Saturday, May 25, 2019
Home > Aqidah dan Tauhid > Memahami Tauhid Asma wa Shifat

Memahami Tauhid Asma wa Shifat

⚠️ *Memahami Tauhid Asma wa Shifat*

Syaikh bin Baz menjelaskan bahwa *Tauhid Asma wa Shifat (Nama dan Sifat Allah) juga merupakan bagian dari jenis tauhid rububiyyah. Sungguh mereka (orang-orang musyrik) mengakui tauhid asma wa shifat dan mengetahuinya*

Dan Tauhid rububiyyah memerlukan tauhid asma wa shifat, karena Allah adalah yang Maha Pencipta, Maha Pemberi Rizki, Maha Menguasai terhadap segala sesuatu, maka Allah-lah yang paling berhak terhadap seluruh nama-nama yang baik, dan sifat-sifat yang tinggi, dan Allah-lah yang Maha Sempurna dalam dzat Nya, nama-nama Nya, sifat-sifat Nya, seluruh perbuatan Nya, tiada sekutu bagi Nya, dan tiada yang serupa dengan Nya.

Syaikh Abdul Aziz Ar-Rajihi menjelaskan bahwa *tauhid asma wa shifat adalah mengimani terhadap apa yang telah Allah ta’ala menamakan atau mensifati diri Nya dengan nama dan sifat tersebut atau yang telah disebutkan Rasul Nya ﷺ*

Tauhid asma wa shifat itu taufiqiyyah, yaitu harus ditetapkan sesuai dengan dalil-dalil al-qur’an dan as-sunnah

*tauhid asma wa shifat juga dibangun padanya tiga prinsip*

1. Menetapkan Nama dan Shifat pada Allah
2. Menafikan (tidak menyandarkan) Nama dan Shifat kepada selain Allah
3. Memutus keingintahuan dari mengetahui bagaimananya (kondisinya), dan menyandarkan ilmunya kepada Allah. Maka bagaimananya (kondisinya) Nama dan Shifat Allah tidak ada yg mengetahuinya kecuali Allah ta’ala

Adapun ahlus sunnah wal jama’ah mengatakan bahwa makna sifat-sifat Allah telah diketahui, dan bagaimananya tidak diketahui. Sebagaimana perkataan imam Malik tatkala ditanya tentang istiwa (الاستواء)

الاستواء معلوم، و الكيف مجهول، و الإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة

_”(Makna) istiwa telah diketahui, bagaimananya tidak diketahui, dan mengimaninya wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah”_

Dan istiwa dalam bahasa arab memiliki empat makna, yaitu
1. Tetap (استقرّ)
2. Di atas (علا)
3. Menaiki, Bertambah Tinggi (صعد)
4. Naik, Tinggi (ارتفع)

Adapun istiwanya seorang hamba itu diketahui bagaimananya (kondisinya), adapun istiwanya Allah ta’ala itu tidak diketahui bagaimananya (kondisinya).

Syaikh Shalih Fauzan juga menjelaskan bahwa *Tauhid asma wa shifat harus ditetapkan sebagaimana yang telah datang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan lafazh dan maknanya tanpa:*

1. *Tahriif ( التحريف )*
Yaitu, perubahan baik secara lafazh atau makna

2. *Ta’thil ( التعطيل )*
Yaitu, الإخلاء pemindahan atau pemalingan dari makna yang shahih kepada makna yang tidak shahih

3. *Takyiif ( التكييف )*
Yaitu, menetapkan bagaimananya (kondisinya) sifat Allah

4. *Tamtsiil ( التمثيل )*
Yaitu, التشبيه menyerupakan sifat Allah seperti sifatnya makhluk

 

Referensi:

– سبل السلام شرح نواقض الاسلام، صفحة ٣٣
– فتح الربّ الحميد شرح تجريد التوحيد المفيد، صفحة ٧٨ – ٨١
– شرح العقيدة الواسطية، صفحة ١٩ – ٢١

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *