Home Blog Page 18

Kisah Uwais Al-Qorni

0

Al-Imam Muslim di dalam kitab Shohihnya, beliau menceritakan tentang sosok manusia yang belum pernah dilihat rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam. Dia hidup di masa Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam. Rasul Shalallahu’alaihi wa Sallam menceritakan tentang kisah ini kepada Umar bin Khaththab. Kaana umar bin Khaththab Radhiallahu’anhu,

biasanya umar bin Khaththab ini,

Kalau datang tu pasukan-pasukan dari yaman ke madinah, umar hanya bertanya tentang satu manusia’

Umar: ‘di tengah-tengah kalian ada gak uwais bin amir?’

Terus…. setiap kali datang gak pernah bertemu! Sampai suatu saat ketemu sama uwais bin amir :

Umar: ‘Engkau uwais bin amir?’

Uwais: ‘Iya, aku uwais bin amir’

Umar: ‘Kau dari Murod?, kemudian kamu dari kabilah Qoron?’

Uwais: ‘iya’

Umar: ‘kau punya ibu’

Uwais: ‘iya aku punya ibu’

Dapat nih umar. Ni orang yang dimaksud didepan dia sekarang. Yang dia cari bertahun-tahun kemudian ada di hadapan umar. Apa kata Umar,

Aku mendengar Rasul Shalallahu’alaihi wa Sallam bersabda :

Akan datang nanti Uwais bin Amir, bersama pasukan yaman nantinya. Dari Murod kemudian dari Qoron, dia dulu punya penyakit Barosh. Barosh itu penyakit putih semua, Jama’ah. Mungkin apa sekarang? ada orang yang putih,,rusak kulitnya. Ya antum tahulah barosh itu.

Kemudian dia meminta kepada Allah agar ia disembuhkan, dan disembuhkan semuanya kecuali ada sebesar satu dirham. Katakan di perutnya. Dia tidak minta disembuhkan itu. Supaya dia tahu dan ingat dulu kau punya penyakit itu, lalu Allah sembuhkan.

Setiap kali dia lihat perutnya dia ingat. Nabi ‘alaihi wa sholatu wa sallammu,

dia memiliki ibu, yang Uwais ini berbakti banget sama ibunya. Bayangkan nabi mengatakan, andaikata Uwais bin Amir ini bersumpah. Meminta kepada Allah, Allah kabulkan permintaanmu!

Gak pernah berjumpa pada Rasul Shalallahu’alaihi wa Sallam. Dia memilih berbakti kepada ibunya. Orang-orang kampung berjumpa kepada Rasul Shalallahu’alaihi wa Sallamuntuk mendapatkan Fadhilah syubbah. Menjadi sahabat nabi.

Tapi karena uwais punya ibu, dia berusaha berbakti kepada ibundanya.

Uwais nih kata Rasul Shalallahu’alaihi wa Sallam. Kalau dia bersumpah minta sama Allah, dia mengatakan,

“ya Allah aku minta engkau turunkan hujan, Allah turunkan hujan jama’ah”

Itu kata nabi Shalallahu’alaihi wa Sallam.

Nabi mengatakan kepada Umar,

“kalau kau bisa Umar minta kepada Uwais agar dia memohon ampun untukmu. Kau minta sama Uwais”

Umar bin khatab amirul mukminin disuruh minta doa sama Uwais bin amir jama’ah. Kenapa? Karena dia berbakti kepada Ibundanya.

Kau mohonkan ampun buat aku.

Lalu uwais memohonkan ampun buat Umar bin khattab.

Umar: ‘Kau mau kemana?’

Uwais: ‘Aku mau ke kuffah’

Umar: ‘Aku akan bikin surat buat engkau kepada gubernur kuffah. Agar ia perhatikan kepadamu.

Apa kata Uwais’

Aku jadi orang yang gak dikenal. Gak ada orang yang tahu lebih aku senangi wahai amirul mukminin.

Selesai…

Tahun depannyam,

Orang orang pada haji salah satu dari orang kuffah itu. Berangkat haji. Ditanya! Kau tahu Uwais? Ia, Uwais itu bajunya jelek, Rumahnya juga buruk, kemudian barang-barangnya sedikit. Termaksud orang miskin itu Uwais.

Laulu Umar mengatakan kepada orang ini tentang hadits Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam.

Apa yang terjadi orang ini pulang. Dia cari Uwais di kuffah. Lalu dia mengatakan, mohonkan ampun kepada Allah untukku.

Kata Uwais,

“Engkau yang baru pulang Haji seharusnya engkau yang memohonkan ampun buat aku, kau baru dari perjalanan yang baik. Aku yang seharunya minta kepada engkau agar engkau memohonkan ampun kepada Allah untukku.

Apa kata Uwais,

“Nggak, Engkau yang lebih pantas”

Lalu tetap maksa. uwais mengatakan,

“kau berjumpa dengan Umar?”

“ia” katanya.

Maka uwais akhirnya memohonkan ampun untuk dia, ketika orang-orang tahu dengan Uwais. Uwais menghilangkan dirinya.

Para sejarawan menyebutkan bahwa pernah suatu hari Uwais bin amir ini. Karena dia miskin kadang kala ketempat sampah cari makanan jama’ah.

Orang yang kalau bersumpah minta sama Allah. Allah kabulkan di sebutkan dia suatu hari ke tempat sampah ketika dia mau ambil makanan. Ada anjing yang menggongong disebelah. Apa kata Uwais, kamu makan disisimu, aku makan yang disisiku…

Uwais mengatakan,

Andaikata aku bisa melewati shirot yang berada diatas neraka jahannam, aku lebih baik dari engkau. Tapi kalau aku tidak selamat dari shirot. Kau lebih baik dari pada aku kata Uwais.

Subhanallah…

Seorang yang berbakti kepada orang tuanya, pasti Allah akan kabulkan doanya jama’ah!

Sumber: Catatan Kajian

Kiat-kiat Mendapatkan Anak Sholeh

0

Ma’aa syirol muslimin wal muslimat sidang majelis pemirsa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala muliakan dunia dan akhirat. Banyak orang yang menghayalkan memiliki anak yang sholeh. Mereka mengafal do’a yang memang Allah Subhanahu wa Ta’ala ajarkan. Kita meminta dengan satu model do’a yang Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam ajarkan:

ربي حبلي من الصالحين

Robbi hablii minash shoolihiin.

“Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh”. (QS. Ash Shaffaat: 100)

Al ‘alaamah Ibnul Qoyyim Al Jauziiyah orang yang berani mengatakan bahwa terkadang takdir itu merupakan sebab akibat. Kalau cuma kesholehan dikhayalkan tanpa ada muqodimah dalam perbuatan, inikan mimpi di siang bolong. Anak yang sholeh tidak datang begitu saja, buatlah sebab.

Paling tidak yang pertama,

carilah pasangan yang sholeh dan sholehah karena pasangan yang sholeh dan sholehah ini menjadi penyebab awal dasar orang tersebut memiliki anak-anak yang sholeh.

Yang kedua,

kalau sudah pasangan yang sholeh dan sholehah kita cari. Tolonglah nanti prosesnya pun nanti harus sholeh, sholeh yang dimaksud adalah yang benar seperti apa yang Allah B inginkan:

لقد كان لكم في رسول الله أصوة حسنة

Laqod kaana lakum fii rosuulillahi uswatun hasanah,

“Telah ada suri tauladan yang terbaik pada diri RasulullahG“. (QS Al Ahzab : 21)

Menjadikan Rasul sebagai suri tauladan ini bukan cuma sekedar diucapan, tingkah laku Rasulullah Gyang diterima oleh orang-orang di manapun yang mendengar dakwah beliau. Artinya kesholehan datang dengan mencontoh Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam.

Kalau sudah mencontoh Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam kemudian besarkan anak-anak kita yang Allah titipkan kepada kita di lingkungan yang sholeh juga. Paling tidak yang paling mudahlah sudah. Yah kita membeli rumah tolong dengan cara yang sholeh. Karena sering sekali orang yang membeli rumah ini mendustai orang yang memiliki rumah sebelumnya. Apakah ditakut-takutin, “Ini daerah bakal kena jalur hijau”, orang jual murah. Ataupun ketika membangunnya pun nanti dengan cara yang dzolim atau mungkin dia diam-diam datang ke notaris, minta dikecilkan ukuran bangunannya supaya murah ongkos biaya yang lain-lainnya. Inikan semua bentuk kedzoliman, sementara ayat sudah baku mengatakan:

وما للظالمين من أنصار

Wamaa lidz dzoolimiina min ashoor.

“Tidak akan pernah ada penolong buat orang yang berbuat kedzoliman”.  (QS Al Baqarah 270, Ali Imran 192, Al Maaidah 72).

Kita minta kemuliaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala tadi

ربي حبلي من الصالحين

Robbi hablii minash shoolihiin

Mungkinkah kesholehan datang dengan cara berbuat dzolim? Sementara ada hadits yang mengatakan bahwa:

و إن الله تعالى لا ينال ما عنده إلا بالطاعة وأجمل في طلاب

Wa innallaha ta’ala laa yunaalu maa indahu illaa bith thoo’ah wa ajmilu fi thoolab,

“Sesungguhnya Allah ta’ala seluruh kebaikan yang kalian inginkan adanya disisi Allah, dan tidak mungkin kalian dapatkan yang disisi Allah tanpa menta’ati Allah”. (HR Ibnu Abbas)

 

Sekarang bagaimana kalian khayalkan sebuah kebaikan dengan cara yang Allah Subhanahu wa Ta’ala murkai. Wallahi ya akhii fillah,

وما للظالمين من أنصار

Sampai kapanpun takkan pernah ada penolong buat orang yang berbuat kedzoliman.

Maka jangan cuma dikhayalkan

رب حبلي من الصالحين

ربنا حبلنا من أزواجنا و ذرياتنا قرة أعين وجعلنا للمتقين إماما

Robbi hablii minash shoolihiin, robbanaa hablanaa min azwaajinaa wadzuriyyaatinna qurrota a’yun waj’alnaa lilmuttaqiina imaama.

 

Itukan tinggal do’a, siapapun bisa menghafalnya. Walaupun orang yang mendzolimi Rasul. Walaupun orang yang mendzolimi Abu Bakar dan Umar, pun mereka hafal do’a tersebut. Tapi kalau sebab nggak dibuat bagaimana kemuliaan akan datang?

هل جزاء الإحسان إلا الإحسان

Hal jazaaul ihsaan ilal ihsan

Sudah jelas ayatnya, “Bukankah kebaikan akan datang dengan cara yang baik”. (QS Ar Rahman : 60).

Ayo! Buat kebaikan jangan cuma mengkhayalkan, yaitu menginginkan sebuah kesholehan tanpa sebab. Mudah-mudahan Allah jadikan kita orang yang mengerti bahwa kesholehan itu datang dengan sebab, cara yang betul dengan izin Allah.

Wallahu a’lam bish showwab, akhiiru da’waana ‘anilhamdulillahirobbil ‘aalamiin.. 

Nasihat bagi Pemuda yang Ingin Segera Menikah

0

Penanya:

Saya seorang laki2 usia 29th hijriyah mempunyai keinginan menikah alhmadulillah punya pekerjaan dengan penghasilan 2,5-3jt rupiah. qodarullah keinginan saya ini belum terwujud saya merasa terbentur dengan ijin orang tua. karena orang tua menginginkan saya membantu keluarga dulu. Kekhawatirran jika sudah menikah kurang atau tidak membantu. ada kakak perempuan saya belum menikah dan sudah dilewati yang nomer 3. realita mengadakan acara pernikahan memerlukan biaya besar karena mengikuti pola keumuman. sedangkan orang tua awam dengan walimah syari yang sederhana yang biayanya saya tanggung sendiri

Jawaban:
jadi jamaah kalau antum saat bujangan ngasih satu juta, ketika antum menikah jangan dikurangi dan jangan takut antum ketika ngasih orangtua duitnya berkurang, enggaak.

ketika orang2 bertanya pada Rasul Shalallaahu’alaihi wa Sallam, mereka bertanya apa yang harus mereka infakkan dan kepada siapa mreka menginfakkan

katakan kepada mereka muhammad, bahwa apa yang kalian infakkan dari harta itu yang paling berhak mendapatkannya adalah kedua orang tua.

maka katakan kepada orangtua ayah ibu aku nikah insya Allah, insya Allah apa yang biasa aku berikan kepadamu, aku berikan kepadamu

bagaimana dengan istri kita, ingat istri kita itu bawa rizki sendiri
istri kita tu ga makan rizki kita, jangan berfikir ketika kita menikah istri kita tu makan rizki kita.

ana yakin 100% ketika ana nikah subhanallah
ana nikah itu utang, mahasiswa kawin gak punya duit
tapi gmana anak muda sudah menggebu2
ngomong sama orang tua mau zuwwat ini, tapi gak punya fulus

kata umi aada ada fulusnya nih, ternyata beberapa yang ana kasih disimpen sama umi, ini buat mahar kata umi.

tapi gimana gak ada mas-masan buat istrimu, ana punya hp, jual hp

bismillah nikah
ane ke madinah bawa utang

subhanallah

ketika ana bujangan ana tidak bisa membeli mobil
ketika ana menikah ana bisa membeli mobil di madinah
rizkinya siapa, rizkinya istri
dan yang ana berikan kepada ke orangtua tetep tidak berkurang
kenapa karena rizki kita anak kita bawa rizki sendiri

jangan berfikir makan rizki kita enggak,

nanti selesainya allah yang melanjutkan

sampaikan kepada orangtua insya Allah kalau abah umi takut ana kurangi pemberiannya, apa yg biasa ana berikan insya Allah akan ana berikan dan lebih.

tolong doakan kalau kita bisa melakukan, insya allah orang tua ridho
berkaitan dengan walimah, butuh pendekatan kepada orang tua, tunjukkan kebaikan kita pada orang tua, masalah rizki jangan takut

tiap pagi nabi itu berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

Allahumma inni as aluka ‘ilman naafi’aa wa rizqan toyyibaa wa ‘amalan mutaqabbalaa

“Ya Allah, sungguh aku memohon kepadaMu ilmu yang manfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima.”
(HR. Ibnu As-Sunni dan Ibnu Majah)

tiap hari antum baca

Sumber: Catatan Kajian

Langkah Menuju Sukses

0

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saudaraku seiman dan seaqidah di manapun anda berada. Kehidupan di dunia pasti perlu dengan tantangan, derita, musibah, kegagalan dan berbagai hal yang kalau anda pikirkan terasa sesak di hati, sakit di hati. Semakin anda pikirkan semakin anda mungkin berputus asa, tidak kuasa menahannya.

Namun tahukah anda? Bahwa satu derita, akan melupakan derita yang lainnya. Derita hari ini melupakan derita hari kemarin, derita hari esok akan melupakan derita hari ini. Itulah dinamika kehidupan.

Kalian jangan berputus asa. Semuanya itu akan berlalu. Itulah kehidupanmu. Itulah sejarah yang terus akan berputar, tidak akan pernah berhenti di satu tempat. Karenanya janganlah derita hari ini kemudian anda berputus asa. Tidak sepantasnya seorang muslim patah arah hanya karena tantangan, yang di hadapi hari ini seberat apapun. Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam mengatakan,

لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ

Laa yatamannayanna ahadukum al mauta lidhurrin nazala bihi.

Jangan pernah anda merasa putus asa, sampai-sampai anda merasa perlu untuk meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar segera di matikan, agar segera di akhiri hayat anda. Hanya karena apa, hanya karena tidak kuasa menahan beban hidup. Tidak kuasa menahan derita hidup kemudian anda putus asa.

Percayalah hari akan terus berputar, kondisi akan terus berubah. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah menentukan, tidak pernah membuat dunia ini kekal bagi siapa pun. Lihatlah betapa banyak orang yang sukses sebelum anda sekarang mereka tinggal kenangan dalam sejarah. Betapa banyak orang yang menderita dalam sejarah, namun di saat ini mereka orang yang paling banyak tersenyum karena telah berbahagia. Mereka tidak lagi ingat akan apa yang mereka telah lalui hari kemarin. Demikian juga dengan diri anda. Jangan pernah anda putus asa.

Ingat! Optimislah bahwa rejeki semua di tangan Allah, Qodrat semua ada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semboyan seorang muslim,

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلانَا

Qul lay yusiibanaa ilaa maa kataballahu lanaa huwa maulaanaa.

Tidak akanlah ada, tidak mungkin ada apapun yang menimpa anda baik itu bencana atau apapun wujudnya kecuali itu telah merupakan garis, merupakan suratan takdir yang telah Allah tuliskan”. (QS At Taubah 51)

Sabar, tabah, terima apapun kondisi yang ada dan semuanya itu pasti akan berlalu. Bahkan sebagai orang beriman pantasnya anda bersyukur. Semakin berat dalam hidup, semakin besar ujian hidup anda itu cermin bahwasanya anda adalah orang besar. Orang yang Allah siapkan untuk menjadi orang yang besar.

Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam mengatakan,

أَشَدُّ بَلاَءً الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ

Assyaddu balaaan al anbiyaau tsummal amtsal fala amstal.

Orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi kemudian orang yang di bawah mereka dan seterusnya sesuai dengan tingkat keimanannya”. [HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad (1/185). Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 3402 mengatakan bahwa hadits ini shahih]

Karenanya ingat Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan hidup dinamika di dunia ini,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Wa lanabluwannakum bisyaiin minal khoufi wal juu’i naqshin minal amwaali wal anfusi wats tsamaraat wa basysyirish shobirin.

Sungguh pasti kami akan menguji kalian dari sedikit rasa khauf (merasa takut), kekurangan harta”. (QS Al Baqarah 155)

Ada orang yang meninggal dunia dan juga karena kekurangan, paceklik, kekeringan, kemarau itu adalah sesuatu hal yang wajar. Janganlah anda takut, janganlah anda gentar apalagi anda putus asa, percayalah masa depan anda ada di tangan anda, ada di lembaran sejarah anda. Masing-masing kita membawa kodrat sukses dalam hidup ini.

Namun yang sering kali yang menyebabkan kita sering merasa gagal adalah karena kita tidak menyadari bahwa kita sedang meniti sebuah langkah. Melangkah lah suatu langkah demi langkah untuk menuju pada sukses. Derita demi derita itu adalah anak tangga untuk sampai tahapan sukses. Sebagaimana dahulu anda kecil tertatih-tatih berjalan, terjatuh bangun, terjatuh bangun namun pada saatnya toh anda juga pandai berlari. Demikianlah gambaran hidup tidak pernah ada yang abadi karenanya tadi telah disampaikan itulah dinamika kehidupan yang terus akan berputar.

Percaya, anda tidak akan di jemput oleh ajal anda kecuali benar benar qodrat sukses anda benar-benar anda genggam dan tidak mungkin ada orang lain yang merebutnya dari tangan anda.

Semoga pesan singkat ini dapat memotivasi anda sehingga anda tidak pernah putus asa. Sehingga anda tidak pernah ditimpa rasa putus asa seberat apapun tantangan hidup di dunia ini.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sumber: Catatan Kajian

Rahasia Datangnya Rezeki

0

Terkadang di dalam kehidupan kita, di dalam keseharian kita, kita tergoda untuk mengambil, untuk mendekati harta yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka diantara hal yang bisa menguatkan kita untuk menjauhinya dan senantiasa mengambil harta yang halal adalah dengan kita meyakini bahwa rizki kita telah di tentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, Telah ditakdirkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bahkan ketika kita berusia 4 bulan di dalam rahim ibu kita maka rizki kita telah dicatatkan oleh malaikat yang diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka janganlah kita, menganggap rizki kita datang terlambat dan janganlah kita mangambil harta yang haram. Namun yakinlah bahwasanya rizki yang halal akan datang dari arah yang kita tidak duga. Sebagaimana kematian akan mendatangi kita di arah yang kita tidak duga.

Nabi Shalallaahu’alaihi wa Sallam pernah bersabda,

إِنَّ الرِّزْقَ لَيَطْلُبُ الْعَبْدَ كَمَا يَطْلُبُهُ أَجَلُهُ
“Sesungguhnya rizki seorang hamba akan mencari dirinya sebagaimana kematian akan mencarinya” [HR Ibnu Hibban (1087-Mawarid) dan lainnya, dari Sahabat Abud-Darda’. Hadits ini memiliki penguat dari Sahabat Jabir yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul-Auliya`. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al Albani dalam Silsilah al-Ahadiits ash-Shahihah no. 952]

Maka yakinlah bahwasanya ketika kita bertaqwa kepada Allah. Maka rizki yang halal akan mendatangi kita di tempat dan arah yang kita tidak duga, sabagaimana kematian akan mendatangi kita di arah yang kita tidak duga.

Sumber: Catatan Kajian

Bacaan Dzikir Petang 1

0

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَعَالَى مِنْ صَلَاةِ الْغَدَاةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيلَ وَلَأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَى أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَيَّ مَنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً

dari Anas bin Malik ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh, aku duduk bersama kaum yang berdzikir kepada Allah Ta’ala dari shalat Subuh hingga terbit matahari lebih aku sukai daripada aku membebaskan empat anak Isma’il. Dan sungguh aku duduk bersama suatu kaum yang berdzikir kepada Allah dari Shalat ‘Ashar hingga matahari tenggelam adalah lebih aku sukai daripada aku membebaskan empat orang budak.” (HR. Abu Daud no. 3182)

Berikut beberapa di antara dzikir-dzikir ketika pagi hari yang senantiasa dibaca oleh Nabi shalallahu’alaihi wa sallam.

 

(1) Membaca surat An-naas, Al-Falaq, dan Al-Ikhlash [3 kali]

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas: 1-4) (Dibaca 3 x)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ  وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai Shubuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”. (QS. Al Falaq: 1-5) (Dibaca 3 x)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb manusia. Raja manusia. Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia.” (QS. An Naas: 1-6) (Dibaca 3 x)

 

Dalilnya;

عَنْ مُعَاذِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ خُبَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْنَا فِي لَيْلَةِ مَطَرٍ وَظُلْمَةٍ شَدِيدَةٍ نَطْلُبُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُصَلِّيَ لَنَا فَأَدْرَكْنَاهُ فَقَالَ أَصَلَّيْتُمْ فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا فَقَالَ قُلْ فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ قُلْ فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ قُلْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَقُولُ قَالَ قُلْ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ حِينَ تُمْسِي وَحِينَ تُصْبِحُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ

“dari Mu’adz bin Abdullah bin Khubaib dari bapaknya ia berkata; “pada malam hujan lagi gelap gulita kami keluar mencari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk shalat bersama kami, lalu kami menemukannya, beliau bersabda; “apakah kalian telah shalat?”, namun sedikitpun aku tidak berkata-kata, beliau bersabda; “katakanlah”, namun sedikitpun aku tidak berkata-kata, beliau bersabda; “katakanlah”, namun sedikitpun aku tidak berkata-kata, kemudian beliau bersabda; “katakanlah”, hingga aku berkata; “wahai Rasulullah, apa yang harus aku katakan?, Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda; “katakanlah (bacalah surat) QUL HUWALLAHU AHAD DAN QUL A’UDZU BIRABBINNAAS DAN QUL A’UDZU BIRABBIL FALAQ ketika sore dan pagi tiga kali, maka dengan ayat-ayat ini akan mencukupkanmu (menjagamu) dari segala keburukan.” ” (HR. Abu Daud no. 4419 dalam Sunannya, kitab Adab)

 

 

(2) Membaca:

اللَّهُمَّ بِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ أَصْبَحْنَا،وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوتُ، وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ

Allahumma bika amsaynaa wa bika ash-bahnaa wa bika nahyaa wa bika namuutu wa ilaikal mashiir.

Artinya:

“Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu petang, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi. Dengan rahmat dan pertolonganMu kami hidup dan dengan kehendakMu kami mati. Dan kepada-Mu tempat kembali (bagi semua makhluk).” (Dibaca 1 x)

 

Dalilnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَصْبَحْتُمْ فَقُولُوا اللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ أَمْسَيْنَا وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوتُ وَإِذَا أَمْسَيْتُمْ فَقُولُوا اللَّهُمَّ بِكَ أَمْسَيْنَا وَبِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوتُ وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian berada di pagi hari, maka ucapkanlah; “Allahumma bika ashbahna wabika amsaina wabika nahya wabika namut (Ya Allah, dengan-Mu kami di pagi hari, dan dengan-Mu kami di sore hari, dengan-Mu kami hidup dan dengan-Mu kami mati).” Dan jika berada di sore hari, maka ucapkanlah “Allahumma bika amsayna wabika ashbahna wabika nahya wabika namut wa ilaikal mashir (Ya Allah, dengan-Mu kami di sore hari, dan dengan-Mu kami di pagi hari, dengan-Mu kami hidup dan dengan-Mu kami mati).” (HR. Ibnu Majah no. 3858)

 

 

(3) Membaca:

أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ للهِ، وَالْحَمْدُ للهِ، لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهَا، وَأَعُوذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا، رَبِّ أَعُوذُبِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوذُبِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ

Amsaynaa wa amsal mulku lillah walhamdulillah, laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodir. Robbi as-aluka khoiro maa fii hadzihil lailah wa khoiro maa ba’dahaa, wa a’udzu bika min syarri maa fii hadzihil lailah wa syarri maa ba’dahaa. Robbi a’udzu bika minal kasali wa suu-il kibar. Robbi a’udzu bika min ‘adzabin fin naari wa ‘adzabin fil qobri. 

 

Dalilnya:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَى أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ زَادَ فِي حَدِيثِ جَرِيرٍ وَأَمَّا زُبَيْدٌ كَانَ يَقُولُ كَانَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ سُوَيْدٍ يَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهَا وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكَسَلِ وَمِنْ سُوءِ الْكِبَرِ أَوْ الْكُفْرِ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ وَإِذَا أَصْبَحَ قَالَ ذَلِكَ أَيْضًا أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ

“dari ‘Abdurrahman bin Yazid dari Abdullah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika tiba waktu sore beliau membaca: “AMSAIANA WA AMSAL MULKU LILLAHI LAA ILAAHA ILLAALLAHU WADAHU LAA SYARIIKALAHU (Kami berada di waktu sore dan kerajaan hanya milik Allah, tidak ada Tuhan selain Allah semata; tidak ada sekutu bagi-Nya).” Dalam hadits Jarir ditambahkan; Zubaid berkata berkata; Ibrahim bin Suwaid menyebutkan, “LAA ILAAHA ILLAALLAHU WAHDAHU LAA SYARIIKALAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALA KULLI SYAI`IN QADIIR RABBI AS`ALUKA KHAIRA MAA FI HAADZIHIL LAILATI WA KHAIRA MAA BA’DAHAA WA A’UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA FI HAADZIHIL LAILATI WA SYARRI MAA BA’DAHAA RABBI A’UUDZU BIKA MINAL KASALI WA MIN SUU`IL KIBARI -Al KUFRI- RABBI A’UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABINNAARI WA ‘ADZAABIN FIL QABRI (Tidak tuhan yang disembah selain Engkau semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya semua kerajaan dan pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabb, aku minta kepada-Mu kebaikan malam ini dan kebaikan setelahnya, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan malam ini dan keburukan setelahnya. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan dari buruknya kesombongan -dalam riwayat lain; dari kekafiran-. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka dan siksa kubur).” Dan jika tiba waktu pagi beliau juga membaca doa tersebut: ‘ASHBAHNAA WA ASHBAHAL MULKU LILLAHI (kami berada di waktu pagi, dan kerajaan hanya milik Allah..)”  (HR. Abu Daud no. 4409 dalam Sunannya, kitab Adab)

 
(4) Membaca Sayyidul Istighfar

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.

Allahumma anta robbii laa ilaha illa anta, kholaqtanii wa anaa ‘abduka wa anaa ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mas-tatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu. Abu-u laka bi ni’matika ‘alayya wa abu-u bi dzambii. Fagh-firlii fainnahu laa yagh-firudz dzunuuba illa anta.

“Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku pada-Mu (yaitu aku akan mentauhidkan-Mu) semampuku dan aku yakin akan janji-Mu (berupa surga untukku). Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.” (Dibaca 1 x)

 

Dalilnya:

عَنْ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ أَوْ حِينَ يُمْسِي

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.

فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ أَوْ مِنْ لَيْلَتِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“dari Ibnu Buraidah, dari Bapaknya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa ketika waktu pagi dan sore membaca: ALLAHUMMA ANTA RABBII LAA ILAAHA ILLA ANTA KHALAQTANII WA ANA ABDUKA WA ANA ‘ALAA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHA’TU A’UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA’TU ABUU-U LAKA BINI’MATIKA WA ABUU-U BI DZANBII FAGHFIRLII INNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLA ANTA (Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Tuhan selain Engkau. Engkau ciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam perjanjian-Mu dan aku akan menepati perjanjian-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan diriku, aku mengakui semua nikmat-Mu kepadaku dan dosaku kepada-Mu, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang bisa mengampuni kecuali Engkau).” Lalu ia meninggal pada hari itu atau pada malam harinya, maka ia akan masuk ke dalam surga.” ” (HR. Abu Daud no. 4408 dalam Sunannya, kitab Adab)

 

 

(5) Membaca:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ

Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fid dunyaa wal aakhiroh. Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fii diinii wa dun-yaya wa ahlii wa maalii. Allahumas-tur ‘awrootii wa aamin row’aatii. Allahummahfazh-nii mim bayni yadayya wa min kholfii wa ‘an yamiinii wa ‘an syimaalii wa min fawqii wa a’udzu bi ‘azhomatik an ughtala min tahtii.

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari muka, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (oleh ular atau tenggelam dalam bumi dan lain-lain yang membuat aku jatuh).” (Dibaca 1 x)

 

Dalilnya:

عَنْ جُبَيْرِ بْنِ أَبِي سُلَيْمَانَ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَعُ هَؤُلَاءِ الدَّعَوَاتِ حِينَ يُمْسِي وَحِينَ يُصْبِحُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَتِي وَقَالَ عُثْمَانُ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي وَمِنْ فَوْقِي وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي

“dari Jubair bin Sulaiman bin Jubair bin Muth’im ia berkata; Aku mendengar Ibnu Umar berkata, “Belum pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggalkan doa-doa tersebut saat tiba waktu sore dan pagi hari: “ALLAHUMMA INNII AS`ALUKAL AFWA WAL ‘AAFIYAH FIDDUNYAA WAL AAKHIRAH ALLAHUMMA INNII AS`ALUKAL ‘AFWA WAL ‘AAFIYATA FI DIINII WA DUNYAAYA WA AHLII WA MAALII ALLAHUMMASTUR ‘AURATII -Utsman menyebutkan dengan lafadz- “‘AURAATII WA AAMIN RAU’AATII ALLAHUMMAHFADZHNII MIN BAINI YADAYYA WA NIN KHALFII WA ‘AN YAMIINII WA ‘AN SYIMAALII WA MIN FAUQII WA A’UUDZU BI’AZHAMATIKA AN UGHTAALA MIN TAHTII (Ya Allah, aku memohon kepada-mu keselamatan di dunia dan di akhirat. Ya Allah, aku mohon kepada-Mu pemaafan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan harta. Ya Allah, tutupilah auratku, -Utsman menyebutkan dengan lafadz- “Auratku, dan amankanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, jagalah aku dari depan, belakang, sisi kanan, sisi kiri, dan dari atas. Aku berlindung kepada-Mu dengan kebesaran-Mu agar aku tidak diserang dari arah bawah.” ” (HR. Abu Daud no. 4412 dalam Sunannya, kitab Adab)

 

 

(6) Membaca:

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ

Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.

“Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Bagi-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu.” (Dibaca 1o x)

Dalilnya:

عَنْ ابْنِ أَبِي عَائِشٍ وَقَالَ حَمَّادٌ عَنْ أَبِي عَيَّاشٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ إِذَا أَصْبَحَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ كَانَ لَهُ عِدْلَ رَقَبَةٍ مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيلَ وَكُتِبَ لَهُ عَشْرُ حَسَنَاتٍ وَحُطَّ عَنْهُ عَشْرُ سَيِّئَاتٍ وَرُفِعَ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ وَكَانَ فِي حِرْزٍ مِنْ الشَّيْطَانِ حَتَّى يُمْسِيَ وَإِنْ قَالَهَا إِذَا أَمْسَى كَانَ لَهُ مِثْلُ ذَلِكَ حَتَّى يُصْبِحَ

“dari Abu Ayyasy bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa di waktu pagi membaca: LAA ILAAHA ILLAALLAHU WAHDAHU LAA SYARIIKALAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLU SYAI`IN QADIIR (Tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu). Maka ia akan mendapatkan pahala senilai memerdekakan seorang budak dari keturunan Isma’il, akan dituliskan untuknya sepuluh kebaikan, dihapus darinya sepuluh dosa, dan ia akan dinaikkan sepuluh derajat. Dia juga akan dijaga dari setan hingga datang waktu sore. Jika pada waktu sore ia membaca doa itu maka ia akan mendapatkan yang seperti itu hingga tiba waktu pagi.”” (HR. Abu Daud no. 4415 dalam Sunannya, kitab Adab)

 

 

(7) Membaca:

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai-un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘aliim.

“Dengan nama Allah yang bila disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Dibaca 3 x)

 

Dalilnya:

عَنْ عُثْمَانَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لَمْ تَفْجَأْهُ فَاجِئَةُ بَلَاءٍ حَتَّى اللَّيْلِ وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُمْسِي لَمْ تَفْجَأْهُ فَاجِئَةُ بَلَاءٍ حَتَّى يُصْبِحَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“dari Utsman bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa membaca ‘BISMILLAAHIL LADZII LAA YADHURRU MA’AS MIHI SYAI’UN FIL ARDHI WALA FIS SAMAA’WAHUWAS SAMII’UL ‘ALIIM‘ (dengan nama Allah, dengan nama-Nya tidak akan berbahaya sesuatu yang ada di bumi maupun yang ada di langit, dan Dia maha mendengar lagi maha mengetahui) sebanyak tiga kali, maka tidak akan dikejutkan oleh suatu kejutan berupa penyakit hingga malam hari, dan barangsiapa membacanya di waktu sore maka tidak akan dikejutkan oleh suatu kejutan berupa penyakit hingga pagi hari jika Allah menghendaki.”” (HR. Ahmad no. 497 dalam Musnadnya)

 

 

(8) Membaca:

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ

Subhanallah wa bi-hamdih.

“Maha suci Allah, aku memuji-Nya.” (Dibaca 100 x)

Dalilnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ مِائَةَ مَرَّةٍ لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ

“dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengucapkan diwaktu pagi dan sore hari: SUBHAANAALLAH WA BIHAMDIHI (Maha suci Allah, aku memuji-Nya) sebanyak seratus kali, maka pada hari kiamat tidak ada yang datang dengan membawa pahala yang lebih utama kecuali orang yang mengucapkan seperti apa yang diucapkannya atau yang lebih banyak dalam mengucapkannya.”” (HR. Ahmad no. 8479 dalam Musnadnya)

Doa Masuk ke dalam Pasar, Swalayan, dan Mall

0

Berikut merupakan doa yang Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam ajarkan tatkala seorang hendak masuk ke dalam pasar atau pusat perbelanjaan.

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ فِي سُوقٍ

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِهَا أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ وَمَحَا عَنْهُ بِهَا أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ وَبَنَى لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“dari Umar dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa membaca ketika berada di pasar;

‘Laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariikalahu lahul mulku walhul hamdu biyadihil khair yuhyii wayumiitu wa huwa ‘alaa kulli sya’in qodiir’

(tidak ada tuhan yang berhak untuk disembah kecuali Allah yang maha Esa tidak ada sekutu bagiNya, milikNyalah segala kerajaan dan segala pujian, di tanganNyalah segala kebaikan, Dialah yang menghidupkan dan mematikan dan Dia maha berkuasa atas segala sesuatu) ‘maka Allah akan mencatat untuknya satu juta kebaikan, menghapus darinya satu juta keburukan dan membangunkan baginya sebuah rumah di Syurga.” (HR. Ahmad no. 309)

Doa Masuk ke Kamar Mandi

0

Berikut merupakan doa yang Nabi shalallahu’alaihi wa sallam ajarkan ketika hendak masuk ke kamar mandi.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ قَالَ

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

“dari [Anas bin Malik] radliallahu ‘anhu dia berkata; “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hendak masuk jamban (kamar mandi), beliau mengucapkan:

ALLAHUMMA INNI A’UUDZUBIKA MINAL KHUBUTSI WAL KHABAAITSI

(Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki maupun perempuan) ‘.” (HR. Bukhori no. 5847)

Doa dan Dzikir sebelum Tidur 2

1

(4) Membaca Tasbih 33x, Tahmid 33x, dan Takbir 34x

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ أَنَّ فَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلَام أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْأَلُهُ خَادِمًا فَقَالَ أَلَا أُخْبِرُكِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكِ مِنْهُ تُسَبِّحِينَ اللَّهَ عِنْدَ مَنَامِكِ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَتَحْمَدِينَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَتُكَبِّرِينَ اللَّهَ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ ثُمَّ قَالَ سُفْيَانُ إِحْدَاهُنَّ أَرْبَعٌ وَثَلَاثُونَ فَمَا تَرَكْتُهَا بَعْدُ قِيلَ وَلَا لَيْلَةَ صِفِّينَ قَالَ وَلَا لَيْلَةَ صِفِّينَ

 

“dari Ali bin Abu Thalib bahwasanya; Fathimah Alaihas Salam datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk meminta Khadim (seorang pembantu), maka beliau bersabda: “Maukah kamu aku beritahukan sesuatu yang lebih baik darinya? Bertasbihlah kepada Allah saat kamu hendak tidur sebanyak tiga puluh tiga kali, kemudian bertahmid tiga puluh tiga kali dan bertakbir sebanyak tiga puluh empat kali.” Sufyan berkata; “Satu diantaranya adalah sebanyak tiga puluh empat kali, maka setelah itu aku tidak pernah meninggalkannya.” Di tanyakan kepadanya, “Meskipun pada malam perang Shiffin?” Ia menjawab, “Meskipun pada malam perang Shiffin.” ” (HR. Bukhori no. 4943)

 

(5) Membaca:

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ قَالَ

بِاسْمِكَ أَمُوتُ وَأَحْيَا

“dari Hudzaifah bin Yaman dia berkata; “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hendak tidur, beliau mengucapkan: ‘Bismika amuutu wa ahya (Dengan nama-Mu aku mati dan aku hidup).’ ” (HR. Bukhori no. 5837)

 

(6) Membaca:

عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصَى رَجُلًا فَقَالَ إِذَا أَرَدْتَ مَضْجَعَكَ فَقُلْ

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لَا مَلْجَا وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

فَإِنْ مُتَّ مُتَّ عَلَى الْفِطْرَةِ

“dari Al Barra` bin ‘Azib bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mewasiatkan kepada seseorang, beliau bersabda: ‘Apabila kamu hendak tidur, maka ucapkanlah;

ALLAHUMMA ASLAMTU NAFSI ILAIKA WA FAWWADHTU AMRII ILAIKA WA WAJJAHTU WAJHII ILAIKA WA ALJA`TU ZHAHRII ILAIKA RAGHBATAN WA RAHBATAN ILAIKA LAA MALJAA WALAA MANJAA MINKA ILLA ILAIKA AMANTU BIKITAABIKA ALLADZII ANZALTA WA BINABIYYIKALLADZII ARSALTA

(Ya AIlah ya Tuhanku, aku berserah diri kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dalam keadaan harap dan cemas, karena tidak ada tempat berlindung dan tempat yang aman dari adzab-Mu kecuali dengan berlindung kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan aku beriman kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus).’

Apabila kamu meninggal (pada malam itu) maka kamu meninggal dalam keadaan fitrah (suci).” (HR. Bukhori no. 5838)

 

Bacaan Dzikir Setelah Shalat

0

Berikut dzikir-dzikir yang senantiasa dibaca oleh Nabi Shalallahu’alaihi wa Sallam ketika setelah shalat.

 

(1) Ber-istighfar sebanyak 3 kali, kemudian membaca:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ (3x)

اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ

Astagh-firullah 3x

Allahumma antas salaam wa minkas salaam tabaarokta yaa dzal jalaali wal ikrom.

“Aku minta ampun kepada Allah,” (3x).

“Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dariMu keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Yang Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.”

 

Dalilnya:

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ قَالَ الْوَلِيدُ فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ كَيْفَ الْاسْتِغْفَارُ قَالَ تَقُولُ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ

“dari [Tsauban] dia berkata; “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai shalat, beliau akan meminta ampunan tiga kali dan memanjatkan doa ALLAAHUMMA ANTAS SALAAM WAMINKAS SALAAM TABAARAKTA DZAL JALAALIL WAL IKROOM (Ya Allah, Engkau adalah Dzat yang memberi keselamatan, dan dari-Mulah segala keselamatan, Maha Besar Engkau wahai Dzat Pemilik kebesaran dan kemuliaan.” Kata [Walid]; maka kukatakan kepada [Auza’i] “Lalu bagaimana bila hendak meminta ampunan?” Jawabnya; ‘Engkau ucapkan saja Astaghfirullah, Astaghfirullah.”” (HR. Muslim no. 931)

 

(2) Membaca:

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ، اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.

Allahumma laa maani’a limaa a’thoyta wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu.

“Tiada Rabb yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya puji dan bagi-Nya kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal shalihnya yang menyelamatkan dari siksaan). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan.”

 

Dalilnya:

عَنْ وَرَّادٍ كَاتِبِ الْمُغِيرَةِ قَالَ كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى الْمُغِيرَةِ اكْتُبْ إِلَيَّ مَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَتَبَ إِلَيْهِ إِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

“dari Warrad juru tulis Mughirah, berkata, “Mu’awiyah berkirim surat kepada Mughirah, ‘Tolong tulislah kepadaku segala yang kau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam! Lantas Mughirah menulis ‘Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam sehabis shalat selalu memanjatkan doa: LAA-ILAAHA ILLALLAAH, WAHDAHU LAA SYARIIKA LAHU, LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI`IN QADIIR, ALLAAHUMMA LAA MAANI’A LIMAA A’THAITA WALAA MU’THIYA LIMAA MANA’TA WALAA YANFA’U DZAL JADDI MINKAL JADDU (Tiada sesembahan yang hak selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, Milik-Nya lah segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji dan Dia Maha berkuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tiada yang menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang bisa memberi apa yang Engkau cegah, dan tidak bermanfaat kekayaan, dari-Mulah segala kekayaan)..” (HR. Bukhori no. 6748)

 

(3) Membaca:

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ

Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.

Laa hawla wa laa quwwata illa billah. Laa ilaha illallah wa laa na’budu illa iyyaah. Lahun ni’mah wa lahul fadhlu wa lahuts tsanaaul hasan.

Laa ilaha illallah mukhlishiina lahud diin wa law karihal kaafiruun.

Tiada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujaan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya nikmat, anugerah dan pujaan yang baik. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah kepadaNya, sekalipun orang-orang kafir sama benci.”

Dalilnya:

عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الزُّبَيْرِ عَلَى الْمِنْبَرِ يَقُولُ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ الصَّلَاةِ يَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ أَهْلُ النِّعْمَةِ وَالْفَضْلِ وَالثَّنَاءِ الْحَسَنِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْأَنْبَارِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدَةُ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ قَالَ كَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ يُهَلِّلُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ فَذَكَرَ نَحْوَ هَذَا الدُّعَاءِ زَادَ فِيهِ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ لَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ لَهُ النِّعْمَةُ وَسَاقَ بَقِيَّةَ الْحَدِيثِ

“dari Abu Az Zubair, ia berkata; saya mendengar Abdullah bin Az Zubair di atas mimbar berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila selesai dari shalat mengucapkan: “LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAHU LAA SYARIIKALAHU, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI-IN QADIIR, LAA ILAAHA ILLALLAAHU MUKHLISHIINA LAHUD DIIN, WALAU KARIHAL KAAFIRUUN, AHLUN NI’MATI WAL FADHLI WATS TSANAAIL HASAN, LAA ILAAHA ILLALLAAHU MUKHLISHIINA LAHUD DIIN WALAU KARIHAL KAAFIRUUN.” (Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, milikNya seluruh kerajaan, dan bagi-Nya segala puji dan Dia Maha Mampu melakukan segala sesuatu, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Kami memurnikan ketundukan kepadaNya, walaupun orang-orang kafir merasa tidak senang. Dialah Yang Pemilik segala kenikmatan, karunia serta pujian yang baik. Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Kami memurnikan ketundukan kepadaNya walaupun orang-orang kafir merasa tidak senang). Telah menceritakan kepada Kami Muhammad bin Sulaiman Al Anbari, telah menceritakan kepada Kami ‘Abdah dari Hisyam bin ‘Urwah dari Abu Az Zubair, ia berkata; Abdullah bin Az Zubair bertahlil setiap selesai shalat, kemudian menyebutkan doa seperti ini dan ia menambahkan; LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH, LAA ILAAHA ILLALLAAHU, LAA NA’BUDU ILLAA IYYAAHU, LAHUN NI’MATU (tidak ada daya dan kekuatan kecuali karena Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Kami tidak menyembah kecuali hanya kepadaNya, bagiNya segala kenikmatan), dan ia menyebutkan kelanjutan hadits tersebut.” (HR. Abu Daud no. 1288)

 

(4) Membaca:

سُبْحَانَ اللهِ (33 ×)

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ (33 ×)

اَللهُ أَكْبَرُ (33 ×)

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ

Subhanallah (33x)

Al hamdulillah (33x)

Allahu akbar (33 x)

Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.

“Maha Suci Allah (33 x), segala puji bagi Allah (33 x), Allah Maha Besar (33 x). Tidak ada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan. Bagi-Nya pujaan. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Dalilnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

“dari [Abu Hurairah] dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Barangsiapa bertasbih kepada Allah sehabis shalat sebanyak tiga puluh tiga kali, dan bertahmid kepada Allah tiga puluh tiga kali, dan bertakbir kepada Allah tiga puluh tiga kali, hingga semuanya berjumlah sembilan puluh sembilan, -dan beliau menambahkan- dan kesempurnaan seratus adalah membaca Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku walahul walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai’in qadiir, maka kesalahan-kesalahannya akan diampuni walau sebanyak buih di lautan.”” (HR. Muslim no. 939)