

Dalilnya:

عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ إِذَا أَصْبَحَ

اللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ أَمْسَيْنَا وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوتُ وَإِلَيْكَ النُّشُورُ وَإِذَا أَمْسَى قَالَ اللَّهُمَّ بِكَ أَمْسَيْنَا وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوتُ وَإِلَيْكَ النُّشُورُ

dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika pagi membaca: ALLAHUMMA BIKA ASHBAHNA WA BIKA AMSAINA WA BIKA NAHYAA WA BIKA NAMUUTU WA ILAIKAN NUSYUR (Ya Allah, karena Engkau kami berada di waktu pagi dan sore, karena Engkau kami hidup dan mati, dan kepada-Mu kami akan kembali).” (HR. Abu Daud no. 4406 dalam Sunannya, kitab Adab)

 

 

(3) Membaca;

أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ

Ash-bahnaa wa ash-bahal mulku lillah walhamdulillah, laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodir. Robbi as-aluka khoiro maa fii hadzal yaum wa khoiro maa ba’dahu, wa a’udzu bika min syarri maa fii hadzal yaum wa syarri maa ba’dahu. Robbi a’udzu bika minal kasali wa su-il kibar. Robbi a’udzu bika min ‘adzabin fin naari wa ‘adzabin fil qobri.

“Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada ilah (yang berhak disembah) kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik Allah kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabbku, aku mohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di neraka dan siksaan di alam kubur.” (Dibaca 1 x)

 

Dalilnya:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَى أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ زَادَ فِي حَدِيثِ جَرِيرٍ وَأَمَّا زُبَيْدٌ كَانَ يَقُولُ كَانَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ سُوَيْدٍ يَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهَا وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكَسَلِ وَمِنْ سُوءِ الْكِبَرِ أَوْ الْكُفْرِ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ وَإِذَا أَصْبَحَ قَالَ ذَلِكَ أَيْضًا أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ

“dari ‘Abdurrahman bin Yazid dari Abdullah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika tiba waktu sore beliau membaca: “AMSAIANA WA AMSAL MULKU LILLAHI LAA ILAAHA ILLAALLAHU WADAHU LAA SYARIIKALAHU (Kami berada di waktu sore dan kerajaan hanya milik Allah, tidak ada Tuhan selain Allah semata; tidak ada sekutu bagi-Nya).” Dalam hadits Jarir ditambahkan; Zubaid berkata berkata; Ibrahim bin Suwaid menyebutkan, “LAA ILAAHA ILLAALLAHU WAHDAHU LAA SYARIIKALAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALA KULLI SYAI`IN QADIIR RABBI AS`ALUKA KHAIRA MAA FI HAADZIHIL LAILATI WA KHAIRA MAA BA’DAHAA WA A’UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA FI HAADZIHIL LAILATI WA SYARRI MAA BA’DAHAA RABBI A’UUDZU BIKA MINAL KASALI WA MIN SUU`IL KIBARI -Al KUFRI- RABBI A’UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABINNAARI WA ‘ADZAABIN FIL QABRI (Tidak tuhan yang disembah selain Engkau semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya semua kerajaan dan pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabb, aku minta kepada-Mu kebaikan malam ini dan kebaikan setelahnya, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan malam ini dan keburukan setelahnya. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan dari buruknya kesombongan -dalam riwayat lain; dari kekafiran-. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka dan siksa kubur).” Dan jika tiba waktu pagi beliau juga membaca doa tersebut: ‘ASHBAHNAA WA ASHBAHAL MULKU LILLAHI (kami berada di waktu pagi, dan kerajaan hanya milik Allah..)”  (HR. Abu Daud no. 4409 dalam Sunannya, kitab Adab)

 

 

(4) Membaca Sayyidul Istighfar

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.

Allahumma anta robbii laa ilaha illa anta, kholaqtanii wa anaa ‘abduka wa anaa ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mas-tatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu. Abu-u laka bi ni’matika ‘alayya wa abu-u bi dzambii. Fagh-firlii fainnahu laa yagh-firudz dzunuuba illa anta.

“Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku pada-Mu (yaitu aku akan mentauhidkan-Mu) semampuku dan aku yakin akan janji-Mu (berupa surga untukku). Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.” (Dibaca 1 x)

Dalilnya:

عَنْ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ أَوْ حِينَ يُمْسِي

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.

فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ أَوْ مِنْ لَيْلَتِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“dari Ibnu Buraidah, dari Bapaknya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa ketika waktu pagi dan sore membaca: ALLAHUMMA ANTA RABBII LAA ILAAHA ILLA ANTA KHALAQTANII WA ANA ABDUKA WA ANA ‘ALAA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHA’TU A’UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA’TU ABUU`U BINI’MATIKA WA ABUU`U BI DZANBII FAGHFIRLII INNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLA ANTA (Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Tuhan selain Engkau. Engkau ciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam perjanjian-Mu dan aku akan menepati perjanjian-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan diriku, aku mengakui semua nikmat-Mu kepadaku dan dosaku kepada-Mu, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang bisa mengampuni kecuali Engkau).” Lalu ia meninggal pada hari itu atau pada malam harinya, maka ia akan masuk ke dalam surga.” ” (HR. Abu Daud no. 4408 dalam Sunannya, kitab Adab)

 

 

(5) Membaca:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ

Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fid dunyaa wal aakhiroh. Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fii diinii wa dun-yaya wa ahlii wa maalii. Allahumas-tur ‘awrootii wa aamin row’aatii. Allahummahfazh-nii mim bayni yadayya wa min kholfii wa ‘an yamiinii wa ‘an syimaalii wa min fawqii wa a’udzu bi ‘azhomatik an ughtala min tahtii.

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari muka, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (oleh ular atau tenggelam dalam bumi dan lain-lain yang membuat aku jatuh).” (Dibaca 1 x)

Dalilnya:

عَنْ جُبَيْرِ بْنِ أَبِي سُلَيْمَانَ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَعُ هَؤُلَاءِ الدَّعَوَاتِ حِينَ يُمْسِي وَحِينَ يُصْبِحُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَتِي وَقَالَ عُثْمَانُ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي وَمِنْ فَوْقِي وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي

“dari Jubair bin Sulaiman bin Jubair bin Muth’im ia berkata; Aku mendengar Ibnu Umar berkata, “Belum pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggalkan doa-doa tersebut saat tiba waktu sore dan pagi hari: “ALLAHUMMA INNII AS`ALUKAL AFWA WAL ‘AAFIYAH FIDDUNYAA WAL AAKHIRAH ALLAHUMMA INNII AS`ALUKAL ‘AFWA WAL ‘AAFIYATA FI DIINII WA DUNYAAYA WA AHLII WA MAALII ALLAHUMMASTUR ‘AURATII -Utsman menyebutkan dengan lafadz- “‘AURAATII WA AAMIN RAU’AATII ALLAHUMMAHFADZHNII MIN BAINI YADAYYA WA NIN KHALFII WA ‘AN YAMIINII WA ‘AN SYIMAALII WA MIN FAUQII WA A’UUDZU BI’AZHAMATIKA AN UGHTAALA MIN TAHTII (Ya Allah, aku memohon kepada-mu keselamatan di dunia dan di akhirat. Ya Allah, aku mohon kepada-Mu pemaafan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan harta. Ya Allah, tutupilah auratku, -Utsman menyebutkan dengan lafadz- “Auratku, dan amankanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, jagalah aku dari depan, belakang, sisi kanan, sisi kiri, dan dari atas. Aku berlindung kepada-Mu dengan kebesaran-Mu agar aku tidak diserang dari arah bawah.” ” (HR. Abu Daud no. 4412 dalam Sunannya, kitab Adab)

 

 

(6) Membaca:

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ

Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.

“Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Bagi-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu.” (Dibaca 1o x)

Dalilnya:

عَنْ ابْنِ أَبِي عَائِشٍ وَقَالَ حَمَّادٌ عَنْ أَبِي عَيَّاشٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ إِذَا أَصْبَحَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ كَانَ لَهُ عِدْلَ رَقَبَةٍ مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيلَ وَكُتِبَ لَهُ عَشْرُ حَسَنَاتٍ وَحُطَّ عَنْهُ عَشْرُ سَيِّئَاتٍ وَرُفِعَ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ وَكَانَ فِي حِرْزٍ مِنْ الشَّيْطَانِ حَتَّى يُمْسِيَ وَإِنْ قَالَهَا إِذَا أَمْسَى كَانَ لَهُ مِثْلُ ذَلِكَ حَتَّى يُصْبِحَ

“dari Abu Ayyasy bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa di waktu pagi membaca: LAA ILAAHA ILLAALLAHU WAHDAHU LAA SYARIIKALAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLU SYAI`IN QADIIR (Tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu). Maka ia akan mendapatkan pahala senilai memerdekakan seorang budak dari keturunan Isma’il, akan dituliskan untuknya sepuluh kebaikan, dihapus darinya sepuluh dosa, dan ia akan dinaikkan sepuluh derajat. Dia juga akan dijaga dari setan hingga datang waktu sore. Jika pada waktu sore ia membaca doa itu maka ia akan mendapatkan yang seperti itu hingga tiba waktu pagi.”” (HR. Abu Daud no. 4415 dalam Sunannya, kitab Adab)

 

 

(7) Membaca:

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai-un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘aliim.

“Dengan nama Allah yang bila disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Dibaca 3 x)

Dalilnya:

عَنْ عُثْمَانَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لَمْ تَفْجَأْهُ فَاجِئَةُ بَلَاءٍ حَتَّى اللَّيْلِ وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُمْسِي لَمْ تَفْجَأْهُ فَاجِئَةُ بَلَاءٍ حَتَّى يُصْبِحَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“dari Utsman bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa membaca ‘BISMILLAAHIL LADZII LAA YADHURRU MA’AS MIHI SYAI’UN FIL ARDHI WALA FIS SAMAA’WAHUWAS SAMII’UL ‘ALIIM‘ (dengan nama Allah, dengan nama-Nya tidak akan berbahaya sesuatu yang ada di bumi maupun yang ada di langit, dan Dia maha mendengar lagi maha mengetahui) sebanyak tiga kali, maka tidak akan dikejutkan oleh suatu kejutan berupa penyakit hingga malam hari, dan barangsiapa membacanya di waktu sore maka tidak akan dikejutkan oleh suatu kejutan berupa penyakit hingga pagi hari jika Allah menghendaki.”” (HR. Ahmad no. 497 dalam Musnadnya)

 

 

(8) Membaca:

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ

Subhanallah wa bi-hamdih.

“Maha suci Allah, aku memuji-Nya.” (Dibaca 100 x)

Dalilnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ مِائَةَ مَرَّةٍ لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ

“dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengucapkan diwaktu pagi dan sore hari: SUBHAANAALLAH WA BIHAMDIHI (Maha suci Allah, aku memuji-Nya) sebanyak seratus kali, maka pada hari kiamat tidak ada yang datang dengan membawa pahala yang lebih utama kecuali orang yang mengucapkan seperti apa yang diucapkannya atau yang lebih banyak dalam mengucapkannya.”” (HR. Ahmad no. 8479 dalam Musnadnya)

Doa dan Dzikir sebelum Tidur (1)

0

Berikut di antara do’a dan dzikir yang senantiasa dibaca oleh Nabi shalallahu’alaihi wa sallam tatkala sebelum tidur.

(1) Mengumpulkan dua telapak tangan. Lalu ditiup dan dibacakan surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas. Kemudian dua telapak tangan tersebut mengusap tubuh yang dapat dijangkau, dimulai dari kepala, wajah dan tubuh bagian depan. diulang sampai tiga kali


حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا الْمُفَضَّلُ بْنُ فَضَالَةَ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

“Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id Telah menceritakan kepada kami Al Mufadldlal bin Fadlalah dari Uqail dari Ibnu Syihab dari Urwah dari Aisyah bahwa biasa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bila hendak beranjak ke tempat tidurnya pada setiap malam, beliau menyatukan kedua telapak tangannya, lalu meniupnya dan membacakan: “QULHUWALLAHU AHAD..” dan, “QUL `A’UUDZU BIRABBIL FALAQ…” serta, “QUL `A’UUDZU BIRABBIN NAAS..” Setelah itu, beliau mengusapkan dengan kedua tangannya pada anggota tubuhnya yang terjangkau olehnya. Beliau memulainya dari kepala, wajah dan pada anggota yang dapat dijangkaunya. Hal itu, beliau ulangi sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhori no. 4630 dalam bab “Keutamaan Al-Qur’an”)

 

(2) Membaca Ayat Kursi [al-Baqarah: 255]

اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ، لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ، لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ، مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ، وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ، وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا، وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

ALLAHU LAA ILAAHA ILLA HUWAL HAYYUL QAYYUMU. LAA TA’KHUDZUHUU SINATUW WA LAA NAUUM. LAHUU MAA FISSAMAAWAATI WA MAA FIL ARDHI. MAN DZAL LADZII YASFA’U ‘INDAHUU ILLAA BI IDZNIHI. YA’LAMU MAA BAINA AIDIIHIM WA MAA KHALFAHUM. WA LAA YUHITHUUNA BI SYAI-IN MIN ‘ILMIHII ILLAA BI MAASYAA-A. WASI’A KURSIYYUHUSSAMAAWAATI WAL ARDHA. WA LAA YA-UDHUU HIFZHUHUMAA WAHUWAL ‘ALIYYUL AZHIIM.

Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa seizin-Nya. Dia mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha besar.” (QS. Al Baqarah: 255)

Dalilnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ وَكَّلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ فَأَتَانِي آتٍ فَجَعَلَ يَحْثُو مِنْ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لَأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَصَّ الْحَدِيثَ فَقَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ لَنْ يَزَالَ مَعَكَ مِنْ اللَّهِ حَافِظٌ وَلَا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ذَاكَ شَيْطَانٌ

“dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menugaskanku untuk menjaga harta zakat. Lalu pada suatu hari ada seseorang yang menyusup hendak mengambil makanan, maka aku pun menyergapnya seraya berkata, “Aku benar-benar akan menyerahkanmu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam..” lalu ia bercerita dan berkata, “Jika kamu hendak beranjak ke tempat tidur maka bacalah ayat kursi, niscaya Allah akan senantiasa menjagamu dan syetan tidak akan mendekatimu hingga pagi.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “Ia telah berkata benar padamu, padahal ia adalah pendusta. Si penyusup tadi sebenarnya adalah syetan.”” (HR. Bukhori no. 4624 dalam bab “Keutamaan Al-Qur’an”)

 

(3) Membaca Dua Ayat terakhir surah al-Baqarah [285-286]

ءَامَنَ الرَّسُولُ بِمَآأُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ ءَامَنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ . لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَاكَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَااكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَآإِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآإِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَطَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَآ أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Amana arrasūlu bimaa unzila ilaihi min rabbihi wal mu’ minuūn. Kullun âmanabillahi wamala-ikatihi wakutubihi wa rusulih. Laa nufarriqu baina ahadin min rusulih. Waqalūsami’na wa ata’na ghufrânakarabbana wa-ilaikalmasīr. Laa yukallifullāhu nafsan illaa wus`ahaa lahaa maktasabat wa `ālayhaa maktasabat rabbana lâa tuâkhidznaa innasīināa au akhta’naa Rabbanaa wa laa tahmil ‘alaynaa israñ-kama hamaltahu ‘alallazī na min-qablinaa Rabbanaa wa laa tuham-milna maa laa thāa qata Lanāa bih Wa’fu ‘anna waghfirlanaa warhamnāa anta mawlanaa fansurnaa ‘alalqaw mil kafirīin

Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya. (Mereka mengatakan), ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasulNya’, dan mereka mengatakan, ‘Kami dengar dan kami taat.’ (Mereka berdoa), ‘Ampunilah kami ya Rabb kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali’. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan dia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa), ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir’.” (Al-Baqarah: 285-286).

 

Dalilnya:

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ بِالْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

“dari Abu Mas’ud radliallahu ‘anhu ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al Baqarah pada suatu malam, niscaya kedua ayat itu akan mencukupinya.”” (HR. Bukhori no. 4624 dalam bab “Keutamaan Al-Qur’an”)

 

Baca lanjutannya – > Doa dan Dzikir sebelum Tidur 2

Tragedi Mina – Kesaksian Seorang Pengguna Twitter

0

Telah menyebar berita kadzdzab (dusta) terkait peristiwa di Mina yang menewaskan ratusan jamaah haji -semoga Allah mewafatkan mereka dalam keadaan syahid- dengan menuduh kerajaan Arab Saudi adalah penyebab utamanya.

Berikut kesaksian dari salah satu jamaah haji dan pengguna twitter ketika terjadi insiden di Mina

 

twit mina

Asalnya ada suara teriakan dari jamaah haji yg meneriakkan agar rombongan jamaah haji dr iran memutar arah ke belakang, karena arah mereka berlawanan dg arah para jamaah haji lain yg menggunakan jalan yg sama utk menuju ke jamarot. Inilah sebab utama terjadinya musibah di mina. Tweet : @aszaaszaw

 

syiah mina

Ya, saya waktu di sana di tempat kejadian, dan saya melihat sendiri apa yg terjadi. Memangseperti itulah cara jamaah haji iran setiap tahun.. mereka selalu menyelisihi kaum muslimin. Tweet : @aszaaszaw

 

twit mina 2

Travel-travel iran selalu menyelisihi kaum muslimin.. mereka melempar jamarot, kemudian kembali (lawan arah) melewati jalan yg sama yg dipakai oleh jamaah haji lain utk berangkat melempar jamarot. Inilah sebab terjadinya keramaian itu.
Tweet : @aszaaszaw

 

saksi mina syaikh jamaludin bin athaf

Telah biasa terjadi desak-desakan di stadion sepak bola, sehingga menyebabkan kematian ratusan orang, sebagaimana terjadi di Mesir dan negara lainnya. Tapi sebagian orang mencibir Negara Saudi, padahal yang mereka atur adalah 4 juta jamaah haji.  Tweet Syaikh Jamâludîn bin ‘Athâf @Ben_ataf

 

syiah bola

Terjadinya desak-desakan oleh penonton sepak bola di Negara Iran, jumlah mereka hanya 20 ribu supporter, yg mati 500 dan korban luka 700.
Sedang kami Negara Saudi melayani jutaan jemaah haji.

 

 

Tragedi Mina – Mereka Menebar Fitnah Terhadap Kerajaan Saudi

0

Telah menyebar berita kadzdzab (dusta) terkait peristiwa di Mina yang menewaskan ratusan jamaah haji -semoga Allah mewafatkan mereka dalam keadaan syahid- dengan menuduh kerajaan Arab Saudi adalah penyebab utamanya.

Beberapa diantaranya adalah:

  1. Mereka menuding bahwa penyebab insiden peristiwa di Mina adalah konvoi putra Rasa Arab Saudi.
  2. Mereka menuding bahwa Raja Arab Saudi memerintahkan eksekusi mati 28 pelaku insiden di Mina.
  3. Mereka menuding bahwa desak desakan terjadi karena Raja Salman ikut pergi berhaji.
  4. Mereka menuding bahwa pihak kerajaan menuduh petugas haji telah lalai.
  5. Mereka menuding bahwa pihak kerajaan memang tidak memperhatikan keselamatan jamaah haji

Maka bantahannya.

  1. Pihak kerajaan tidak pernah mengadakan acara iringan rombongan kerajaan. Jika memang ada anggota kerajaan Haji maka melalui jalur Udara atau Helikopter yang tepat terletak di Atas Jamarat.
  2. Raja Salman tahun ini tidak berhaji demi memantau jamaah haji. Adapun anggota kerajaan yang berhaji adalah Gubernur Makkah.
  3. Kerajaan tidak pernah menuduh petugas haji yang lalai. Bahkan raja Salman dalam berita resmi menenangkan hati mereka bahwa mereka sudah melakukan yang terbaik bagi jamaah haji.
  4. Pemerintah sangat memperhatikan keamanan, kenyamanan, dan keselamatan.

 

Bisa anda lihat di internet bagaimana sistem Thawaf, pelemparan jamarat, Wukuf Arafah, kereta api, tenda AC, WC dan lain lain yang dibuat secara massal oleh kerajaan. Dan lebih parah lagi, media nasional merujuk kepada media Iran yang memang sangat anti kepada negeri tauhid (Saudi) sehingga berbagai fitnah tanpa bukti menjadi konsumsi jutaan rakyat indonesia. Bahkan Iran menuntut agar makkah dan madinah diserahkan kepada mereka.

 

Yang saya ketahui (admin) ketika berhaji dulu, jamaah haji Iran memang selalu membuat onar. Bahkan mereka gemar berjalan melawan Arah ketika pulang habis melempar jumrah supaya jalur pulangnya dekat.

Bahkan mereka berteriak :”Labbaika ya Husain” alias memanggil manggil Husain dan dan tidak berdoa kepada Allah.

 

Bahkan dari masa ke masa… Syiah sering melakukan pembunuhan jamaah haji mulai dari Syiah Qaramitah, kejadian demo di makkah yang membuat 200 orang tewas terinjak injak, Bom yang dibawa jamaah haji iran di dalam Ban koper mereka dan lain lain. (Sumber)

 

Baca selanjutnya – Kesaksian seseorang terhadap insiden di Mina

INFOGRAFIS: Musibah di Mina dari waktu ke waktu

0

JAKARTA, Indonesia — Ratusan jemaah haji meninggal karena terinjak-injak saat puncak ibadah haji, Kamis, 24 September. Musibah ini terjadi dalam ritual pelemparan jumrah di Mina, sekitar 5 kilometer dari Mekah. Rupanya, ini bukanlah pertama kali terjadi musibah yang menelan korban jiwa di sana.

 

Info Tragedi Mina

Kronologi Insiden di Mina

0

JAKARTA, Indonesia— Tragedi Mina telah merenggut ratusan nyawa jemaah haji, Kamis pagi, 24 September.

Ini kata Affan Rangkuti, Kepala Sub Bagian Informasi Haji di Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama tentang kronologinya:

Sebelum hari melempar jumrah tiba, Panitia Penyelenggaraan Ibadah Haji telah mengeluarkan larangan untuk melontar jumrah aqabah pada pukul 8-11 pada 24 September. Tujuannya untuk mengantisipasi kepadatan jemaah yang akan melempar jumrah. Sebab saat itu adalah waktu di mana jemaah ramai-ramai pergi ke Jamarat untuk melontar jumrah.

Kamis pagi, 24 September, jemaah haji dari berbagai negara memenuhi Jalan Arab 204. Peristiwa naas itu kemudian terjadi, diduga karena adanya jemaah yang hendak melakukan jumrah Aqabah tiba-tiba berhenti. Karena terhenti, jemaah yang berada pada barisan belakang mendorong jamaah yang di depan sehingga berdesakan dan banyak perempuan dan orang tua yang jatuh menjadi korban.

Jemaah haji Indonesia di Mina terbagi dalam 52 maktab, 45 maktab di Harratul Lisan (Mina) dan 7 maktab di Mina Jadid. Jemaah yang tinggal di Harratul Lisan tidak melalui Jalan Arab 204, tapi melalui terowongan muashim ketika akan ke Jamarat.

Jalan yang biasa digunakan jemaah asal Indonesia adalah jalan King Fahd yang terletak di sebelah kanan Jalan Arab 204.

Korban kemudian berjatuhan. Sebagian berusaha diselamatkan petugas di tempat kejadian, sebagian lagi langsung dilarikan ke rumah sakit.

Menteri Agama Lukman Saifuddin menuju ke Mina setelah mendengar kabar ini untuk memastikan apakah ada korban dari jemaah Indonesia bersama tim PPIH. Tim langsung pergi ke tempat kejadian peristiwa dan juga di Rumah Sakit Mina Al-Jisr, tempat di mana banyak korban dievakuasi.

Jumlah korban meninggal dunia sampai dengan saat ini berjumlah 717 dengan korban luka lebih dari 800 jemaah

Sumber

5 Hal yang Perlu Diketahui Tentang Tragedi Mina

0

JAKARTA, Indonesia—Tragedi Mina kembali terulang. Pagi ini, Kamis, 24 September, ratusan jemaah kembali terinjak-injak saat hendak melempar jumrah.

Berikut beberapa hal yang perlu kamu ketahui tentang insiden Mina hari ini:

1. Terjadi pagi hari

Menurut Ketua Komisi VIII Saleh Partaonan Daulay peristiwa naas itu terjadi pada pukul 7 pagi. Jemaah melakukan pelontaran jumrah saat pagi untuk menghindari hawa terik di siang hari.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir menambahkan, awalnya jemaah menuju tempat lontar jumrah di antara tenda-tenda di Mina.

“Karena ada sekelompok jemaah yang tiba-tiba berhenti, sehingga terjadi penumpukan dan desak-desakan,” katanya.

2. Jumlah korban

Sampai dengan berita ini diturunkan, ada 453 korban meninggal dunia dan lebih dari 700 jemaah terluka. Keberadaan korban asal Indonesia masih belum jelas.

3. Bukan tragedi yang pertama

Jemaah haji terinjak-injak bukan tragedi yang pertama. Pada 1990, 1.426 jemaah haji meninggal akibat desak-desakan dan saling injak di terowongan Haratul Lisan. Terowongan ini menghubungkan antara tempat melempar jumrahdan Haratul Lisan yang biasa digunakan sebagai tempat mabit (menginap) bagi jemaah haji. Dilaporkan oleh Antara, 631 orang korban meninggal adalah jemaah asal tanah air.

Kasus meninggalnya jemaah haji akibat terinjak-injak kembali terjadi pada 1998 di jembatan penyeberangan Jamarat, Mina. Musibah berawal dari jatuhnya sejumlah jemaah yang kemudian memicu kepanikan jemaah lain yang berada di lokasi kejadian. Tercatat sekitar 180 jemaah meninggal dunia akibat kejadian ini.

Kejadian yang sama di jembatan tersebut berulang pada 2001, 2003, 2004, dan 2006.

4. Cuaca sedang panas-panasnya

Suhu saat kejadian mencapai 50-52 derajat Celcius. Dua belas orang Indonesia sebelumnya diberitakan meninggal karena serangan hawa panas.

5. Hotline

Untuk keluarga jemaah calon haji maupun pihak lain yang ingin memperoleh informasi resmi seputar musibah terinjak-injaknya jemaah di Mina, ada dua nomor telepon yang dapat dihubungi: 00966125458000 dan 009661254960000.

[Foto] Ratusan Jamaah Haji Tewas Terinjak-injak di Mina

0

JAKARTA, Indonesia- Setidaknya 220 orang jemaah haji meninggal terinjak-injak dalam insiden di Mina, dekat Mekah, Arab Saudi, 24 September 2015.
kabar-duka-masjidil-haram-4

TRAGEDI MINA. Foto: Akun twitter resmi Direktur Jenderal Pertahanan Sipil Kerajaan Saudi Arabia @KSA_998

kabar-duka-masjidil-haram

Tim medis berusaha menolong para korban.

kabar-duka-masjidil-haram-2
TRAGEDI MINA. Foto: Akun twitter resmi Direktur Jenderal Pertahanan Sipil Kerajaan Saudi Arabia @KSA_998

 

Tim Medis Menolong Para Korban Mina

TRAGEDI MINA. Foto: Akun twitter resmi Direktur Jenderal Pertahanan Sipil Kerajaan Saudi Arabia @KSA_998

Ratusan Jamaah Haji Tewas Terinjak-injak di Mina

0

JAKARTA, Indonesia — Setidaknya 310 jemaah haji meninggal karena terinjak-injak saat puncak ibadah haji, Kamis, 24 September. Musibah ini terjadi dalam ritual pelemparan jumrah di Mina, sekitar 5 kilometer dari Mekah.

Sakir Khader, seorang jurnalis dari media de Volksrant, Belanda membagikan video yang merekam detik-detik terjadinya musibah ini melalui akun Twitternya:

Mendidik Anak Belajar dari Luqman Al-Hakim [2] – 6 Nasihat Emas tentang Akhlak, Kesabaran, dan Adab

0

Setelah sebelumnya Luqman Al-Hakim menasihatkan anaknya tentang tauhid, syukur, dan shalat, kini dalam lanjutan ayat-ayat Surah Luqman, beliau memberikan bimbingan akhlak dan adab sosial yang mencerminkan pendidikan islami yang paripurna.

Nasihat-nasihat ini mengajarkan bagaimana anak dibentuk menjadi pribadi beriman, berakhlak lembut, rendah hati, dan penuh hikmah dalam berinteraksi.

6. Nasihat untuk Menegakkan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar

Allah ﷻ berfirman:

وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ …

“Dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar.”
(QS. لقمٰن [Luqmān]: 17)

Makna:

  • Amar ma’ruf berarti memerintahkan kepada kebaikan, yaitu segala bentuk ketaatan kepada Allah.

  • Nahi munkar berarti mencegah kemaksiatan, kemungkaran, dan segala hal yang dilarang Allah.

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu dalam Kaifa Nurabbi Awladana menjelaskan:

وامر بالمعروف وانه عن المنكر: دعوة للخير وتربية على المسؤولية الدينية.

“Perintah amar ma’ruf nahi munkar merupakan panggilan kepada kebaikan dan pendidikan tentang tanggung jawab keagamaan.”

Maka orang tua hendaknya menanamkan pada anak tanggung jawab amar ma’ruf nahi munkar dengan hikmah, lemah lembut, dan teladan.


7. Nasihat untuk Bersabar

Allah ﷻ berfirman:

وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”
(QS. لقمٰن [Luqmān]: 17)

Makna:
Luqman menasihati anaknya untuk bersabar dalam menegakkan kebenaran, sebab amar ma’ruf nahi munkar pasti menghadapi ujian dan penolakan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ، وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ، خَيْرٌ مِنَ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ

“Seorang mukmin yang berbaur dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada mukmin yang tidak berbaur dan tidak bersabar atas gangguan mereka.”
(HR. Ibnu Mājah no. 4032, Shahih menurut Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 939)

Keterangan:
Sabar adalah pondasi bagi setiap pendakwah dan pendidik, karena kesabaran menunjukkan kekokohan iman dan kematangan jiwa.


8. Nasihat agar Tidak Sombong

Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong).”
(QS. لقمٰن [Luqmān]: 18)

Makna:
Luqman menasihati agar anaknya tidak menunjukkan wajah angkuh atau merendahkan orang lain saat berbicara.
Kesombongan lahir dari hati yang lupa bahwa semua keutamaan berasal dari Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah bagimu.”
(HR. At-Tirmidzi no. 1956)

Pelajaran:
Senyum, sopan santun, dan tutur lembut adalah bagian dari akhlak mulia yang menumbuhkan kasih sayang dalam masyarakat.


9. Nasihat agar Tidak Berjalan dengan Angkuh

Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
(QS. لقمٰن [Luqmān]: 18)

Makna:
Luqman melarang anaknya berjalan dengan gaya congkak, sebab kesombongan dalam sikap dan langkah menunjukkan hati yang sombong kepada Allah.
Syaikh As-Sa‘di dalam Taisīr Al-Karīm Ar-Raḥmān menjelaskan bahwa ayat ini menanamkan adab rendah hati, bahkan dalam cara seseorang melangkah.


10. Nasihat agar Berjalan Sederhana

Allah ﷻ berfirman:

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ …

“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan.”
(QS. لقمٰن [Luqmān]: 19)

Makna:
Luqman mengajarkan adab keseimbangan dalam berjalan — tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat, namun menunjukkan wibawa dan kesopanan.
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan dalam Madarijus Salikin bahwa kesederhanaan dalam gerak adalah tanda ketenangan hati dan kebersihan jiwa.


11. Nasihat agar Berbicara dengan Suara Lembut

Allah ﷻ berfirman:

وَاغْضُضْ مِن صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

“Dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.”
(QS. لقمٰن [Luqmān]: 19)

Makna:
Luqman menasihati anaknya agar berbicara dengan suara lembut dan sopan.
Syaikh As-Sa‘di menjelaskan dalam tafsirnya:

“Suara keras yang tanpa adab menyerupai teriakan keledai — Allah jadikan perumpamaan ini sebagai celaan bagi orang yang tidak menjaga lisannya.”

Pelajaran:
Berbicara lembut adalah tanda akhlak mulia dan kecerdasan emosional, yang menjauhkan seseorang dari sikap kasar dan arogansi.


Kesimpulan

Nasihat Luqman Al-Hakim mencakup seluruh aspek pendidikan anak:

  1. Tauhid dan akidah yang lurus.

  2. Akhlak dan adab terhadap manusia.

  3. Keseimbangan antara dunia dan akhirat.

Metode Luqman penuh hikmah: beliau menasihati dengan kasih, bukan dengan kemarahan; memberi teladan dengan amal, bukan sekadar ucapan.


Referensi Lengkap

  1. Al-Qur’an: QS. Luqman (31): 13–19

  2. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Aẓīm — Ibnu Katsir, Dārul Kutub Al-‘Ilmiyyah, Jilid 6.

  3. Taisīr Al-Karīm Ar-Raḥmān — Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di, Dār Al-‘Ālamiyyah, hlm. 834.

  4. Kaifa Nurabbi Awladana — Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.

  5. Silsilah Al-Aḥādīts Aṣ-Ṣaḥīḥah — Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, no. 939.

  6. Shahih Sunan Abu Dawud — Syaikh Al-Albani, no. 810.