Home Blog Page 23

Badai Pasir Melanda Kawasan Timur Tengah

0

Badai pasir dahsyat melanda negara-negara di kawasan Timur Tengah. Bahkan begitu masivnya hingga badai pasir ini pun terlihat jelas ruang angkasa.

Badan antariksa Amerika Serikat (NASA) merilis gambar pasir dan debu yang berputar-putar di kawasan Timur Tengah. Foto-foto dari satelit NASA memperlihatkan wilayah Israel, Semenanjung Sinai di Mesir, Yordania, Libanon dan sebagian Suriah dipenuhi kabut pasir tebal berwarna kuning kecokelat-cokelatan.

Menurut data satelit NASA seperti dilansir NBC News, Rabu (9/9/2015), awan pasir tersebut membumbung tinggi hingga sekitar 600 meter di udara. Foto-foto satelit NASA itu diambil dari ketinggian sekitar 800 kilometer di atas permukaan Bumi.

Badai pasir telah menyebabkan penurunan jarak pandang dan gangguan kesehatan di wilayah-wilayah Suriah, Libanon, Israel, Yordania, Arab Saudi, Siprus dan Irak.

Menurut kantor berita AFP, sejauh ini delapan orang telah meninggal akibat badai pasir ini dan ratusan orang harus dirawat di rumah sakit karena mengalami masalah pernapasan. Di Libanon, dampak badai pasir ini paling parah dirasakan para pengungsi Suriah yang tinggal di kamp-kamp pengungsian resmi dan tak resmi.

Kementerian Kesehatan Libanon menyatakan, dua wanita telah meninggal di rumah sakit di wilayah Bekaa Valley dikarenakan badai pasir ini. Sementara di Suriah, dilaporkan enam orang tewas akibat badai pasir ini, termasuk dua bocah. Menurut media di Suriah, badai ini juga telah menyebabkan pertempuran antara pasukan Suriah dan pemberontak di Provinsi Idlib dan Hama terhenti. (sumber: detik.com)

 

 

Dua Makhluk yang Paling Besar

0

Dua Makhluk yang Terbesar

Salah satu diantara aqidah (keyakinan) Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwa makhluk terbesar adalah Arsy (singgasana) Allah -Azza wa Jalla-. Mungkin selama ini ada diantara kita yang menyangka bahwa bahwa makhluk terbesar di dunia adalah langit dan bumi. Padahal masih ada yang lebih besar daripada itu semua, yaitu Al-Kursiy (Kursi) milik Allah -Azza wa Jalla-. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Artinya, ia lebih besar dibandingkan langit dan bumi. Inilah yang dijelaskan oleh Allah -Azza wa Jalla- dalam firman-Nya,

اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَلاَ يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ  [البقرة : 255]

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah), melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah, melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar”. (QS. Al-Baqoroh : 255)

Kursi adalah tempat kedua kaki Allah -Azza wa Jalla-. Penafsir Ulung, Abdullah bin Abbas -radhiyallahu anhu- berkata,

الْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ الْقَدَمَيْنِ وَالْعَرْشُ لاَ يُقَدِّرُ أَحَدٌ قَدْرَهُ

“Kursi adalah tempat kedua kaki[1]. Sedangkan Arsy tidak ada seorang pun yang mampu menentukan besarnya”.[2]

Kursi Allah adalah makhluk terbesar setelah Arsy (singgasana) Allah sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadits yang shohih dari Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, beliau bersabda,

ما السماوات السبع في الكرسي إلا كحلقة ملقاة بأرض فلاة وفضل العرش على الكرسي كفضل تلك الفلاة على تلك الحلقة

“Tidaklah langit-langit yang tujuh dibandingkan Kursi, kecuali seperti sebuah mata rantai yang dibuang di tanah yang tandus. Sedang kelebihan Arsy dibandingkan Kursi, seperti kelebihan tanah tandus itu dibandingkan sebuah mata rantai tersebut”. [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Kitab Al-Arsy (no. 58) dan Abusy Syaikh dalam Al-Azhomah(no. 70), Ibnu Baththoh dalam Al-Ibanah (no. 136) dan lainnya. Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam As-Silsilah(1/224/109)]

Ulama Negeri Syam, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy-rahimahullah- berkata usai men-takhrij hadits ini,

“Hadits ini keluar sebagai tafsir bagi firman Allah -Ta’ala-,

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ

“Kursi Allah meliputi langit dan bumi…“.

Hadits ini gamblang dalam menjelaskan kedudukan Kursi sebagai makhluk terbesar setelah Arsy dan bahwa Kursi itu adalah benda yang berdiri sendiri, bukan sesuatu yang yang tidak memiliki wujud.

Di dalam hadits ini terdapat bantahan bagi orang yang mentakwil Kursi dengan makna “kerajaan dan luasnya kekuasaan” sebagaimana yang tertera pada sebagian kitab-kitab tafsir. Adapun yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Kursi adalah “ilmu”, maka atsar itu tidak shohih sanadnya kepada beliau. Karena, ia termasuk riwayat Ja’far bin Abil Mugiroh dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas. Atsar itu diriwayatkan oleh Ibnu Jarir. Ibnu Mandah berkata, “Ibnu Abil Mughiroh bukan orang yang kuat pada Ibnu Jubair”. [Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (1/226)]

Keyakinan Ahlus sunnah wal Jama’ah bahwa Kursi adalah makhluk terbesar setelah Arsy. Inilah pendapat yang benar, bukanlah Kursi itu kekuasaan atau ilmu. Bahkan ia adalah makhluk besar yang memiliki wujud.

Al-Imam Ibnu Abi Zamanain -rahimahullah- berkata,

ومن قول أهل السنة أن الكرسي بين يدي العرش وأنه موضع القدمين

“Diantara pernyataan Ahlus Sunnah, bahwa Kursi berada di depan Arsy dan bahwa ia adalah ia adalah tempat kedua kaki (Allah)”. [LihatUshulus Sunnah (hal. 96) karya Ibnu Abi Zamanain, dengan tahqiqAbdullah bin Muhammad Al-Bukhoriy, cet. Maktabah Al-Ghuroba’ Al-Atsariyyah, 1415 H ]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata,

الكرسي ثابت بالكتاب والسنة وإجماع السلف

“Kursi adalah tsabit (benar) berdasarkan Al-Kitab, Sunnah dan ijma’ (kesepakatan) para salaf”. [Lihat Majmu’ Al-Fatawa (6/584)]

Al-Imam Ibnu Abil Izz Al-Hanafiy -rahimahullah- berkata,

وإنما هو -الكرسي- كما قال غير واحد من السلف بين يدي العرش كالمرقاة إليه

“Kursi hanyalah –sebagaimana yang dinyatakan oleh para salaf- berada di depan Arsy, laksana tangga menuju Arsy”. [Lihat Syarh Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah (hal. 277), oleh Ibnu Abil Izz, cet. Al-Maktab Al-Islamiy, 1391 H]

Al-Imam Abu Muhammad Abdul Haqq Ibnu Athiyyah Al-Andalusiy -rahimahullah- berkata,

والذي تقتضيه الأحاديث أن الكرسي مخلوق بين يدي العرش، والعرش أعظم منه

“Yang dituntut (ditetapkan) oleh hadits-hadits bahwa Kursi adalah makhluk yang ada di depan Arsy. Sedang Arsy lebih besar dibandingkan Kursi”. [Lihat Al-Muharror Al-Wajiz (1/336)]

Jadi, Kursi itu termasuk makhluk terbesar. Namun masih ada lagi makhluk yang lebih besar dibandingkan Kursi, yaitu Arsy (singgasana) Allah -Azza wa Jalla-.

Saking besarnya ukuran Arsy, ia dipikul oleh para malaikat yang memiliki postur tubuh yang besar.

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ  [الحاقة/17]

“Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung (memikul) ‘Arsy Tuhan-mu di atas (kepala) mereka”. (QS. Al-Haaqqoh : 17)

Allah Robbul izzah juga berfirman,

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ  [غافر/7]

“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala”. (QS. Al-Mukmin : 7)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata usai membawakan dua ayat ini,

“Firman Allah ini mengharuskan (menetapkan) bahwa Allah memiliki Arsy yang dipikul dan mengharuskan bahwa Arsy itu bukanlah malaikat sebagaimana yang dinyatakan oleh sekelompok orang-orangJahmiyyah. Karena, para malaikat adalah kumpulan makhluk. Nah, disini ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah memiliki malaikat-malaikat dari kalangan makhluk-makhluk-Nya yang memikul Arsy-Nya, sedang malaikat-malaikat lainnya berada di sekitarnya; dan juga menunjukkan bahwa Arsy pada hari kiamat akan dipikul oleh delapan malaikat”. [Lihat Bayan Talbis Al-Jahmiyyah fi Ta’sis Bida’ihim Al-Kalamiyyah (1/576) oleh Ibnu Taimiyyah, cet. Mathba’ah Al-Hukumah, 1392 H]

Malaikat pemikul Arsy digambarkan kebesarannya oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- di  dalam sebuah hadits. Beliau -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

أُذِنَ لِي أَنْ أُحَدِّثَ عَنْ مَلَكٍ مِنْ مَلاَئِكَةِ اللَّهِ مِنْ حَمَلَةِ الْعَرْشِ إِنَّ مَا بَيْنَ شَحْمَةِ أُذُنِهِ إِلَى عَاتِقِهِ مَسِيرَةُ سَبْعِ مِائَةِ عَامٍ

“Telah diizinkan bagiku untuk menceritakan tentang seorang malaikat diantara malaikat-malaikat pemikul Arsy. Sesungguhnya apa yang ada diantara dua cuping telinganya sampai ke pundaknya adalah sejauh perjalanan 700 tahun”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 4727). Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalamTakhrij Misykah Al-Mashobih (no. 5728)]

Ini adalah gambaran yang amat menakjubkan. Seorang malaikat pemikul Arsy memiliki postur tubuh yang amat mencengangkan. Jarak antara cupingnya saja dengan bahu sejauh perjalanan 700 tahun. Allahu Akbar, Maha Besar Allah yang telah menciptakannya.

Al-Imam Ath-Thibiy –rahimahullah– berkata,

“Yang dimaksudkan dengan “700 tahun” disini adalah menggambarkan banyaknya, bukan untuk pembatasan. Karena, bilangan itu lebih cocok dengan pembicaraan dan lebih memberikan dorongan kepada keadaan. Beliau bersabda, “Telah diizinkan bagiku…”, untuk memberikan faedah bahwa pengetahuan tentang perkara gaib adalah perkara yang khusus bagi Allah -Ta’ala-. Akan tetapi (terkadang) Allah memperlihatkan sebagiannya kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Namun orang yang Allah perlihatkan perkara gaib itu tidak berhak menceritakannya, kecuali dengan izin-Nya”. [Lihat Faidhul Qodir (1/458) karya Al-Munawiy]

Dijelaskan dalam sebagian hadits-hadits bahwa di bawah Arsy (singgasana) Allah -Azza wa Jalla- terdapat air. Inilah yang dikatakan oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam sabdanya,

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ قَالَ وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ

“Allah telah menulis takdir-taqdir para makhluk 50 ribu tahunsebelum Dia menciptakan langit dan bumi”. Beliau bersabda, “Sedang Arsy-Nya di atas air”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2653) dari Abdullah bin Amer bin Al-Ash -radhiyallahu anhuma-]

Inilah sedikit keterangan tentang dua makhluk terbesar ini. Jika anda mau memperluas pembahasan, silakan kembali kepada Kitabul Arsyyang ditulis oleh Ibnu Abi Syaibah dan Adz-Dzahabiy atau risalah Syaikhul Islam yang berjudul “Ar-Risalah Al-Arsyiyyah”.

 

[1] Yakni, kedua kaki Allah -Azza wa Jalla-.

[2] HR. Ad-Darimiy dalam Naqdh Al-Imam Abi Sa’id Utsman bin Sa’id ala Bisy Al-Marisiy Al-Jahmiy Al-Anid (1/423), Ibnu Khuzaimah dalam Kitab At-Tauhid (no. 185), Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah (586 & 1020), Ibnu Abi Syaibah dalam Kitab Al-Arsy (no. 61), Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (no. 12404), Ath-Thobariy dalam Jami’ Al-Bayan (3/10), Ad-Daruquthniy Ash-Shifat(hal. 30), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (2/283), Al-Khothib dalamTarikh Baghdad (9/251-252) dan Al-Harowiy dalam Al-Arba’in (hal. 125). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalamMukhtashor Al-Uluw (hal. 102/no. 36)

Sifat-sifat Surga [2]

0

Sifat-Sifat Surga dalam As-Sunnah Ash-Shahiihah [2]

Pemandangan dari Surga

Di surga ada kenikmatan yang kekal, kebaikan yang merata, dan rahmat dari Ar-Rahmaan Ar-Rahiim.

Di sana ada dipan-dipan tinggi yang diliputi kebersihan, sebagaimana diliputi dengan kesucian. Dan di sana terdapat gelas-gelas yang suci yang disediakan untuk diminum. Tidak perlu meminta dan dipersiapkan. Bantal-bantal dan tilam-tilam untuk bertelekan waktu beristirahat. Karpet-karpet dan sajadah-sajadah terhampar dimana-mana untuk perhiasan dan duduk bersenang-senang.

Semua nikmat yang disebutkan dalam Kitabullah atau Sunnah Nabi-Nya ini namanya sama dengan yang dilihat manusia di dunia. Akan tetapi…. ketika disebut benda-benda ini, hanya sebagai penamaan agar dipahami oleh penduduk dunia. Adapun yang sebenarnya dan hakekat kesenangan-kesenangan ini diserahkan kepada Allah Yang Maha Agung, Maha Bijaksana lagi Maha menegakkan langit-langit dan bumi.

Adapun pembawaannya, diserahkan kepada segenap kemampuan mereka di sana. Diserahkan kepada panca indera orang-orang yang diberikan kemampuan oleh Allah. Kehidupan penduduk di surga, semuanya berisi kesejahteraan, diliputi dan dipenuhi kesejahteraan. Para malaikat mengucapkan salam sejahtera kepada mereka dalam suasana yang sentausa. Mereka saling mengucapkan salam, dan mereka dikirimi salam oleh Ar-Rahmaan. Maka semua keadaannya berisi salam kesejahteraan.[17]

a. Kamar-Kamarnya.

عن أبي سعيد الخدري – رضي الله عنه – : أن رسولَ الله – صلى الله عليه وآله وسلم – قال : ((إنَّ أهلَ الجنةِ لَتَرَاءَون أَهل الغرفِ مِن فوقهِم كما تتراءَونَ الكَوكبَ الدُّرِّيَّ الغابرَ في الأفقِ من المشرق أو المغرب؛ لتفاضُل ما بينهم)) قالوا : يا رسولَ الله! تلك منازلُ الأنبياء، لا يبلُغها غيرهم ؟ قال : ((بلى، والذي نفسي بيده؛ رجالٌ أمنوا بالله، وصدَّقوا المُرسَلين)).

Dari Abu Sa’iid Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam bersabda :“Sesungguhnya penduduk surga saling dapat melihat penduduk surga yang terletak kamar di atasnya sebagaimana mereka saling melihat bintang yang bersinar terang di ufuk sebelah timur atau barat, dikarenakan perbedaan keutamaan di antara mereka”. Para shahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, kedudukan para nabi itu, apakah tidak dapat dicapai oleh selain mereka ?”. Beliau menjawab : “Tentu saja untuk para Nabi. (Namun) demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, (kedudukan itu dapat dicapai oleh) orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para Rasul”.[18]

وعن أبي مالكٍ الأشعري : أنَّ النَّبِيَّ – صلى الله عليه وآله وسلم – قال : ((إِنَّ في الجنةِ غُرَفاً يُرى ظاهرها مِن باطنها، وباطنها مِن ظاهرها، أعدَّها اللهُ لمن أطعم الطعام، وألان الكلامَ، وتابع الصِّيام، وصلَّى بالليلِ والناسُ نِيَام)).

Dari Abu Maalik Al-Asyariy : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya di dalam surga terdapat kamar-kamar yang dapat dilihat bagian luarnya dari dalam, dan bagian dalamnya dari luar; yang disediakan Allah bagi orang yang memberikan makanan, melembutkan ucapan, selalu berpuasa, dan mengerjakan shalat malam saat orang-orang tidur lelap”.[19]

b. Kemah-Kemah, Taman-Taman, dan Debu-Debu Surga.

عن أبي موسى الأشعري – رضي الله عنه – : أن رسولَ الله – صلى الله عليه وآله وسلم – قال : ((إنَّ للمؤمنِ في الجنةِ لخَيمةً من لؤلؤةٍ واحدةٍ مُجوفةٍ، طولها ستون ميلاً، للمؤمنِ فيها أهلونَ يطوفُ عليهم المؤمنُ فلا يرى بعضُهُمْ بعضاً)).

Dari Abu Musa Al-Asy’ariy radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam bersabda :“Sesungguhnya bagi seorang mukmin diberikan satu kemah di surga yang terbuat dari mutiara yang berongga. Panjangnya enam puluh mil. Dan bagi seorang mukmin disediakan beberapa orang istri yang selalu digilirnya, dimana masing-masing (istri itu) tidak bisa melihat satu dengan yang lainnya”.[20]

Dan dalam hadits Israa’ :

عن أنس بن مالك – رضي الله عنه – : عن النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – قال : ((…..ثم انطلق بي جبريلُ حتى نأتيَ سدرةَ المنتهى، فغَشيَهَا ألوانٌ لا أدري ما هي! قال : ثم أُدخِلْتُ الجنةَ فإذا فيها جنابذ اللؤلؤِ، وإذا ترابُها المِسك)).

Dari Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam, beliau bersabda : “….kemudian Jibriil berjalan bersamaku hingga kami sampai di Sidratul-Muntahaa. Ternyata ia dilingkupi oleh warna-warni yang aku tidak tahu apa itu”. Beliau berkata : “Kemudian aku dimasukkan ke surga, yang ternyata di dalamnya ada kemah-kemah dan kubah-kubah dari mutiara. Dan debunya terbuat dari misk”.[21]

وعن أبي موسى الأشعري – رضي الله عنه – أن رسولَ الله – صلى الله عليه وآله وسلم – قال : ((جنتانِ مِن فضَّةٍ آنيتُها وما فيها، وجنتانِ مِن ذهبٍ آنيتها وما فيها، وما بين القومِ وبين أن ينظروا إلى ربِّهِم إلا رِداءِ الكبرياءِ على وجههِ في جنة عدن)).

Dari Abu Musa Al-Asy’ariy radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam bersabda : “Dua buah surga terbuat dari perak, juga bejana-bejana dan segala yang terdapat di dalamnya. Dua buah surga terbuat dari emas, juga bejana-bejana dan segala yang terdapat di dalamnya. Tidaklah ada (penghalang) antara satu kaum dengan pandangan mereka kepada Rabb mereka kecuali selendang kebesaran di wajah-Nya di surga ‘Adn”.[22]

c. Pohon-Pohonnya

عن أبي سعيد الخدري – رضي الله عنه – : عن النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – قال : ((إِنَّ في الجنةِ شجرةً يسيرُ الراكبُ الجوادُ المضمَّرُ مئةَ عامٍ ما يقطعُهَا)).

Dari Abu Sa’iid Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu : Dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam, beliau bersabda : “Sesungguhnya di surga terdapat satu pohon yang seandainya seorang berjalan dengan satu kendaraan yang paling bagus dan mampu berjalan lama selama seratus tahun, niscaya tidak akan selesai melewatinya”.[23]

وعن أبي هريرة – رضي الله عنه – قال : قال رسولُ الله – صلى الله عليه وآله وسلم – : ((ما في الجنة شجرةٌ إلا وساقُها مِن ذهبٍ)).

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam : “Tidaklah ada satu pohon pun di surga kecuali batangnya terbuat dari emas”.[24]

d. Pasarnya.

عن أنس بن مالك – رضي الله عنه – : أن رسولَ الله – صلى الله عليه وآله وسلم – قال : ((إِنَّ في الجنة لسوقاً يأتونها كلَّ جمعةٍ، فتهُبُّ ريحُ الشَّمال، فتحثو في وجوههم وثيابهم، فيزدادون حُسناً وجمالاً، فيرجعون إلى أهليهم وقد ازدادوا حُسناً وجمالاً، فيقول لهم أهلوهم : والله لقد ازدَدْتُم بَعدنا حُسناً وجمالاً، فيقولون : وأنتم واللهِ لقد ازددتُم بعدنا حُسناً وجمالاً)).

Dari Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya di surga terdapat pasar yang diramaikan hanya pada hari Jum’at. Maka ketika itu angin berhembus dari arah utara dan menerpa wajah-wajah dan pakaian mereka sehingga menambah indah dan rupawan. Mereka pun kembali pada keluarga mereka yang juga bertambah indah dan rupawan. Keluarga mereka berkata : ‘Demi Allah, sungguh engkau bertambah indah dan rupawan’. Mereka pun berkata : ‘Dan kalian, demi Allah, juga bertambah indah dan rupawan”.[25]

e. Istana-Istananya.

عن جابر بن عبد الله – رضي الله عنه – قال : قال رسولُ الله – صلى الله عليه وآله وسلم – : ((دخلتُ الجنةَ فإذا أنا بقصرٍ مِن ذهبٍ، فقلتُ : لِمَن هذا ؟ قالوا : لِرجلٍ من قريش. فظننتُ أني أنا هو، فقلتُ : ومَن هو : قالوا : عمر بن الخطاب، فما منعني أن أدخلَه يا ابن الخطاب إلا ما أعلمُ من غَيْرتك)). قال : وعليك أغار يا رسول الله؟!.

Dari Jaabir bin ‘Abdillah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam : “Aku pernah masuk ke surga, yang ternyata di dalamnya terdapat istana dari emas. Aku bertanya : ‘Untuk siapakah ini ?’. Mereka berkata : ‘Untuk seorang laki-laki dari Quraisy’. Aku menyangka bahwa akulah orang tersebut. Lalu aku pun kembali bertanya : ‘Siapakah ia ?’. Mereka menjawab : ‘’Umar bin Al-Khaththaab’. Tidak ada yang menghalangiku untuk memasukinya wahai Ibnul-Khaththaab, kecuali apa yang aku ketahui dari kecemburuanmu”. ‘Umar berkata : “Apakah aku akan cemburu kepadamu wahai Rasulullah ?!”.[26]

f. Sungai-Sungainya.

عن أنس بن مالك – رضي الله عنه – قال : قال رسولُ الله – صلى الله عليه وآله وسلم – : ((دخلتُ الجنةَ فإذا أنا بنهرٍ حافَّتاهُ خيام اللؤلؤ، فضربتُ بيديَّ إلى ما يجري فيه الماء، فإذا مِسكٌ أذْفُر، فقلتُ : ما هذا يا جبريل ٕ قال : هذا الكوثرُ الذي أعطاكه اللهُ)).

Dari Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam : “Aku pernah masuk ke surga yang ternyata di dalamnya terdapat sungai yang di pinggirnya terdapat kemah-kemah dari mutiara. Lalu aku memukulkan tanganku ke air yang mengalir itu. Ternyata airnya adalah misk yang sangat harum baunya. Aku bertanya : ‘Apakah ini wahai Jibril ?’. Ia menjawab : ‘Ini adalah Al-Kautsar yang Allah berikan untukmu”.[27]

Kemuliaan yang Paling Besar di Surga

عن صهيب بن سنان قال : قال رسولُ الله – صلى الله عليه وآله وسلم – : ((إذا دخل أهلُ الجنةِ الجنةَ، وأهلُ النارِ النارَ، نادى مُنَادٍ : يا أهل الجنة! إنَّ لكم عند اللهِ موعداً يُريدُ أن يُنجِزكموه، فيقولون : وما هو؟ ألم يُثقِّل اللهُ موازيننا، ويبيِّض وجوهَنا، ويدخلنا الجنة، وينجينا من النار؟ فيُكشَف الحجاب، فينظرون إليه، فواللهِ ما أعطاهُم اللهُ شيئاً أحبَّ إليهم من النظر إليه، ولا أقرَّ لأَعينهم)).

Dari Shuhaib bin Sinaan, ia berkata : Telah bersabda Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam : “Apabila penduduk surga telah masuk ke dalam surga dan penduduk neraka telah masuk neraka, berserulah seorang penyeru : ‘Wahai penduduk surga, sesungguhnya kalian mempunyai janji di sisi Allah yang Ia ingin tunaikan kepada kalian’. Mereka berkata : ‘Apakah itu ? Bukankah Allah telah memberatkan timbangan-timbangan kami, memutihkan wajah-wajah kami, memasukkan kami ke dalam surga, dan menyelamatkan kami dari api neraka ?’. Maka disingkapkanlah hijab, lalu mereka melihat-Nya. Maka demi Allah, tidak ada sesuatupun yang Allah berikan kepada mereka yang lebih dicintai oleh mereka dan lebih menyenangkan mereka daripada melihat kepada wajah-Nya”.[28]

Kedudukan Penduduk Surga Paling Rendah dan Paling Tinggi

عن مغيرة بن شُعبة قال : قال رسول الله – صلى الله عليه وآله وسلم – : ((سأل موسى ربه: ما أدنى أهل الجنة منزلة؟ قال: هو رجل يجيء بعد ما أدخل أهل الجنة الجنة فيقال له: ادخل الجنة . فيقول أي رب ! كيف؟ وقد نزل الناس منازلهم وأخذوا أخذاتهم؟ فيقال له: أترضى أن يكون لك مثل ملك ملك من ملوك الدنيا؟ فيقول: رضيت، رب! فيقول: لك ذلك ومثله ومثله ومثله ومثله. فقال في الخامسة: رضيت، رب! فيقول: هذا لك وعشرة أمثاله. ولك ما اشتهت نفسك ولذت عينك. فيقول: رضيت، رب! قال: رب! فأعلاهم منزلة؟ قال: أولئك الذين أردت غرست كرامتهم بيدي. وختمت عليها. فلم تر عين ولم تسمع أذن ولم يخطر على قلب بشر)).

Dari Mughiirah bin Syu’bah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam : “Musa pernah bertanya kepada Rabbnya : ‘Siapakah yang termasuk penduduk surga paling rendah kedudukannya ?’. Allah berfirman : ‘Ia adalah laki-laki yang datang setelah penduduk surga dimasukkan ke dalam surga. Dikatakan kepadanya : ‘Masuklah ke dalam surga’. Laki-laki tersebut berkata : ‘Wahai Rabbku bagaimana caranya ?. Semuanya telah menempati tempatnya masing-masing dan mengambil bagiannya’. Dikatakan kepadanya : ‘’Apakah engkau ridla jika diberikan kepadamu apa-apa yang dimiliki oleh seorang raja di antara raja-raja dunia ?’. Ia berkata : ‘Ya, aku ridla’ wahai Rabbku!. Allah berfirman : ‘Bagimu yang semisalnya, yang semisalnya, yang semisalnya, dan yang semisalnya’. Dan ia berkata untuk yang kelima kalinya : ‘Aku ridla wahai Rabbku!’. Allah kembali berfirman : ‘Ini bagimu sepuluh kali lipatnya. Dan bagimu pula segala apa yang diinginkan jiwamu dan yang menyenangkan pandanganmu’. Ia berkata : ‘Aku ridla, wahai Rabbku’. Musa bertanya : ‘Wahai Rabb, siapakah orang yang mempunyai kedudukan paling tinggi ?’. Allah berfirman : ‘Mereka adalah orang-orang yang aku pilih. Aku menanam kemuliaan mereka dengan tangan-Ku sendiri dan Aku tutup dengannya. Kenikmatan itu tidak pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas oleh jiwa manusia”.[29]

Ketahuilah – wahai hamba Allah – bahwa para penghuni surga adalah orang-orang yang merasa takut kepada Allah. Rasa takut yang mendorong kpada kebaikan dan mencegah dari setiap kemunkaran. Perasaan ini yang menyingkirkan segenap rintangan dan menyingkap tirai. Dan hati melebur di hadapan Dzat Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Rasa takut inilah yang membuat ibadah dan amal menjadi ikhlash, bersih dari noda-noda riya’ dan syirik di setiap gambarannya.

Maka orang yang takut kepada Rabbnya dengan benar, tidak kuasa untuk memberikan tempat di hatinya untuk tidak ikhlash kepada Allah. Dia tahu bahwa Allah akan menolak setiap amal yang juga diberikan kepada selain-Nya. Allah adalah sekutu yang paling tidak membutuhkan kepada penyekutuan. Amalan itu harus ikhlash untuk-Nya. Kalau tidak, niscaya Dia tidak akan menerimanya. Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam bersabda :

قال اللهُ تعَلى : أنا أغنَى الشُّركاء عن الشرك، مَن عمل عملاً أشركَ فيه معيَ غيري؛ تركتُه وشركَه

“Allah ta’ala berfirman : ‘Aku adalah sekutu yang paling yang tidak butuh kepada penyekutuan. Barangsiapa yang beramal dengan menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan ia dan penyekutuannya”.[30]

Maka penduduk surga adalah orang-orang yang bertaqwa, takut, lagi mendekatkan diri kepada Allah. Allah ‘azza wa jalla tidak akan menggabungkan dua rasa takut pada satu jiwa, yaitu takut kepada dunia dan takut kepada-Nya di hari kiamat.

Barangsiapa yang takut kepada-Nya di dunia, niscaya Allah akan memberikan rasa aman kepadanya di hari akhirat. Dan bersamaan rasa aman di tempat yang mengerikan, juga diberikan rasa dekat dan pemuliaan.[31]

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam bersabda :

قال اللهُ عزَّ وجلَّ : لا أجمعُ على عبدِي خَوفَيِنِ، ولا أجمعُ له أَمنَين، فإِنْ أمِنَني في الدنيا؛ أخفتُه يوم القيامة، وإن خافني في الدنيا؛ أمنتُه يوم القيامة.

“Allah ‘azza wa jalla berfirman : ‘Aku tidak akan menghimpun dua rasa taku pada hamba-Ku dan tidak pula menghimpun baginya dua rasa aman. Apabila ia merasa aman dari-Ku di dunia, maka aku memberikannya rasa takut di hari kiamat. Apabila ia takut kepada-Ku di dunia, akan Aku beri rasa aman kepadanya di hari kiamat”.[32]

[Asy-Syaikh ‘Aliy bin Hasan Al-Halabiy Al-Atsariy – Al-Jannah, Na’iimuhaa wath-Thariiqu Ilaihaa, hal. 13-24 – Muntadayaatu Kullil-Salafiyyiin – http://www.kulalsalafiyeen.com – http://abul-jauzaa.blogspot.com].

 


[17] Al-Yaumul-Aakhir fii Dhilaalil-Qur’aan, hal. 321-322 – dengan perubahan.

[18] Muttafaqun ‘alaihi.

[19] Shahiihul-Jaami’ no. 2119.

[20] Muttafaqun ‘alaihi.

[21] Muttafaqun ‘alaihi.

[22] Muttafaqun ‘alaihi.

[23] Muttafaqun ‘alaihi.

[24] Shahiihul-Jaami’ no. 5523.

[25] Diriwayatkan oleh Muslim.

[26] Muttafaqun ‘alaihi.

[27] Shahiihul-Jaami’ no. 3260.

[28] Shahiihul-Jaami’ no. 535. Lihat Syarh Al-‘Aqiidah Ath-Thahaawiyyah hal. 144 dan Mawaaridudh-Dham’aan li-Duruusiz-Zamaan 4/131-136.

[29] Diriwayatkan oleh Muslim.

[30] Diriwayatkan oleh Muslim.

[31] Al-Yaumul-Aakhir fii Dhilaalil-Qur’an hal. 332-333.

[32] Shahiihul-Jaami’ no. 4208.

Sifat-sifat Surga [1]

0

Sifat-Sifat Surga dalam As-Sunnah Ash-Shahiihah [1]

 

Orang yang Pertama Kali Masuk ke dalam Surga

عن أنس بن مالك – رضي الله عبه – قال : قال رسول الله – صلى الله عليه وآله وسلم – : ((آتي بَاب الجنةِ يومَ القيامةِ فأستفتِح، فيقولُ الخازنُ : مَن أَنتَ ؟ فأقولُ : محمدٌ، فيقولُ : بكَ أُمرتُ لا أفتحُ لأحدٍ قبلَكَ)).

Dari Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam : “Aku akan mendatangi pintu surga di hari kiamat kelak, lalu aku minta agar dibukakan. Penjaga pintu bertanya : ‘Siapakah engkau ?’. Aku menjawab : ‘Aku adalah Muhammad’. Ia berkata : ‘Hanya denganmu aku diperintahkan (agar) aku tidak membukanya untuk siapapun sebelummu”.[1]

عن حُذيفةَ قال : قال رسول الله – صلى الله عليه وآله وسلم – : ((وَلَدُ آدَمَ كلُّهُم تحتَ لوائي يومَ القيامةِ، وأنا أولُ مَن يُفتَح له بابُ الجنةِ)).

Dari Hudzaifah ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa aalihi sallam : “Semua anak Adam di bawah benderaku/panjiku kelak di hari kiamat. Dan aku adalah orang yang pertama kali dibukakan pintu surga”.[2]

Sifat Rombongan yang Pertama Kali Masuk Surga

عن أبي هريرة – رضي الله عنه – قال : قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم : ((إن أول زُمرةٍ يدخلون الجنة على صورة القمر ليلة البدر، والذين يلونهم على أشدِّ كوكبٍ دُرِّيٍّ في السماءِ إضاءةً، لا يبولونَ، ولا يتغوَّطونَ، ولا يتمخطون، ولا يتفلون، أمشاطهم الذهب، ورشحهم المسك، ومجامرهم الألوَّة، وأزواجهم الحُور العِين، أخلاقهم على خلقِ رجلٍ واحدٍ؛ على صورةِ أبيهم آدمَ : ستون ذراعاً في السماء)).

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam : “Sesungguhnya rombongan pertama yang masuk surga dalam rupa seperti bulan purnama. Adapun rombongan setelah mereka dalam rupa bintang yang sangat terang di langit yang cerah. Tidaklah mereka buang air kecil, buang air besar, beringus, dan meludah. Sisir mereka terbuat dari emas, keringat mereka adalah misk (minyak wangi), mijmar (wadah minyak wangi) mereka adalah kayu gaharu India, istri-istri mereka adalah para bidadari, dan bentuk tubuh mereka semua sama, yaitu seperti bentuk tubuh ayah mereka Adam sepanjang enam puluh hasta menjulang ke langit”.[3]

Pintu-Pintu Surga

عن أبي هريرة – رضي الله عنه – أن رسولَ الله – صلى الله عليه وآله وسلم – قال : ((مَن أنفَقَ زوجين في سبيل الله؛ نودي مِن أبواب الجنة : يا عبد الله! هذا خيرٌ، فَمَنْ كان مِن أهلِ الصلاة دُعي من باب الصلاة، ومن كان من أهل الجهاد دُعي من باب الجهاد، ومن كا من أهل الصيام دُعي من باب الريَّان، ومن كان من أهل الصدقة دُعي من باب الصدقة))، فقال أبو بكر الصديق – رضي الله عنه – : بأبي أنت وأمي يا رسول الله! ما على مَن دُعي من تلك الأبواب مِن ضرورة؛ فهل يُدعى أحدٌ من تلك الأبواب كلِّها : قال : ((نعم، وأرجو أن تكونونَ منهم)).

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang menginfakkan hartanya (budak, kuda, atau onta) di jalan Allah, niscaya ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga : ‘Wahai hamba Allah, ini adalah kebaikan. Barangsiapa termasuk orang yang giat mengerjakan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat. Barangsiapa termasuk orang yang berjihad, ia akan dipanggil dari pintu jihad. Barangsiapa termasuk orang yang rajin berpuasa, ia akan dipanggil dari pintu Ar-Rayyaan. Dan barangsiapa termasuk orang yang gemar bershadaqah, maka ia akan dipanggil dari pintu shadaqah”. (Mendengar itu) Abu Bakr Ash-Shiddiiq radliyallaahu ‘anhu berkata : “Demi ayah dan ibuku wahai Rasulullah, sungguh tidak ada kesedihan sedikitpun bagi orang yang dipanggil oleh pintu-pintu tersebut. (Namun) apakah ada seorang yang dipanggil oleh semua pintu tersebut ?”. Beliau menjawab : “Ya ada, dan aku berharap engkau salah seorang di antaranya”.[4]

عن سهل بن سعد قال : قال رسول الله – صلى الله عليه وآله وسلم – : ((في الجنة ثمانيةُ أبوابٍ، منها بابٌ يُسمَّى الريَّان لا يدخله إلا الصائمون)).

Dari Sahl bin Sa’d ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam : “Dalam surga ada delapan buah pintu. Di antara pintu tersebut ada yang dinamakan Ar-Rayyaan yang tidak akan dimasuki kecuali orang-orang yang berpuasa”.[5]

Tidak Ada Kematian di dalam Surga

عن أبي سعيد وأبي هريرة – رضي الله عنهما – أن رسولَ الله – صلى الله عليه وآله وسلم – قال : ((إذا دخل أهلُ الجنةِ الجنةَ ينادِي مُنادٍ : إِنَّ لكم أن تحيَوا فلا تموتوا أبداً، وإنَّ لكم أن تصحُّوا فلا تسقموا أبداً، وإنَّ لكم أن تشبُّوا فلا تهرموا أبداً، وإنَّ لكم أنْ تُنعموا فلا تبأسوا أبداً)).

Dari Abu Sa’iid dan Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhumaa : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallambersabda : “Apabila penduduk surga telah memasuki surga, maka seorang penyeru menyerukan : ‘Sesungguhnya kalian akan tetap hidup dan tidak akan mati selamanya, akan tetap sehat dan tidak akan sakit selamanya, akan tetap muda dan tidak akan menjadi tua selamanya, serta akan tetap mendapat kenikmatan dan tidak akan mendapatkan kesusahan selamanya”.[6]

Berbagai Macam Kedudukan dan Tingkatan dalam Surga

عن أبي هريرة – رضي الله عنه – : عن النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – قال : مَن آمن بالله ورسوله، وأقام الصلاة، وصام رمضان؛ كان حقاً على الله أن يُدخلَه الجنة؛ هاجرَ في سبيل الله، أو جلس في أرضه التي وُلد فيها))، قالوا : يا رسول الله! أفلا نُنبِئُ الناسَ بذلك ؟ قال : ((إنَّ في الجنة مئةَ درجةٍ أعدَّها اللهُ للمجاهدين في سبيله، كل درجتين ما بينهما كما بين السماء والأرض، فإذا سألتُم اللهَ فسلُوهُ الفردوسَ الأعلى؛ فإنَّهُ أَوسطُ الجنةِ وأعلى الجنة، وفوقه عرشُ الرحمن، ومنه تُفجر أنهار الجنة)).

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam, beliau bersabda : “Barangsiapa yang beriman kepada Allah, mendirikan shalat, dan berpuasa di bulan Ramadlan, maka wajib bagi Allah memasukkannya ke dalam surga. Ia berhijrah di jalan-Nya atau tetap tinggal di negeri tempat ia dilahirkan”. Para shahabat bertanya : Wahai Rasulullah, apakah kami boleh memberitahu orang-orang mengenai hal itu ?”. Beliau bersabda :“Sesungguhnya di dalam surga ada seratus tingkatan yang disediakan Allah bagi orang-orang yang berjihad di jalan-Nya. Setiap dua tingkatan seperti jarak antara langit dan bumi. Apabila kalian meminta (berdoa) kepada Allah, maka mintalah Firdaus yang tertinggi. Sesungguhnya ia adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi. Di atasnya adalah ‘Arsy Ar-Rahman (Allah). Dari sanalah sungai-sungai surga mengalir”.[7]

Penduduk Surga dan Sifat-Sifatnya

عن معاذ بن جبل – رضي الله عنه – : أن النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – قال : ((يدخلُ أهلُ الجنةِ الجنةَ جُرداً مُرداً كأنهم مُكحَّلون، أبناء ثلاثين أو ثلاث وثلاثين سنة)).

Dari Mu’aadz bin Jabal radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Nabishallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam bersabda : “Akan masuk sekelompok orang ke dalam surga dalam keadaan rambut mereka pendek lagi jarang, seakan-akan mata mereka bercelak. Usia mereka tiga puluh atau tiga puluh tiga tahun”.[8]

وعن أبي هريرة قال : قال رسول الله – صلى الله عليه وآله وسلم – : ((يدخلُ الجنةَ أقوامٌ أفئدتهم مثلُ أفئدةِ الطَّير)).

Daru Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam : “Akan masuk ke dalam surga satu kaum yang hati mereka seperti hati seekor burung”.[9]

وعن أنس – رضي الله عنه – : عن النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – قال : ((يُعطى المؤمنُ في الجنة قوة كذا وكذا مِن الجماع))، قيل : يا رسول الله! أو يطيق ذلك ؟ قال : ((يُعطى قوة مئة)).

Dan dari Anas radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam, beliau bersabda : “Seorang mukmin akan diberi kemampuan sekian dan sekian, yaitu dalam hal jima’”. Dikatakan : “Wahai Rasulullah, apakah ia mampu melakukannya ?” Beliau bersabda : “Ia diberikan kemampuan semisal seratus orang lak-laki”.[10]

وعن أبي هريرة – رضي الله عنه – قال : قال رسول الله – صلى الله عليه وآله وسلم – : ((مَن يدخل الجنةَ ينعم ولا يبأس، ولا تَبلى ثيابُهُ، ولا يَنفى شبابُه)).

Dan dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam :“Barangsiapa yang masuk surga, ia akan diberikan kenikmatan tanpa ada kesusahan, tidak menjadi usang/lusuh baju (yang dipakainya), dan tidak pula hilang kebugarannya”.[11]

Wanita Penduduk Surga

عن أنس بن مالك – رضي الله عنه – قال : قال رسول الله – صلى الله عليه وآله وسلم – : ((لروحة في سبيل الله، أو غدوة، خير من الدنيا وما فيها، ولقاب قوس أحدكم من الجنة، أو موضع قيد – يعني سوطه – خير من الدنيا وما فيها، ولو أن امرأة من أهل الجنة اطلعت إلى أهل الأرض لأضاءت ما بينهما، ولملأته ريحا، ولنصيفها على رأسها خير من الدنيا وما فيها)).

Dari Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam : “Berangkat pagi-pagi atau siang di jalan Allah lebih baik daripada dunia dan seisinya. Dan sungguh, satu jarak busur kalian di surga atau tempat kait – yaitu di bagian tengahnya – lebih baik daripada dunia dan seisinya. Dan apabila wanita penduduk surga (bidadari) menampakkan diri kepada penduduk dunia, niscaya cahaya tubuhnya akan menerangi antara keduanya; serta bumi akan dipenuhi oleh keharuman baunya. Dan sungguh, penutup kepalanya itu lebih baik daripada dunia dan seisinya”.[12]

وعن عبد الله بن عمرَ – رضي الله عنه – : أن رسولَ الله – صلى الله عليه وآله وسلم – قال : ((إِنَّ أزواج أهل الجنةِ لَيُغَنِّينَ أزواجهنَّ بأحسن أصواتٍ ما سمعها أحدٌُ قط، إن مما يُغنِّين :
((نحن الخيِّرات الحِسان)) ((أزواج قوم كِرام))
((ينظرونَ بِقرَّة أعيان))
وإن مما يُغنِّينَ به :
((نحن الخالدات يمتنه)) ((نحن الآمِناتُ فلا يخفنه))
((نحن المقيمات فلا يظعنه)).

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya istri-istri penduduk surga mendendangkan untuk para suami mereka dengan suara yang sangat indah/merdu yang tidak pernah didengar seorangpun (di dunia). Di antara yang mereka dendangkan adalah :

‘Kami adalah para wanita yang cantik jelita,

istri orang-orang yang mulia,

Kami melihat dengan mata yang indah’

Dan juga diantara yang mereka dendangkan :

‘Kami adalah para wanita yang kekal dan tidak akan mati,

kami adalah wanita yang aman tanpa ada takut

Kami adalah para wanita yang menetap dan tidak akan pindah”.[13]

Makanan dan Minuman Penduduk Surga

عن جابر – رضي الله عنه – قال : قال رسولُ الله – صلى الله عليه وآله وسلم – : ((يَأكُلُ أهلُ الجنةِ فيها ويشربونَ، ولا يتغوَّطونَ، ولا يمتخِطون، ولا يبولون، ولكن طعامُهم ذاك جُشاءٌ كَرَشحِ المُسك، يُلهَمون التسبيح كما يُلهَمون النفس)).

Dari Jaabir radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam : “Penduduk surga makan dan minum di dalamnya, tidak buang air besar, tidak beringus, dan tidak pula buang air kecil. Namun makanan mereka itu adalah sendawa yang baunya seperti percikan misk. Mereka diilhami untuk bertasbih sebagaimana mereka diilhami untuk bernapas”.[14]

وعن معاوية بن حَيدة قال : قال رسولُ الله – صلى الله عليه وآله وسلم – : ((إِنَّ في الْجنةِ : بَحر الماء، وبحر العَسل، وبحر اللبَن، وبحر الخمرِ، ثم تشققُ الأنهارُ بعد)).

Dan dari Mu’aawiyyah bin Haidah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam : “Sesungguhnya di surga terdapat lautan air, lautan madu, lautan susu, dan lautan khamr; dan kemudian bercabang menjadi sungai-sungai”.[15]

وعن أنس قال : قال النبيُّ – صلى الله عليه وآله وسلم – : ((هل تدرون ما الكَوثَر؟ هو نهرٌ أعطانيهِ ربِّي في الجنة، عليه خيرٌ كثيرٌ، تَرِدُ عليه أمتي يوم القيامة، آنِيَّتُهُ عدد الكواكب، يختلجُ العبدُ منهم فأقولُ : يا ربِّ إنه مِن أمتي، فيُقال : إنك لا تدري ما أحدثوا بعدكَ)).

Dan dari Anas, ia berkata : Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam : “Apakah kalian mengetahui apa itu Al-Kautsar ? Ia adalah sungai yang diberikan oleh Rabb-ku di surga. Padanya terdapat kebaikan yang sangat banyak. Umatku kelak akan mendatanginya di hari kiamat. Bejananya sebanyak bintang. Ada seorang hamba yang menjauh, lalu aku katakan : ‘Wahai Rabbku, sesungguhnya ia termasuk umatku’. Maka dikatakan : ‘Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang telah mereka ada-adakan sepeninggalmu”.[16]

 


[1] Diriwayatkan oleh Muslim no. 188.

[2] Shahiihul-Jaami’ no. 6995.

[3] Muttafaqun ‘alaihi.

[4] Muttafaqun ‘alaih.

[5] Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy.

[6] Diriwayatkan oleh Muslim.

[7] Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy. Lihat dalam Manaazilul-Jannah – juga – Shahiihul-Jaami’ no. 7873.

[8] Shahiihul-Jaami’ no. 7928.

[9] Yaitu dalam hal kelembutan, ketakutan, dan kehormatan.Shahiihul-Jaami’ no. 7924.

[10] Shahiihul-Jaami’ no. 7962.

[11] Diriwayatkan oleh Muslim.

[12] Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy.

[13] Shahiihul-Jaami’ no. 1557.

[14] Diriwayatkan oleh Muslim.

[15] Shahiihul-Jaami’ no. 2118.

[16]Shahiihul-Jaami’ no. 6904.

[sumber:  http://abul-jauzaa.blogspot.com]

Mengadukan Kesusahan Hanya kepada Allah

0

Mengadukan Kesusahan Hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأنْزَلَهَا بالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ، وَمَنْ أنْزَلَهَا باللهِ ، فَيُوشِكُ اللهُ لَهُ بِرِزْقٍ عَاجِلٍ أَوْ آجِلٍ

“Barangsiapa ditimpa kesusahan (kefakiran dan kebutuhan), lalu ia mengadukannya kepada manusia, maka tidak akan tertutupi kesusahannya, dan barangsiapa yang mengadukannya kepada Allah, maka pasti Allah akan memberi rezeki kepadanya, cepat atau lambat.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, dan ini adalah lafaz At-Tirmidzi dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu’anhu, Shahihut Targhib: 838]

Dalam lafaz yang lebih shahih,

مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللَّهِ أَوْشَكَ اللَّهُ لَهُ بِالْغِنَى إِمَّا بِمَوْتٍعَاجِلٍ أَوْ غِنًى عَاجِلٍ

“Barangsiapa yang ditimpa kesusahan (kefakiran dan kebutuhan), lalu ia mengadukannya kepada manusia maka tidak akan tertutupi kesusahannya, dan barangsiapa mengadukannya kepada Allah maka tidak lama Allah akan mencukupinya, apakah dengan kematian yang dekat atau kecukupan yang dekat.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, Shahih Abi Daud: 1452, Ash-Shahihah: 2787]

 

Penjelasan Makna Hadits:

Al-Imam Al-Mubarakfuri rahimahullah berkata,

لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ أَيْ لَمْ تُقْضَ حَاجَتُهُ وَلَمْ تُزَلْ فَاقَتُهُ وَكُلَّمَا تُسَدُّ حَاجَتُهُ أَصَابَتْهُ أُخْرَى أَشَدُّ مِنْهَا

“Tidak akan tertutupi kesusahannya, maknanya adalah tidak akan terpenuhi kebutuhannya dan tidak akan berakhir kesusahannya, dan setiap kali kebutuhannya terpenuhi maka ia akan tertimpa kesusahan yang lebih parah.” [Tuhfatul Ahwadzi, 6/111]

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Albani rahimahullah berkata,

فما معنى قوله: “إما بموتعاجل، أو غنى عاجل”؟ فأقول: لم أقف على كلام شاف في ذلك لأحد من العلماء،و أجمع ما قيل فيه ما ذكره الشيخ محمود السبكي في “المنهل العذب” (9 / 283) قال: إما بموت قريب له غني، فيرثه، أو بموت الشخص نفسه، فيستغني عن المال، أو بغنى و يسار يسوقه الله إليه من أي باب شاء، فهو أعم مما قبله، ومصداقهقوله تعالى: و من يتق الله يجعل له مخرجا و يرزقه من حيث لا يحتسب

“Maka apakah makna ucapan beliau, “Apakah dengan kematian yang dekat atau kecukupan yang dekat”? Aku katakan: Aku belum mendapati penjelasan yang memuaskan dari seorang ulama pun tentang itu, dan yang paling mencakup dalam menjelaskannya adalah apa yang disebutkan oleh Asy-Syaikh Mahmud As-Subki dalam Al-Minhal Al-‘Adzbu (9/283), beliau berkata, “Apakah dengan kematian kerabatnya yang dekat lagi kaya lalu ia mewarisi hartanya, atau ia sendiri yang mati (dalam kebaikan) sehingga ia tidak lagi membutuhkan harta, atau dengan suatu kekayaan atau kemudahan yang Allah berikan kepadanya dengan cara apa saja sesuai kehendak-Nya, dan yang terakhir ini lebih umum dari yang sebelumnya, hal ini didukung dengan firman Allah ta’ala,

 وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ

 “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Tholaq: 2-3).” [Ash-Shahihah, 6/676]

Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdul Muhsin Al-‘Abbad hafizhahullah berkata,

أي: إذا اعتمد على الناس وعول عليهم، وغفل عن الله عز وجل فإنها لا تسد فاقته. والفاقة: هي الفقر وشدة الحاجة، فإذا عول الإنسان على الناس فإنه لا يحصل له ما يريد؛ لأنه إذا اعتمد على الناس تُرك على الناس، وأما إذا اعتمد على الله فإن الله تعالى يهيئ له الرزق من حيث لا يحتسب كما قال: وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ [الطلاق:2-3]، أي: كافيه

“Maknanya adalah, apabila ia bergantung dan bersandar kepada manusia dan lupa kepada Allah ‘azza wa jalla maka tidak akan tertutupi kesusahannya. Dan kesusahan yang dimaksud di sini adalah kefakiran (kemiskinan) dan sangat butuh, maka apabila seseorang bersandar kepada manusia, tidak akan tercapai apa yang ia inginkan, karena jika ia bersandar kepada manusia maka ia akan dibiarkan (oleh Allah) kepada manusia (sebagai hukuman atasnya), adapun jika ia bersandar kepada Allah maka Allah akan menyediakan baginya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka, sebagaimana firman Allah ta’ala

 وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.”(Ath-Tholaq: 2-3) Makudnya Allah yang mencukupinya.” [Syarhu Sunan Abi Daud, 9/74, Asy-Syamilah]

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahumullah berkata,

فمن تعلق بالله وأنزل حوائجه إليه والتجأ إليه وفوض أمره إليه وكفاه وقرب إليه كل بعيد ويسر له كل عسير ومن تعلق بغيره أو سكن إلى رأيه وعقله ودوائه وتمائمه ونحو ذلك وكله الله إلى ذلك وخذله وهذا معروف بالنصوص والتجارب قال تعالى ومن يتوكل على الله فهو حسبه

“Maka barangsiapa yang bergantung kepada Allah ta’ala, memohon hajat-hajatnya kepada-Nya, bersandar kepada-Nya, memasrahkan urusannya kepada-Nya niscaya Allah ta’ala akan mencukupinya, mendekatkan baginya setiap yang jauh, memudahkan baginya semua yang sulit.

Dan barangsiapa yang bergantung kepada selain-Nya atau lebih tenang (ketika bersandar) kepada pendapatnya, akalnya, obatnya, jimat-jimatnya dan yang semisalnya maka Allah ta’ala jadikan dia bergantung kepada makhluk-makhluk tersebut dan Allah ta’ala akan menghinakannya. Dan ini sudah dimaklumi berdasarkan dalil-dalil dan kenyataan. Allah ta’ala berfirman,

 وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah maka cukuplah Allah sebagai penolongnya.” (Ath-Tholaq: 3).” [Fathul Majid, hal. 124]

 

Beberapa Pelajaran:

  1. Wajib untuk selalu bertakwa kepada Allah ta’ala dan bergantung (tawakkal) hanya kepada-Nya
  2. Mengadu dan memohon hendaklah hanya kepada Allah ta’ala
  3. Tercelanya meminta-minta dan tercelanya bergantung kepada manusia
  4. Allah Maha Mampu sedang makhluk itu lemah
  5. Allah akan sesantiasa menolong orang yang bertakwa dan mencukupi orang yang bersandar kepada-Nya
  6. Takwa dan tawakkal adalah solusi semua problematika hidup ini
  7. Memohon dan bergantung kepada selain Allah dapat mengantarkan kepada syirik (insya Allah akan dibahas lebih detail dalam artikel lainnya)
  8. Seorang mukmin harus kuat dan optimis dalam menghadapi berbagai cobaan dan rintangan dalam hidup, yaitu dengan selalu berharap, bergantung dan bermohon hanya kepada Allah serta bertakwa kepada-Nya, inilah hakikat kekuatan
  9. Allah yang Maha Memberi rezeki, meminta kepada selain-Nya termasuk syirik
  10. Kematian yang baik, yaitu dalam keadaan taat kepada Allah adalah peristirahatan yang baik untuk seorang mukmin dari segala kesusahan dunia, namun kematian yang jelek bisa jadi awal bencana besar untuk seorang hamba jika Allah tidak mengampuninya. Wallaahu A’lam.

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

[Sumber: http://sofyanruray.info/mengadukan-kesusahan-hanya-kepada-allah-azza-wa-jalla/]

Hadist Arba’in Nawawi – Hadist Kedua: Iman, Islam, dan Ihsan

0

Hadist Kedua

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ   وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ .

[رواه مسلم]

 

Arti hadits / ترجمة الحديث :

Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang  membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata: “ anda benar“.  Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata:  “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda:  “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian)  berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “.

(Riwayat Muslim)

Catatan :

Hadits ini merupakan hadits yang sangat dalam maknanya, karena didalamnya terdapat pokok-pokok ajaran Islam, yaitu Iman, Islam dan Ihsan.

Hadits ini mengandung makna yang sangat agung karena berasal dari dua makhluk Allah yang terpercaya, yaitu: Amiinussamaa’ (kepercayaan makhluk di langit/Jibril) dan Amiinul Ardh (kepercayaan makhluk di bumi/ Rasulullah)

Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث :

Disunnahkan untuk memperhatikan kondisi  pakaian, penampilan dan kebersihan, khususnya jika menghadapi ulama, orang-orang mulia dan penguasa.

Siapa yang menghadiri majlis ilmu dan menangkap bahwa orang–orang yang hadir butuh untuk mengetahui suatu masalah dan tidak ada seorangpun yang bertanya, maka wajib baginya bertanya tentang hal tersebut meskipun dia mengetahuinya agar peserta yang hadir dapat mengambil manfaat darinya.

Jika seseorang yang ditanya tentang sesuatu maka tidak ada cela baginya untuk berkata: “Saya tidak tahu“,  dan hal tersebut tidak mengurangi kedudukannya.

Kemungkinan malaikat tampil dalam wujud manusia.

Termasuk tanda hari kiamat adalah banyaknya pembangkangan terhadap kedua orang tua. Sehingga anak-anak memperlakukan kedua orang tuanya sebagaimana seorang tuan memperlakukan hambanya.

Tidak disukainya mendirikan bangunan yang tinggi dan membaguskannya sepanjang tidak ada kebutuhan.

Didalamnya terdapat dalil bahwa perkara ghaib tidak ada yang mengetahuinya selain Allah ta’ala.

Didalamnya terdapat keterangan tentang adab dan cara duduk dalam majlis ilmu.

Tafsir Surat An-Naas

0

مختصر صحيح تفسير ابن كثير

Surah An-Naas

Bismillahirrahmanirrahim
“Katakanlah, “Aku berlidung kepada Rabb (yang memelihara dan mengatur) manusia. Penguasa manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.”

[Tafsir]
Semua sifat di atas termasuk dari sifat-sifat Rabb ‘Azza wa Jalla; Rububiyah (ketuhanan), kerajaan, dan ilahiah (sembahan). Maka Allah adalah Rabb, penguasa, dan sembahan segala sesuatu. Segala sesuatu adalah makhluk-Nya, dikuasai oleh-Nya, dan hamba-Nya. Allah memerintahkan orang yang memohon perlindungan untuk meminta perlindungan hanya kepada Yang bersifat dengan sifat-sifat ini, dari kejelekan was-was yang dilakukan oleh al khannas, yaitu setan yang selalu menyertai manusia. Karena, tidak ada seorang pun dari anak Adam kecuali dia mempunyai qarin yang menjadikan kekejian nampak indah di matanya dan dia tidak perduli walau harus mengerahkan semua kemampuannya untuk memberikan khayalan palsu. Dan yang selamat hanyalah siapa yang Allah selamatkan.

Telah shahih dalam kitab Ash-Shahih bahwa beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali tilah diikutkan padanya temannya dari kalangan jin.” Mereka bertanya, “Engkau juga wahai Rasulullah?” beliau menjawab, “Iya, hanya saja Allah telah menolong saya untuk mengatasinya, sehingga saya pun bisa selamat, dia tidak memerintah saya kecuali dengan kebaikan. “

Sejumlah ulama berkata menafsirkan firman-Nya, “Kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi.” Mereka berkata, “Dia adalah setan yang bercokol di dalam hati anak Adam. Jika dia (anak Adam) lalai, dia akan memberikan was-was, tapi jika dia berzikir kepada Allah, dia akan menahan diri.”

Firman-Nya, “Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.” Apakah bisikan ini hanya terjadi pada anak anak Adam -sebagaimana lahiriah ayat-, ataukah berlaku umum untuk anak Adam dan juga jin? Ada dua pendapat di kalangan ulama. Namun terkadang mereka (jin) juga masuk ke dalam penamaan ‘manusia’ pada kebanyakan kasus. Ibnu Jarir berkata, “Terkadang (kata ‘lelaki’, penj.) juga digunakan untuk mereka (jin), “Beberapa orang lelaki dari kalangan jin.“ Maka tidak ada masalah menggunakan kata ‘manusia’ untuk mereka.”

Firman Allah Ta’ala, “Dari (golongan) jin dan manusia.” Apakah ini rincian dari firman-Nya, “Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,” lalu Dia menjelaskan dengan firman-Nya, “Dari (golongan) jin dan manusia?” Kemungkinan ini menguatkan pendapat yang kedua.

Ada yang berpendapat, “Dari (golongan) jin dan manusia” adalah penafsiran dari ‘yang membisikkan was-was ke dalam dada manusia’, yakni dari golongan setan jin dan manusia. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (Al-An’am: 112)
Dari Ibnu Abbas dia berkata, “Ada seorang lelaki yang mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya berucap di dalam hatiku dengan suatu ucapan, yang saya jatuh dari atas langit lebih saya sukai daripada mengucapkannya.” Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Allahu Akbar, Allahu Akbar. Segala pujian hanya milik Allah yang telah menolak makarnya dan hanya menjadikannya sebagai was-was. “

Akhir tafsir surah An-Nàs
Segala pujian dan anugrah hanya milik Allah
Taufik dan penjagaan hanya dari-Nya

Tafsir Surat Al-Falaq

0

مختصر صحيح تفسير ابن كثير

Surah Al-Falaq

Dari Uqbah bin Amir radhiallahu anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidakkah engkau melihat ayat-ayat yang diturunkan pada malam ini? Tidak diketahui ada ayat-ayat yang semisal ini sama sekali. “Katakanlah, “Aku berlindung kepada Rabb Yang Menguasai al-falaq,” dan “Katakanlah, “Aku berlidung kepada Rabb (yang memelihara dan mengatur) manusia.“

Dan dari Uqbah bin Amir radhiallahu anhu dia berkata, “Suatu ketika saya pernah berjalan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sebuah rombongan dari rombongan-rombongan yang ada. Tiba-tiba beliau bersabda kepadaku, “Wahai Uqbah, tidakkah kamu naik ke tungganganku?” Saya menghormati Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sehingga saya tidak naik ke tunggangan beliau. Beliau kembali berkata, “Wahai Uqbah, tidakkah kamu naik ke tungganganku?” Maka akhirnya saya khawatir kalau-kalau penolakan saya ini merupakan maksiat. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kemudian turun dan saya yang menaiki tunggangan beliau untuk sesaat, kemudian beliau kembali menaiki tunggangannya. Kemudian beliau bersabda, “Wahai Uqbah, maukah kamu saya ajarkan dua surah di antara dua surah terbaik yang dibaca oleh manusia?” Saya menjawab, “Mau wahai Rasulullah.” Maka beliau membacakan kepadaku “Katakanlah, “Aku berlindung kepada Rabb Yang Menguasai al-falaq,” dan “Katakanlah, “Aku berlidung kepada Rabb (yang memelihara dan mengatur) manusia.” Kemudian shalat ditegakkan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maju mengimami kami dan membaca kedua surah ini. Setelah selesai, beliau melewatiku seraya bersabda, “Bagaimana pendapatmu wahai Uqbah, bacalah keduanya setiap kali kamu mau tidur dan setiap kali kamu bangun dari tidur.”

Dari Uqbah bin Amir dia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan saya untuk membaca surah-surah perlindungan di akhir setiap shalat. “

Dan dari Aisyah radhiallahu anha, bahwa jika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam merasakan sakit, beliau meruqyah diri beliau sendiri dengan membaca kedua surah perlindungan ini, lalu beliau meniupkannya. Tatkala penyakit beliau bertambah parah, saya yang meruqyah beliau dengan kedua surah perlindungan ini, lalu saya mengusapkan kedua tangan beliau padanya untuk mengharap berkahnya.

Bismillahirrahmanirrahim
Katakanlah, “Aku berlindung kepada Rabb Yang Menguasai al-falaq, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan pendengki bila dia dengki.”

Sejumlah ulama mengatakan, “Al-falaq” adalah subuh, ini seperti firman Allah Ta’ala, “Dia menyingsingkan waktu subuh.” (Al-An’am: 96)

Firman Allah Ta’ala, “Dari kejahatan makhluk-Nya,” yakni: Dari kejelekan seluruh makhluk.

Firman Allah Ta’ala, “Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita.” Ada yang menafsirkan, “Kejahatan malam jika telah gelap gulita,” dengan terbenamnya matahari. Az-Zuhri berkata, “Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,” yaitu matahari jika dia terbenam.

Aisyah radhiallahu anha berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah memegang tanganku, lalu beliau memperlihatkan kepadaku bulan ketika munculnya. Kemudian beliau bersabda, “Berlindunglah kamu kepada Allah dari kejelekan bulan ini jika dia terbit.”
Dalam sebuah riwayat, “Berlindunglah kepada Allah dari keburukan (bulan). Karena dialah al ghòsiq jika telah terbit.”

Firman Allah Ta’ala, “Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,” yakni: Para penyihir wanita jika mereka membaca mantra dan meniup pada buhul-buhul.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Jibril pernah mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu berkata, “Apakah kamu merasa sakit ya Muhammad?” Beliau menjawab, “Ya.” Maka Jibril berkata, “Bismillah, aku meruqyah kamu dari setiap penyakit yang mengganggumu, serta dari kejelekan semua orang yang hasad dan mata yang dengki. Semoga Allah menyembuhkanmu.” Mungkin saja kejadian ini terjadi ketoka beliau shallallahu alaihi wasallam merasakan sakit tatkala beliau disihir. Kemudian Allah Ta’ala memberikan kesehatan dan kesembuhan kepada beliau. Allah mengembalikan makar para penyihir yang hasad dari kalangan Yahudi kepada diri mereka sendiri, membinasakan mereka, dan mempermalukan mereka. Namun bersamaan dengan itu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah sekali pun menghardiknya, dan hnya Allah yang memberi kecukupan, kesembuhan, dan kesehatan.

Akhir tafsir surah Al-Falaq
Segala pujian dan anugrah hanya milik Allah
Taufik dan penjagaan hanya dari-Nya

Tafsir Surat Al-Ikhlash

0

مختصر صحيح تفسير ابن كثير

Surah Al-Ikhlash

Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata, “Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah menunjuk seseorang untuk memimpin satu skuadron. Orang ini membaca surah ketika mengimami pasukannya dalam shalat, tapi dia selalu menutupnya dengan surah ‘Qul Huwallahu Ahad’. Setelah mereka pulang, mereka menceritakan hal itu kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Beliau lalu bersabda, “Tanyakan kepadanya, kenapa dia melakukan itu?” Mereka lalu bertanya kepadanya, dan dia menjawab, “Karena surah itu adalah sifat ar-Rahman, dan saya senang untuk membacanya.” Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Kabarkan kepadanya bahwa Allah Ta’ala mencintainya.”

Dari Abu Said radhiallahu anhu dia berkata, “Ada seorang lelaki yang mendengar temannya selalu mengulang-ulangi surah ‘Qul Huwallahu Ahad’. Pagi harinya, lelaki ini mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu menceritakan hal itu kepada beliau, sepertinya lelaki itu menganggap remeh surah ini. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Demi yang jiwaku berada di tanganNya, sesungguhnya surah ini setara dengan sepertiga Al-Qur`an.”

Dan dari Abu Said radhiallahu anhu dia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda kepada para sahabatnya, “Apakah kalian tidak sanggup membaca sepertiga al-Qur`an dalam satu malam?” Ternyata hal tersebut memberatkan mereka, lalu berkata, “Siapakah di antara kami yang sanggup melakukannya wahai Rasulullah?” Maka beliau bersabda, “Allahul Wahidus Shamad setara dengan sepertiga Al-Qur`an.”

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Berkumpullah kalian, karena sungguh aku akan membacakan sepertiga al-Qur`an kepada kalian.” Maka berkumpullah sekelompok orang. Kemudian Nabi Allah shallallahu alaihi wasallam keluar lalu membaca surah ‘Qul Huwallahu Ahad’, kemudian beliau masuk kembali ke dalam rumah. Maka sebagian dari kami bertanya kepada yang lainnya, “Bukankah tadi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya saya akan membacakan sepertiga al-Qur`an kepada kalian.” Namun saya sendiri beranggapan bahwa ini adalah wahyu dari langit. Kemudian Nabi Allah shallallahu alaihi wasallam keluar dan berkata, “Sesungguhnya saya tadi mengatakan kepada kalian, “Sungguh aku akan membacakan sepertiga Al-Qur`an kepada kalian.” Ketahuilah, sesungguhnya surah ini setara dengan sepertiga Al-Qur`an.”

Dari Muàdz bin Abdillah bin Habib dari ayahnya dia berkata, “Kami pernah kehausan di malam gelap gulita ketika kami sedang menunggu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar untuk shalat mengimami kami. Tidak lama berselang, beliau keluar lalu memegang tanganku dan bersabda, “Bacalah!” Lalu beliau terdiam. Kemudian beliau berkata lagi, “Bacalah!” Saya menjawab, “Apa yang harus saya baca?” Beliau menjawab, “Bacalah ‘Qul Huwallahu Ahad’ dan kedua surah perlindungan sebanyak tiga kali di sore dan pagi hari. Niscaya hal itu akan memberikan kecukupan kepadamu sebanyak dua kali setiap harinya.”

Dan dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata, “Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam, jika beliau beranjak menuju tempat tidur beliau setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangan beliau kemudian meniup keduanya seraya membaca surah ‘Qul Huwallahu Ahad,’ Qul A`udzu birabbil falaq,’ dan ‘Qul A`udzu birabbinnas’. Kemudian beliau mengusapkan kedua tangan beliau ke bagian tubuh yang bisa beliau jangkau. Beliau memulai dengan bagian kepala dan wajah beliau, lalu bagian depan dari tubuh beliau. Beliau melakukan hal ini sebanyak tiga kali.”

Bismillahirrahmanirrahim
“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.”

Yakni: Dia-lah Yang Maha tunggal lagi Maha Esa, tidak ada yang serupa dengan-Nya dan juga tidak butuh penolong, tidak ada tandingan, tidak ada ada yang mirip denganNya, dan tidak ada yang setara dengan-Nya.

Lafazh ini (Ahad, penj.) tidak boleh digunakan kepada siapa pun dalam kalimat positif kecuali kepada Allah Azza wa Jalla, karena hanya Dia Yang Maha sempurna pada semua sifat dan perbuatanNya.

Firman Allah -Tabaraka wa Ta’ala-, “Allah adalah Yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya.” Sebagian ulama berkata menafsirkan maknanya, “Yakni: Yang semua makhluk bersandar kepada-Nya dalam pemenuhan kebutuhan dan permintaan mereka.”
Ulama lainnya berkata, “Dia lah as Sayyid yang sangat sempurna kekuasaanNya, Maha mulia yang sangat sempurna kemuliaan-Nya, Maha agung yang sangat sempurna keagunganNya, Maha lembut yang sangat sempurna kelembutanNya, Maha berilmu yang sangat sempurna keilmuanNya, Maha bijaksana yang sangat sempurna kebijaksanaanNya. Dia lah Yang sempurna dalam semua bentuk kemuliaan dan ketinggian, Dia lah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semua sifatNya ini tidak ada yang memilikinya kecuali diriNya. Tidak ada yang setara denganNya dan tidak ada sesuatu pun yang seperti diriNya. Mahasuci Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.”
Ada yang mengatakan, “Dia-lah yang tetap kekal setelah seluruh makhluknya mati. Yang Maha hidup lagi Maha tegak dengan sendirinya, tidak ada akhir bagiNya.”

Ar-Rabi’ bin Anas berkata, “Dia lah yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.” Sepertinya beliau menjadikan ayat setelahnya -yaitu firman-Nya, “Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan,”- sebagai penafsiran dari ayat ini, dan ini adalah penafsiran yang bagus. Dan sejumlah ulama mengatakan, “Ash-Shamad,” adalah Yang tidak ada sesuatu pun yang keluar dari-Nya.”

Al-Hafizh Abu al Qasim Ath-Thabrani berkata dalam Kitab As-Sunnah karya beliau, setelah beliau membawakan kebanyakan pendapat-pendapat di atas dalam tafsir, “Ash-Shamad.” Beliau berkata, “Semua penafsiran ini benar, karena ini semua memang merupakan sifat-sifat Rabb kita Azza wa Jalla. Dia lah tempat kembali dalam memenuhi semua kebutuhan. Dia lah yang sangat sempurna kekuasaanNya. Dia lah yang tidak ada sesuatu pun yang keluar dariNya, juga tidak makan dan minum. Dan Dia lah yang Maha kekal setelah kematian seluruh makhlukNya.”

Firman Allah Ta’ala, “Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan,” yakni: Dia tidak mempunyai anak, tidak pula orang tua, dan tidak pula istri.

Mujahid berkata, “Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia,” maksudnya: Dia tidak mempunyai istri.” Yakni: Dia adalah Pemilik dan Pencipta segala sesuatu, maka bagaimana mungkin ada di antara makhluk yang mirip dan serupa denganNya, atau yang mendekati kedudukanNya. Maha tinggi dan Maha suci Allah dari hal tersebut.

Akhir tafsir surah Al-Ikhlas
Segala pujian dan anugrah hanya milik Allah

Hadist Arba’in Nawawi – Hadist 1: Ikhlas

0

HADITS PERTAMA

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .

[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]

Arti Hadits / ترجمة الحديث :

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.

(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang) .

Catatan :

Hadits ini merupakan salah satu dari hadits-hadits yang menjadi inti ajaran Islam. Imam Ahmad dan Imam syafi’i berkata : Dalam hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu. Sebabnya adalah bahwa perbuatan hamba terdiri dari perbuatan hati, lisan dan anggota badan, sedangkan niat merupakan salah satu dari ketiganya. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa dia berkata : Hadits ini mencakup tujuh puluh bab dalam fiqh. Sejumlah ulama bahkan ada yang berkata : Hadits ini merupakan sepertiga Islam.

Hadits ini ada sebabnya, yaitu: ada seseorang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah dengan tujuan untuk dapat menikahi seorang wanita yang konon bernama : “Ummu Qais” bukan untuk mendapatkan keutamaan hijrah. Maka orang itu kemudian dikenal dengan sebutan “Muhajir Ummi Qais” (Orang yang hijrah karena Ummu Qais).

Pelajaran yang terdapat dalam Hadits / الفوائد من الحديث :

Niat merupakan syarat layak/diterima atau tidaknya amal perbuatan, dan amal ibadah tidak akan mendatangkan pahala kecuali berdasarkan niat (karena Allah ta’ala).

Waktu pelaksanaan niat dilakukan pada awal ibadah dan tempatnya di hati.

Ikhlas dan membebaskan niat semata-mata karena Allah ta’ala dituntut pada semua amal shalih dan ibadah.

Seorang mu’min akan diberi ganjaran pahala berdasarkan kadar niatnya.

Semua perbuatan yang bermanfaat dan mubah (boleh) jika diiringi niat karena mencari keridhoan Allah maka dia akan bernilai ibadah.

Yang membedakan antara ibadah dan adat (kebiasaan/rutinitas) adalah niat.

Hadits di atas menunjukkan bahwa niat merupakan bagian dari iman karena dia merupakan pekerjaan hati, dan iman menurut pemahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah membenarkan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan.