Home Blog Page 15

Doa Ketika Keluar Rumah

0

Keluar rumah, merupakan aktifitas rutin yang seringkali seseorang lakukan. Akan tetapi, sudahkah kita membaca do’a ketika keluar rumah? Berikut do’a ketika keluar rumah yang diajarkan oleh Rasululllah shallallaahu’alaihi wa sallam.

Dari Ummu Salamah radhiallaahu’anha bahwa apabila Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam keluar dari rumahnya, beliau mengucapkan,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ

Allahumma innii a’uudzubika an adhilla au azilla au azhlima au uzhlama au ajhala au yujhala ‘alayya

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ketersesatan atau ketergelinciran, atau dari berbuat kedzaliman maupun di dzalimi atau berbuat kebodohan maupun di bodohi” (HR. Ibnu Majah 3874)

atau

Dari Anas bin Malik radhiallaahu’anhu bahwa Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang laki-laki keluar dari rumahnya lalu mengucapkan:

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

bismillaahi tawakkaltu ‘alallahi laa haula wa laa quwwata illaa billaah

(Dengan nama Allah aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah)

Beliau bersabda: “Maka pada saat itu akan dikatakan kepadanya, ‘Kamu telah mendapat petunjuk, telah diberi kecukupan dan mendapat penjagaan’, hingga setan-setan menjauh darinya. Lalu setan yang lainnya berkata, “Bagaimana (engkau akan mengoda) seorang laki-laki yang telah mendapat petunjuk, kecukupan dan penjagaan.” (HR. Abu Daud 5095, Tirmidzi 3426)

Syarat Diterimanya Amal Ibadah

0

Syarat Diterimanya Amal Ibadah

Beribadah kepada Allah Ta’ala merupakan tujuan dari diciptakannya seorang hamba. Suatu amalan tidak akan diterima kecuali dengan memenuhi syarat-syarat yang ada. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita memperhatikan setiap amal ibadah yang kita lakukan apakah telah terpenuhi dari syarat diterimanya suatu ibadah?

di antara syarat diterimanya suatu amalan ibadah di sisi Allah Ta’ala ada dua, yaitu:

1. Ikhlas 

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus” (Al-Bayyinah [98]: 5)

فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّينَ

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya.” (Az-Zumar [39]: 2)

Dua ayat di atas menjelaskan bahwasanya dalam beribadah kepada Allah Ta’ala harusnya dengan memurnikan ketaatan (ikhlas) kepada-Nya semata.

2. Ittiba’ (Mengikuti Contoh)

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini yang tidak ada perintahnya maka perkara itu tertolak” (HR. Bukhari 2499/2697)

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa mengamalkan suatu perkara yang tidak kami perintahkan, maka ia tertolak” (HR. Muslim 3243)

Berdasarkan hadist tersebut, dapatlah diketahui bahwasanya jika seorang hamba mengamalkan suatu yang sekiranya dianggapnya adalah ibadah yang untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, padahal tidak pernah diperintahkan atau tidak dicontohkan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, maka amalan tersebut akan tertolak.

Ibnu Katsir rahimahullah, seorang ulama ahli tafsir pernah mengatakan tatkala menafsirkan firman Allah Ta’ala, 

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (Al-Kahfi [18]: 110)

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ أَيْ: ثَوَابَهُ وَجَزَاءَهُ الصَّالِحَ، {فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا}، مَا كَانَ مُوَافِقًا لِشَرْعِ اللَّهِ {وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا} وَهُوَ الَّذِي يُرَادُ بِهِ وَجْهُ اللَّهِ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَهَذَانَ رُكْنَا الْعَمَلِ الْمُتَقَبَّلِ. لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ خَالِصًا لِلَّهِ، صوابُا عَلَى شَرِيعَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, yaitu pahala dan balasannya yang baik. Maka hendaklah dia beramal shalih, yaitu amalan yang sesuai syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya, yaitu hendaklah (ikhlas) hanya mengharap wajah Allah saja tiada sekutu bagi-Nya.

Dua perkara ini (amal sesuai syari’at dan ikhlas) merupakan dua rukun amal yang diterima, yaitu harus ikhlas karena Allah Ta’ala dan sesuai syari’at Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.” (Tafsir Ibnu Katsir, 5/205)

Tanda Kebahagiaan Seorang Hamba (1)

0

Tanda Kebahagiaan Seorang Hamba (1)

Kebahagiaan merupakan keinginan setiap hamba-Nya. Akan tetapi, sebagian dari hamba-Nya mencari kebahagiaan dengan jalan-jalan mereka sendiri. Tanpa mereka sadari, mereka telah menempuh jalan-jalan yang tidak sesuai dengan petunjuk yang ada, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Oleh karena itu, wajib bagi kita kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dan di antara tanda-tanda kebahagian seorang hamba ialah:

  1. Bersyukur Apabila Diberikan Kenikmatan

Ketahuilah bahwasanya kenikmatan itu tidaklah hanya berupa harta. Akan tetapi, kenikmatan itu dapat berupa kesehatan, harta, keturunan, kedudukan, dan yang lainnya. Dari Ibnu Abbas radhiallaahu’anhuma bahwasanya Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam pernah bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat yang banyak dilalaikan manusia (yaitu), kesehatan dan waktu luang.” (HR. At-Tirmidzi 2226)

Akan tetapi, mayoritas dari hamba-Nya menggunakan kenikmatan tersebut tidak untuk ketaatan kepada Allah Ta’ala. Sehingga kenikmatan tersebut akan menjadi sebab kesengsaraanya kelak.

وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَى مَا أَنفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا

“Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku”. (Al-Kahfi [18]: 42)

Adapun orang yang bersyukur, maka akan Allah Ta’ala tambahkan nikmat kepadanya. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ

 “Dan (ingatlah juga) ketika Robb kalian mengatakan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu..” (Ibrahim [14]: 7).

Bersambung..

Kaidah dalam Memahami Tauhid (1)

0

Kaidah dalam Memahami Tauhid (1)

 

Tauhid merupakan inti ajaran Islam. Akan tetapi, bagaimana cara memahami tauhid yang benar? Wajib bagi kita untuk mengembalikan penetapan ini kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, agar penetapan itu benar dan selamat. berikut kaidah-kaidah dalam mehamai tauhid yang perlu diketahui setiap muslim.

1. Mengakui Tauhid Rububiyyah Semata Tidaklah Menjadikan Seorang Masuk ke dalam Islam

Ketahuilah bahwasanya orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dahulu juga mengakui bahwasanya Allah Ta’ala sebagai pemberi rezeki, pencipta dan pengatur alam semesta (Tauhid Rububiyyah). Namun, pengakuan tersebut tidaklah memasukkan mereka ke dalam Islam.Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ والأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللّهُ فَقُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (Yunus [10]: 31)

 

2. Orang-orang Musyrik Terdahulu Tidaklah Berdoa dan Menyembah kepada Selain Allah, Melainkan untuk Mendekatkan Diri dan Mencari Syafa’at

Ketahuilah bahwasanya kaum musyrikin yang diberikan nama sebagai orang musyrik oleh Allah Ta’ala dan dihukumi kekal di neraka, tidaklah menyekutukan Allah dalam hal Tauhid Rububiyyah. Hanya saja mereka menyekutukan Allah Ta’ala dalam meng-esa-kan peribadahan kepada-Nya (Tauhid Uluhiyyah). Mereka tidak mengatakan bahwa sesembahan yang mereka sembah mampu memberikan rezeki, memberikan manfaat atau mampu mengatur bersama Allah Ta’ala. Akan tetapi, mereka telah menjadikan sesembahan yang mereka sembah sebagai pemberi syafa’at dan sebagai wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya” (Az-Zumar [39]: 3)

وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَـؤُلاء شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللّهِ

“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfa’atan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah” (Yunus [10]: 18)

Bersambung.. 

Macam-macam Tauhid

0

Macam-macam Tauhid

Seperti yang diketahui bersama, bahwa inti ajaran Islam adalah mentauhidkan Allah, dan berdasarkan pengkajian para ulama terdahulu terhadap kitabullah dan as-sunnah, mereka mengambil kesimpulan bahwa inti dari at-tauhid ada tiga:

  1. Tauhid Rububiyyah
    adalah mentauhidkan Allah dalam kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, serta menyatakan dengan tegas bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb, Raja, dan Pencipta semua makhluk, dan Allah lah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka.

    Meyakini rububiyah yaitu meyakini kekuasaan Allah dalam mencipta dan mengatur alam semesta, misalnya meyakini bumi dan langit serta isinya diciptakan oleh Allah, Allahlah yang memberikan rizqi, Allah yang mendatangkan badai dan hujan, Allah menggerakan bintang-bintang, dll. Di nyatakan dalam Al Qur’an:

    الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ

    Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan Mengadakan gelap dan terang” (QS. Al An’am: 1)

  2. Tauhid Uluhiyyah/ Ubudiyyah
    adalah mentauhidkan Allah dalam segala bentuk peribadahan baik yang zhahir maupun batin. Allah Ta’ala berfirman:

    إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

    Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan” (Al Fatihah: 5)

    Tauhid inilah yang didakwahkan oleh para Rasulullah pertama kali dan terakhir kali, dan tauhid ini merupakan makna dari kalimat laa ilaha illallaah, karena ilah berarti yang disembah, diibadahi dengan rasa cinta, takut, pemuliaan, dan pengagungan pada segala jenis ibadah.

  3. Tauhid Al Asma’ was Shifat
    adalah mentauhidkan Allah Ta’ala dalam penetapan nama dan sifat Allah, yaitu sesuai dengan yang Ia tetapkan bagi diri-Nya dalam Al Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Di dalam meyakini tauhid asma wa sifat Allah ini kita haruslah menetapkan nama dan sifat Allah sesuai yang Allah tetapkan bagi diriNya dan menafikan nama dan sifat yang Allah nafikan dari diriNya, dengan tanpa tahrif (memalingkan makna), tanpa ta’thil (mengingkari dan menolak sebagian sifat-sifat Allah) dan tanpa takyif (menggambarkan atau menanyakan hakikat wujud Allah).

    Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

    وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

    Hanya milik Allah nama-nama yang husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya” (QS. Al A’raf: 180)

Doa Ketika Sedang Kesulitan

0

Doa Ketika Sedang Kesulitan

Setiap orang pasti akan dihadapi dengan ujian kesulitan dari Allah subhanahu wa ta’ala tatkala di dunia. Akan tetapi, bagaimana cara kita menghadapi ujian kesulitan tersebut? dari Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma dia berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berdo’a ketika dalam kesulitan, beliau mengucapkan:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

LAA ILAAHA ILLALLAHUL ‘ADZIIM AL HALIIM LAA ILAAHA ILLALLAH RABBUL ‘ARSYIL ‘AZHIIM

Tiada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Allah Yang Maha Agung dan Maha Penyantun. Tiada ilah selain Allah, Tuhan langit dan bumi serta Tuhan arasy yang mulia. (HR. Bukhori 5869)

Berdusta Ketika Bercanda

0

Berdusta Ketika Bercanda

 

Bercanda bukanlah hal yang dilarang di dalam Islam. Akan tetapi, ada adab di dalam bercanda yang harus diperhatikan setiap muslim. Antara lain, tidak berdusta ketika bercanda, walaupun sekedar untuk menghibur orang-orang di sekitar agar tertawa. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ بِالْحَدِيثِ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ فَيَكْذِبُ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

“Celakalah bagi orang yang mengatakan sesuatu agar supaya ditertawakan oleh orang orang kemudian dia berbohong, celakalah baginya dan celakalah baginya.” (HR. Abu Daud 2237)

dan hal lain yang perlu diperhatikan adalah janganlah terlalu banyak tertawa, karena hal tersebut dapat menjadikan hati seorang muslim menjadi mati tatkala diingatkan tentang perkara akhirat. Sebab Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda,

لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

“Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.” (HR. Ibnu Majah 4183)

Hal tersebut bukan berarti tidak diperbolehkannya bercanda. Akan tetapi, yang menjadi perhatian adalah terlalu sering dan banyak tertawa itulah yang dilarang oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.

Doa Ketika Tertimpa Musibah

0

Doa Ketika Tertimpa Musibah

Apa yang seharusnya dilakukan seorang muslim tatkala tertimpa musibah? doa apakah yang sebaiknya dibaca tatkala seorang muslim tertimpa musibah?

Ingatlah sebuah hadist dari Ummu Salamah radhiallahu’anha, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ { إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ } اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

“Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah lalu ia membaca apa yang telah diperintahkan oleh Allah, ‘INAA LILLAHI WAINNAA ILAIHI RAAJI’UUN, ALLAHUMMA`JURNII FII MUSHIIBATI WA AKHLIF LII KHAIRAN MINHAA (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Ya Allah, berilah kami pahala karena musibah ini dan tukarlah bagiku dengan yang lebih baik).’ melainkan Allah menukar baginya dengan yang lebih baik.” (HR. Muslim no. 1525)

Lima Perkara yang Harus Dijaga 1

0

lima perkara yang harus dijaga

Ketahuilah, bahwasanya ada lima perkara yang harus dijaga di dalam Islam. Jika lima perkara tersebut terjaga, maka akan menjadikan hidup di dunia menjadi lebih aman dan tenang. Lima perkara tersebut adalah

1. Agama

Rasulullaah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ

“Barangsiapa mengganti agamanya, maka bunuhlah ia.” (HR. Ibnu Majah 2526)

Dan sabda beliau shallallaahu’alaihi wa sallam,

لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ رَجُلٌ زَنَى بَعْدَ إِحْصَانِهِ فَعَلَيْهِ الرَّجْمُ أَوْ قَتَلَ عَمْدًا فَعَلَيْهِ الْقَوَدُ أَوْ ارْتَدَّ بَعْدَ إِسْلَامِهِ فَعَلَيْهِ الْقَتْلُ

“Tidak halal darah seorang muslim kecuali dengan salah satu dari tiga perkara, yaitu; seseorang yang berzina setelah menikah, maka ia dirajam, atau membunuh dengan sengaja maka ia akan dibalas, atau murtad setelah masuk Islam maka ia dibunuh.” (HR. An-Nasa’I 3989)

Akan tetapi, bukan semata-mata seseorang yang murtad (keluar dari agama Islam) lansung dibunuh begitu saja, karena hukuman ini masuk dalam hukum islam maka penetapan hukum bunuh untuk orang murtad, hanya bisa dilakukan dan diputuskan oleh pengadilan syariat yang resmi ditunjuk oleh pemerintah (jika negara kita menerapkan hukum islam).

2. Nyawa

Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan untuk menjaga setiap nyawa orang yang beriman. Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala mensyariatkan “Qishash” untuk menjaga nyawa seseorang agar tidak diganggu.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh..” (Al-Baqarah: 178)

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ

“Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelansungan) hidup bagimu” (Al-Baqarah: 179)

Meskipun “qishash” bentuknya adalah pembunuhan bagi orang yang melakukan pembunuhan, tapi itu menyebabkan kehidupan bagi kehidupan manusia, karena jika seorang pembunuh atau seorang yang ingin membunuh mengerti bahwa dia akan dihukum mati, maka ia akan menahan diri dari pembunuhan.

Baca lanjutannya: http://albaitu.com/2017/01/08/lima-perkara-yang-harus-dijaga-2/

Doa Berlindung Dari Hutang

0

Doa Berlindung Dari Hutang

Di antara do’a-do’a yang dipanjatkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam adalah berlindung dari lilitan hutang. Dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu dia berkata Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam mengucapkan

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ

ALLAHUMMA INII A’UUDZUBIKA MINAL HAMMI WAL HAZANI WAL ‘AJZI WAL KASALI WAL JUBNI WAL BUKHLI WA DHOLA’ID DAINI WA GHOLABATIR RIJAAL

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa sedih dan duka cita, lemah dan malas, pengecut dan kikir dan terlilit hutang serta dikuasai musuh” (HR. Bukhori no. 5892)