Tuesday, June 18, 2019
Home > Ibadah > Mendidik Anak Belajar dari Luqman Al-Hakim [1]

Mendidik Anak Belajar dari Luqman Al-Hakim [1]

Pendidikan Anak Faidah Surah Luqman

Belajar dari Luqman Al-Hakim dalam Mendidik Anak [1] 

Salah satu bukti perhatian Islam terhadap pentingnya pendidikan anak adalah dengan disebutkannya beberapa kisah yang sarat dengan nilai-nilai pendidikan di dalam Al-Quran Al-Karim. Seperti kisah Luqman Al-Hakim ketika menasihati anaknya dengan nasihat yang sangat penting dan bermanfaat, sampai-sampai Allah Ta’ala mengabadikannya di dalam Al-Quran.

Tentang Luqman sendiri terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama dan ahli tafsir, ada yang mengatakan bahwa beliau merupakan seorang Nabi, ada juga yang mengatakan bahwa beliau merupakan orang shalih. Pendapat yang kuat dalam hal ini adalah bahwasanya Luqman merupakan orang shalih yang diberikan hikmah (pemahaman Islam yang baik), dan ia bukanlah seorang Nabi, serta tidak diturunkan wahyu kepadanya. Wallahu a’lam bish shawab. (Lihat Tafsir Al-Quran Al-‘Adzhim, karya Imam Ibnu Katsir, cetakan Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, jilid ke-6, halaman 300.)

Beberapa nasihat berharga Luqman Al-Hakim kepada anaknya adalah sebagai berikut.

1. Nasihat agar menjauhi dosa syirik.

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”” (QS Luqman [31]: 13)

Merupakan nasihat yang sangat agung dari seorang ayah kepada anaknya. Yaitu nasihat agar menjauhi kesyirikan, yang mana syirik merupakan dosa terbesar di antara dosa-dosa besar yang ada. Tentu nasihat agar menjauhi dosa syirik ini harus diprioritaskan bagi anak kita sebelum nasihat-nasihat yang lainnya, karena syirik merupakan dosa terbesar di antara dosa-dosa besar yang ada.

 

2. Nasihat agar berbakti kepada kedua orang tua.

Allah Ta’ala berfirman:

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu-bapakmu, hanya kepadaKu-lah kembalimu.” (QS Luqman [31]: 14)

Kemudian Luqman Al-Hakim menghubungkan antara nasihat untuk menjauhi syirik dengan nasihat untuk berbakti kepada kedua orang tua mengingat hak kedua orang tua yang besar atas anaknya. Seorang ibu telah bersusah-payah mengandung dan memeliharanya sedangkan ayah bekerja membanting tulang untuk menghidupi keluarganya. Maka sudah selayaknya seorang anak harus bersyukur dan berterima kasih kepada Allah Ta’ala dan kepada kedua orang tuanya.

3. Nasihat untuk lebih mendahulukan taat kepada Allah daripada selainNya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِن جَاهَدَاكَ عَلى أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفاً وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu, kemudian hanya kepadaKu-lah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS Luqman [31]: 15)

Ketika menafsirkan ayat ini, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
“Jika orang tuamu memaksamu untuk menyekutukan Allah, maka janganlah engkau menaati perintah keduanya. Dan janganlah menganggap dengan menaati perintah tersebut berarti engkau telah berbakti kepada keduanya, karena hak Allah itu harus didahulukan atas hak siapa saja (termasuk kedua orang tua – pent). Dan tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam perkaramaksiat kepada Sang Pencipta.” (Baca Taisir Al-Karim Ar-Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, cetakan Ad-Dar Al-‘Alamiyyah, halaman 834.)

 

4. Nasihat untuk berhati-hati terhadap apa yang diperbuatnya walaupun itu remeh atau kecil, karena semua itu akan ada balasannya.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللهُ إِنَّ اللهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

“(Luqman berkata:) “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”” (QS Luqman [31]: 16)

Di dalam ayat ini, Luqman Al-Hakim menasihatkan anaknya untuk senantiasa berhati-hati terhadap apa yang dilakukannya, karena setiap perbuatannya akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah Ta’ala kelak di hari kiamat. Dan Allah akan membalas kebaikan atau keburukan yang dilakukan oleh hambaNya walaupun perbuatan itu sangat remeh yaitu seberat biji sawi. Jika ia berbuat kebaikan maka ia akan memperoleh balasan kebaikan, dan jika ia berbuat kejelekan maka ia akan memperoleh balasan kejelekan pula.

 

5. Nasihat untuk mendirikan shalat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ …

“Wahai anakku, dirikanlah shalat …” (QS Luqman [31]: 17)

Nasihat Luqman Al-Hakim kepada anaknya yang berikutnya adalah nasihat agar mendirikan shalat. Hal ini karena shalat merupakan perkara yang sangat penting dan merupakan ibadah badan yang paling agung. Dan shalat merupakan ibadah yang pertama kali akan dihisab (dihitung) di hari kiamat nanti. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلاَةُ

“Sesungguhnya hal yang pertama kali akan dihisab dari manusia dari amalnya di hari kiamat nanti adalah shalat.” (HR Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Abu Dawud, no. 810)

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *