Home Blog Page 14

Mensyukuri Nikmat Allah

0

Mensyukuri Nikmat Allah

 

Mensyukuri nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan merupakan ciri dari orang-orang yang beriman. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda, dari sahabat Shuhaib bin Sinan radhiallaahu’anhu, 

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Segala keadaan yang dialaminya sangat menakjubkan. Setiap takdir yang ditetapkan Allah bagi dirinya merupakan kebaikan. Apabila dia mengalami kebaikan, dia bersyukur, dan hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia tertimpa keburukan, maka dia bersabar dan hal itu merupakan kebaikan baginya” (HR. Ahmad 5318/ 2999)

 

Akan tetapi, bagaimana cara memaknai bersyukur kepada Allah Ta’ala?

Para ulama menjelaskan bahwa seseorang dinamakan bersyukur ketika ia memenuhi 3 rukun syukur:

  1. mengakui nikmat tersebut secara batin (dalam hati),
    Yaitu dengan meyakini bahwasanya nikmat yang telah didapatkan semata-mata adalah dari Allah Ta’ala 
  2. mengucapkan nikmat tersebut secara zhohir (dalam lisan),
    Yaitu dengan mengucapkan “alhamdulillah” dalam setiap mengungkapkan nikmat yang telah diberikan
  3. menggunakan nikmat tersebut pada tempat-tempat yang diridhoi Allah Ta’ala (dengan anggota badan),
    Yaitu dengan menggunakan nikmat yang telah diberikan untuk jalan yang diridhoi oleh Allah Ta’ala

 

ketiga perkara tersebut merupakan tanda bahwasanya seorang itu bersyukur atas nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan. Oleh karena itu, seorang hamba apabila mendapatkan nikmat, maka akan menjadikannya hamba tersebut semakin dekat (ketaatannya) dengan Allah Ta’ala.

Akan tetapi, apabila nikmat yang telah didapatkannya tidak menjadikan seorang hamba tersebut menjadi semakin dekat (ketaatannya) kepada Allah Ta’ala, maka ketahuilah bahwa hal tersebut merupakan bencana baginya. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Ibrahim: 7)

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (Al An’am: 44)

Kisah Pembaiatan Abu Bakar As-Shiddiq (2)

0

Kisah Pembaiatan Abu Bakar As-Shiddiq (2)

Ibnu Abbas radhiallaahu’anhu mengatakan bahwasanya mereka tiba di Madinah setelah bulan Dzulhijjah. Maka pada hari Jum’at ketika sore hari orang-orang di Madinah pun berkumpul untuk mendengarkan petuah dari amirul mukminin. Ketika amirul mukminin berada di atas mimbar, amirul mukminin pun memanjatkan pujian kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kemudian berkata, “saya sampaikan maklumat kepada kalian yang telah ditakdirkan bagiku untuk menyampaikannya, saya tidak tahu mungkin pidato ini adalah menjelang kematianku, maka barangsiapa mencermatinya dan memperhatikannya dengan baik-baik, hendaklah ia menyampaikannya hingga ke tempat-tempat hewan tunggangannya pergi, dan barangsiapa yang khawatir tidak bisa memahaminya, tidak aku halalkan kepada seorang pun untuk berdusta kepadaku.

Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam dengan membawa kebenaran, dan telah Allah turunkan al Qur`an kepadanya, yang diantara yang Allah turunkan adalah ayat rajam sehingga bisa kita baca, kita pahami dan kita cermati, Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam pernah melaksanakan hukum rajam, maka kita pun harus melakukan hukuman rajam sepeninggal beliau, aku sedemikian khawatir jika zaman sekian lama berlalu bagi manusia, ada seseorang yang berkata; ‘Demi Allah, kami tidak menemukan ayat rajam dalam kitabullah, ‘ kemudian mereka tersesat dengan meninggalkan kewajiban yang Allah turunkan, padahal rajam menurut kitabullah adalah hak (benar) bagi orang yang berzina dan ia telah menikah baik laki-laki maupun perempuan dan bukti telah jelas, atau hamil atau ada pengakuan, kemudian kita juga membaca yang kita baca dari kitabullah, janganlah kalian membenci ayah-ayah kalian, sebab membenci ayah kalian adalah kekufuran. kemudian Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “janganlah kalian memujiku berlebihan sebagaimana Isa bin maryam dipuji, katakanlah bahwa aku hanyalah hamba Allah dan rasul-NYA, “

kemudian sampai berita kepadaku bahwa seseorang diantara kalian berkata; ‘Sekiranya Umar telah meninggal maka aku akan berbaiat kepada fulan, janganlah seseorang tertipu dengan yang mengatakan; ‘hanyasaja pembaiatan Abu Bakar kebetulan dan sudah selesai’, ketahuilah, pembaiatan itu memang telah berlalu, namun Allah menjaga keburukannya, ketahuilah bahwa orang yang mempunyai kelebihan diantara kalian, yang tak mungkin terkejar kelebihannya, ia tak akan bisa menyamai kelebihan Abu Bakar, barangsiapa berbaiat kepada seseorang tanpa musyawarah kaum muslimin, berarti ia tidak dianggap dibaiat begitu juga yang membaiatnya, yang demikian karena dikhawatirkan keduanya akan dibunuh.

Diantara berita yang beredar di tengah kita adalah, ketika Allah mewafatkan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, orang-orang anshar menyelisihi kami dan mereka semua berkumpul di Saqifah bani Sa’idah, dan Ali serta Zubair menyelisihi kami serta siapa saja yang bersama keduanya, dan orang-orang muhajirin berkumpul kepada Abu Bakar, maka aku katakan kepada Abu Bakar; ‘Wahai Abu Bakar, mari kita temui kawan-kawan kita dari Anshar’,

Maka kami berangkat untuk menemui mereka, tatkala kami telah mendekati mereka, dua orang shalih diantara mereka menemui kami dan mengutarakan kesepakatan orang-orang, keduanya berkata; ‘Kalian mau kemana wahai orang-orang muhajirin? ‘ kami menjawab; ‘Kami akan menemui ikhwan-ikhwan kami dari anshar.’ Keduanya berkata; ‘Jangan, jangan kalian dekati mereka, putuskanlah urusan kalian.’ namun aku katakan; ‘Demi Allah, kami harus mendatangi mereka’, maka kami pun berangkat hingga mendatangi mereka di Saqifah bani Sa’idah, ternyata disana seorang laki-laki yang berselimut kain ditengah-tengah mereka, saya pun bertanya; ‘Siapakah ini? ‘ Mereka menjawab; ‘Ini Sa’d bin Ubadah.’ Saya bertanya; ‘kenapa dengannya? ‘ Mereka menjawab; ‘Dia tengah sakit dan mengalami demam yang serius.’ Tatkala kami duduk sebentar, juru pidato mereka bersaksi dan memanjatkan pujian kepada Allah dengan pujian yang semestinya bagi-NYA, kemudian mengatakan; “Amma ba’d. Kami adalah penolong-penolong Allah (ansharullah) dan laskar Islam, sedang kalian wahai segenap muhajirin hanyalah sekelompok manusia biasa dan golongan minoritas dari bangsa kalian, namun anehnya tiba-tiba kalian ingin mencongkel wewenang kami dan menyingkirkan kami dari akar-akarnya.”

bersambung

Kaidah dalam Memahami Tauhid (3)

0

 Kaidah dalam Memahami Tauhid (3)

 

4. Kesyirikan Pada Zaman ini Lebih Besar Daripada Kesyirikan Kaum Musyrikin Zaman Dahulu
Ketahuilah, bahwa kesyirikan pada zaman ini (akhir zaman) lebih besar (lebih syirik) daripada kesyirikan pada zaman dahulu. Sebab, kaum musyrikin pada zaman dahulu melakukan perbuatan syirik tatkala dalam keadaan lapang tiada kesusahan dan mereka mengikhlaskan ibadah kepada Allah Ta’ala semata hanya tatkala dalam keadaan kesusahan/ kesulitan. Allah Ta’ala berfirman:

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

“Maka apabila mereka naik kapal mereka mendo’a kepada Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)” (Al-Ankabut [29]: 65)

وَإِذَا مَسَّكُمُ الْضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَن تَدْعُونَ إِلاَّ إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الإِنْسَانُ كَفُورًا

“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.” (Al-Israa’ [17]: 67)

وَإِذَا غَشِيَهُم مَّوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ

“Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus” (Luqman [31]: 32)

Dalil-dalil di atas menjelaskan bahwasanya kaum musyrikin terdahulu memurnikan ibadah kepada Allah Ta’ala tatkala mereka dalam keadaan kesulitan. Hal tersebut dilakukan mereka karena mereka mengetahui bahwa tidak ada yang mampu mengeluarkan mereka dari kesulitan tersebut kecuali Allah semata. Akan tetapi, mereka kembali berpaling dengan melakukan kesyirikan tatkala telah diselamatkan oleh Allah Ta’ala dari kesulitan tersebut.

Adapun kesyirikan pada zaman ini dilakukan pada setiap waktu, baik mereka dalam keadaan kesulitan maupun lapang. Sebagaimana yang dapat diketahui dan disaksikan, bahwa banyaknya orang-orang yang mendatangi serta mempercayai dukun-dukun, paranormal, orang-orang pintar, serta orang-orang sholeh yang diyakini dapat mengetahui hal-hal yang ghaib dan memberikan manfaat serta menolak mudharat kepada orang.

Itulah empat kaidah yang setiap muslim harus mengetahuinya agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan kesyirikan tanpa mereka mengetahuinya. Sebab, hanya dengan mentauhidkan Allah Ta’ala semata amalan seorang hamba dapat diterima dan dimasukkan ke dalam surga-Nya. Semoga Allah Ta’ala memasukkan dan mempertemukan kita di dalam Surga Firdaus-Nya kelak.

___________

Daftar Pustaka: Qowa’idul Arba’

Kaidah dalam Memahami Tauhid (2)

0

Kaidah Dalam Memahami Tauhid (2)

 

3. Kaum musyrikin yang diperangi oleh Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam melakukan beraneka ragam peribadatan dengan menyembah malaikat, para nabi, orang-orang shalih, bebatuan, pepohonan, matahari dan bulan. 

Ketahuilah, bahwasanya sesembahan orang-orang musyrikin terdahulu dalam melakukan peribadatan kepada selain Allah Ta’ala tidak hanya berupa berhala-berhala patung saja. Akan tetapi, berupa orang-orang shalih, para nabi, malaikat serta ciptaan Allah Ta’ala lainnya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلاَ يَأْمُرَكُمْ أَن تَتَّخِذُواْ الْمَلاَئِكَةَ وَالنِّبِيِّيْنَ أَرْبَابًا

“dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan” (Ali-Imran [3]: 80)

أُولَـئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka” (Al-‘Israa [17]: 57)

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى وَمَنَاةَ

“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al Laata dan al Uzza dan manaah” (An-Najm [53]: 19-20)

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya” (Fushshilat [41]: 37)

dan Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam pernah bersabda,

عَنْ أَبِى وَاقِدٍ اللَّيْثِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَمَّا خَرَجَ إِلَى خَيْبَرَ مَرَّ بِشَجَرَةٍ لِلْمُشْرِكِينَ يُقَالُ لَهَا ذَاتُ أَنْوَاطٍ يُعَلِّقُونَ عَلَيْهَا أَسْلِحَتَهُمْ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى (اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ) وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

Dari Abu Waqid Al Laitsi mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala pergi ke Khoibar, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sebuah pohon milik kaum musyrikin yang dinamakan Dzatu Anwath. Orang-orang musyrik biasa menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Lalu (di antara sahabat yang baru masuk Islam) mengatakan (kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), “Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana milik orang-orang musyrik.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Subhanallah (Maha Suci Allah dari tingkah kalian yang semacam ini). Ini sama halnya dengan perkataan kaum Musa kepada beliau, ‘Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana yang ada pada mereka’. Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, sungguh kalian akan mengikuti jejak (kebiasaan) umat-umat sebelum kalian.” (HR. Tirmidzi no. 2106/ 2180)

Hal ini merupakan bantahan kepada orang-orang yang mengatakan bahwasanya orang-orang musyrik terdahulu melakukan kesyirikan hanya kepada berhala patung-patung saja. dan kaum musyrikin terdahulu menjadikan sesembahan mereka sebagai perantara atau wasilah dalam beribadah serta mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala 

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya” (Az-Zumar [39]: 3)
Bersambung…

Kisah Pembaiatan Abu Bakar As-Shiddiq (1)

0

Kisah Pembaiatan Abu Bakar As-Shiddiq radhiallahu’anhu (1)

Sudahkah Anda mengetahui bagaimana kisah pengangkatan Abu Bakar As-Shiddiq radhiallaahu’anhu menjadi khalifah pertama umat Islam? Kisah ini terdapat di dalam kitab “Shahih Bukhari”. Kisah yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallaahu’anhu. Kisah yang menceritakan tentang luasnya ilmu para sahabat Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam dan kemuliaan mereka, terutama para khulafa’ur rasyidin.

Ketika itu adalah musim haji pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab radhiallaahu’anhu, Abdurrahman bin ‘Auf radhiallaahu’anhu menghampiri Ibnu Abbas radhiallaahu’anhu di persinggahan Mina, dan berkata “sekiranya engkau melihat seorang yang menemui amirul mukminin hari ini, orang itu mengatakan ‘’Wahai amirul mukminin, apakah engkau sudah tahu berita si fulan yang mengatakan; ‘sekiranya Umar telah meninggal, aku akan berbaiat kepada fulan, pembaiatan Abu Bakar ash Shiddiq tidak lain hanyalah sebuah kekeliruan dan sekarang telah berakhir’.

Umar radhiallaahu’anhu kemudian marah dan mengatakan bahwasanya ia akan berbicara di hadapan orang-orang pada sore hari dan memperingatkan mereka atas perkara tersebut. Kemudian Abdurrahman bin ‘Auf radhiallaahu’anhu mengingatkan kepada amirul mukminin agar janganlah amirul mukminin berbicara di depan orang-orang atas perkara tersebut saat ini, sebab ketika musim haji seluruh orang-orang berkumpul dan menghimpun orang-orang yang jahil, dan jumlah mereka lebih banyak, Abdurrahman bin ‘Auf radhiallaahu’anhu mengkhawatirkan perkara yang disampaikan oleh amirul mukminin tidak dipahami oleh orang-orang tersebut, dan mereka menyebarkan berita yang tidak sesuai dan tidak pula meletakkan pada tempatnya.

Oleh karena itu, Abdurrahman bin Auf radhiallaahu’anhu mengatakan kepada amirul mukminin agar menangguhkan petuah tersebut hingga tiba di Madinah, sebab Madinah adalah Darul Hijrah dan Darus Sunnah yang penuh dengan ahli fikih dari kalangan para sahabat. Sehingga, amirul mukminin dapat menyampaikan petuahnya secara luas dan para ahlul ilmi memperhatikan, meletakkan pada tempatnya dan menghafal petuah dari amirul mukminin. Kemudian, Umar bin Khaththab radhiallaahu’anhu pun mengikuti saran dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiallaahu’anhu dan mengatakan insya Allah akan menunda petuah tersebut hingga tiba di Madinah.

Ibnu Abbas radhiallaahu’anhu mengatakan bahwasanya mereka tiba di Madinah setelah bulan Dzulhijjah. Maka pada hari Jum’at ketika sore hari orang-orang di Madinah pun berkumpul untuk mendengarkan petuah dari amirul mukminin. Ketika amirul mukminin berada di atas mimbar, amirul mukminin pun memanjatkan pujian kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kemudian berkata…

Bersambung

Shalawat Nabi (3)

0

Shalawat Nabi (3)

 

4. Shalawat Nabi Riwayat Uqbah bin ‘Amru radhiallahu’anhu

Para sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah, bagaimana cara kami bershalawat kepadamu?” beliau bersabda: ‘Ucapkanlah oleh kalian;

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ  وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Allaahumma shalli ‘alaa Muhammadin nabiyyil ummiyyi wa ‘alaa aali Muhammad kamaa shollaita ‘alaa ibraahiim wa ‘alaa aali ibraahiim, wa baarik ‘alaa Muhammadin nabiyyil ummiyyi wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarokta ‘alaa ibraahiim wa ‘alaa aali ibraahiim fiil ‘aalamiina innaka hamiidum majiid. 

Ya Allah, berikanlah shalawat untuk Muhammad Nabi yang ummi dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan shalawat untuk Ibrahim dan untuk keluarga Ibrahim, dan berikanlah berkah kepada Muhammad Nabi yang ummi dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan berkah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim di seluruh alam, sungguh Engkau Maha Terpuji, Maha Mulia (HR. Abu Daud 831/ 981, Ahmad, Ibnu Hibban, al-Baihaqi)

5. Shalawat Nabi Riwayat Abu Sa’id Al Khudri radhiallaahu’anhu

“Kami berkata; “Wahai Rasulullah, salam kepadamu ini kami telah mengetahuinya, lalu bagaimana cara bershalawat kepadamu?” beliau menjawab: “Ucapkanlah;

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ

Allahumma sholli ‘alaa Muhammadin ‘abdika wa rosuulika kamaa shollaita ‘ala Ibroohiima wa baarik ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin kamaa baarokta ‘alaa Ibroohiim. 

Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad, hamba dan Rasul-Mu, sebagaimana Engkau memberi shalawat kepada Ibrahim. Dan berkahilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau memberkahi Ibrahim. ” (HR. Bukhari 4424/ 4798, Ibnu Majah 893/ 903, Ahmad)

Itulah di antara beberapa shalawat Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam yang diriwayatkan secara lansung dari Rasulullah melalui para sahabatnya radhiallaahu’anhum. Oleh karena itu, sudah sesuaikah shalawat yang kita baca dengan shalawat yang diajarkan lansung oleh Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam?

Shalawat Nabi (2)

0

Shalawat Nabi (2)

 

2. Shalawat Nabi Riwayat Abu Humaid as-Sa’idiy radhiallahu’anhu

Para sahabat berkata; “Wahai Rasulullah, bagaimana caranya kami bershalawat kepada baginda?”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ucapkanlah;

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa azwaajihi wa dzurriyyatihii kamaa shollaita ‘alaa aali Ibrahim wa baarik ‘alaa Muhammad wa azwaajihi wa dzurriyyatihii kamaa baarakta ‘alaa aali Ibrahim innaka hamiidun majiid

Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad, istri-istrinya dan anak keturunannya sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada keluarga Ibrahim dan berilah barakah kepada Muhammad, istri-istrinya dan anak keturunannya sebagaimana Engkau telah memberi barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkah Maha Terpuji dan Maha Mulia (HR. Bukhori 3118/ 3639, Muslim 615/ 407, Abu Daud 831/ 979, Ahmad, Malik)

3. Shalawat Nabi Riwayat Abu Mas’ud al-Anshari radhiallahu’anhu

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi kami sedangkan kami berada dalam majlis Sa’d bin Ubadah, maka Basyir bin Sa’ad berkata kepada Rasulullah, ‘Allah memerintahkan kami untuk mengucapkan shalawat atasmu wahai Rasulullah, lalu bagaimana cara bershalawat atasmu? ‘ Perawi berkata, “Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diam hingga kami berangan-angan bahwa dia tidak menanyakannya kepada beliau. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Katakanlah,

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ وَالسَّلَامُ كَمَا قَدْ عَلِمْتُمْ

Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa ali muhammad kamaa shollaita ‘alaa aali ibraahiim wa baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarokta ‘alaa aali Ibraahiim fiil ‘aalamiina innaka hamiidun majiid wassalaamu kamaa qod ‘alimtum

Ya Allah, berilah shalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau memberi shalawat atas keluarga Ibrahim, dan berilah berkah atas Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau memberi berkah kepada keluarga Ibrahim di dunia. Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.’ Dan salam sebagaimana yang telah kamu ketahui.” (HR. Muslim 613/ 405, Abu Daud 831/ 980, Tirmidzi 3144/ 3220, an-Nasa’i, Malik)

Bersambung..

Shalawat Nabi (1)

0

Shalawat Nabi (1)

Membaca shalawat kepada Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam merupakan ibadah yang disyari’atkan di dalam Islam. Bahkan, Allah Ta’ala dan para malaikat-Nya pun bershalawat kepada Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” [Al-Ahzaab: 56]

Akan tetapi, shalawat yang bagaimana-kah yang disyari’atkan untuk dibaca agar bernilai sebagai ibadah di sisi Allah Ta’ala? Ketahuilah, shalawat yang disyari’atkan merupakan shalawat yang pernah diajarkan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam kepada umatnya, dan umatnya ketika itu adalah para sahabat. Berikut shalawat Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh para sahabat Nabi:

1. Shalawat Nabi riwayat Ka’ab bin Ujrah radhiallaahu’anhu

Ka’ab bin Ujrah radhiallaahu’anhu berkata, “Kami pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; “Wahai Rasulullah, bagaimana caranya kami bershalawat kepada tuan-tuan kalangan Ahlul Bait sementara Allah telah mengajarkan kami bagaimana cara menyampaikan salam kepada kalian?”. Maka Beliau bersabda: “Ucapkanlah;

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa shollaita ‘alaa Ibrahiim wa ‘alaa aali Ibrahim innaka hamiidun majid. Allahumma baarik ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarakta ‘alaa Ibrahiim wa ‘alaa aali Ibrahim innaka hamiidun majiid”

Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada Ibrahiim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkah Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ya Allah berilah barakah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi barakah kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkah Maha Terpuji dan Maha Mulia (HR. Bukhori 3119/ 3370, Muslim 614/ 406, Abu Daud, Tirmidzi, An-Nasa’i)

Bersambung..

Tanda Kebahagiaan Seorang Hamba (3)

0

Tanda Kebahagiaan Seorang Hamba (3)

3. Senantiasa Bertaubat Apabila Terjatuh ke dalam Dosa

Ketahuilah, bahwasanya setiap hamba-Nya pasti pernah berbuat kesalahan atau dosa. Akan tetapi, seorang hamba yang beriman, apabila terjatuh ke dalam perbuatan dosa, maka segera bertaubat. Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam pernah bersabda,

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Semua anak cucu Adam banyak salah dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi 2423/ 2499, Ahmad 4241/ 4251)

Oleh sebab itu, hendaknya setiap hamba-Nya senantiasa bertaubat tatkala terjatuh ke dalam perbuatan dosa. Karena Allah ta’ala senantiasa menerima taubat hamba-Nya.  Allah Ta’ala berfirman,

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ

“Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya?” (QS. At Taubah: 104).

Akan tetapi, janganlah seorang menunda taubat dari dosa-dosa yang telah dilakukannya. Sebab Allah Ta’ala tidak menerima taubat seorang hamba tatkala menjelang kematiannya (sakaratul maut), sebagaimana di dalam firman Allah Ta’ala tatkala fir’aun bertaubat dan mengakui Allah Ta’ala sebagai Rabb,

حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنْتُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ آلآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ

“hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia:”Saya percaya bahwa tidak ada Ilah melainkan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. (QS. Yunus:90-92)”

 

Itulah tiga perkara yaitu, bersyukur apabila diberi nikmat, bersabar apabila ditimpa musibah, dan bertaubat apabila berbuat dosa, semua hal tersebut adalah tanda kebahagiaan seorang hamba. Barangsiapa diberikan taufik untuk menjalankannya, niscaya dia akan meraih kebahagiaan. Barangsiapa yang terhalang dari perkara tersebut atau sebagiannya, maka sungguh ia termasuk orang yang sengsara. (Qowa’idul Arba’)

Tanda Kebahagiaan Seorang Hamba (2)

0

Tanda Kebahagiaan Seorang Hamba (2)

 

2. Bersabar Apabila Ditimpa Musibah

Ketahuilah, Allah Ta’ala akan senantiasa memberikan cobaan dan ujian kepada para hamba-Nya. Allah Ta’ala akan menguji para hamba-Nya dengan hal-hal yang tidak disenangi maupun dengan hal-hal yang disenangi, baik berupa harta, anak-anak, kesehatan, perintah ataupun larangan, serta musuh dari kalangan orang-orang kafir. Allah Ta’ala berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Al-Ankabut [29]: 2)

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ

“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu” (Ali Imran [3]: 186)

dan ingatlah bahwa ujian dan cobaan yang diberikan oleh Allah Ta’ala kepada para hamba-Nya merupakan tanda bahwa Allah Ta’ala mencintai para hamba-Nya. dari Anas bin Malik radhiallaahu’anhu, Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam pernah bersabda,

عِظَمُ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Besarnya pahala sesuai dengan besarnya cobaan, dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Oleh karena itu, barangsiapa ridha (menerima cobaan tersebut) maka baginya keridhaan, dan barangsiapa murka maka baginya kemurkaan.” (HR. Ibnu Majah 4021/ 4031)

Oleh karena itu, hendaknya kita bersabar atas segala cobaan dan ujian yang Allah Ta’ala berikan kepada kita serta tidak berputus asa dari rahmat Allah Ta’ala. Sebab, dengan itu kita akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar. Allah Ta’ala berfirman,

إِلاَّ الَّذِينَ صَبَرُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ أُوْلَـئِكَ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

“kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.” (Huud [11]: 11)