Saturday, April 20, 2019
Home > Tanya Jawab > Hukum Mewarnai Rambut dengan Warna Hitam

Hukum Mewarnai Rambut dengan Warna Hitam

hukum-mewarnai-rambut

Hukum Mewarnai Rambut dengan Warna Hitam

Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang menggunakan pewarna rambut yang berwarna hitam, sebagaimana yang tersebut dalam hadits Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma riwayat An-Nasai no. 5075. Juga berdasarkan hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu anhu dia berkata:

أُتِيَ بِأَبِي قُحَافَةَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ وَرَأْسُهُ وَلِحْيَتُهُ كَالثَّغَامَةِ بَيَاضًا فَقَالَ رَسُولُ اللهُ  صَلَّى اللهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ
“Pada hari penaklukan Makkah, Abu Quhafah dibawa ke hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan rambut dan jenggotnya yang memutih seperti pohon tsaghamah (pohon yang daun dan buahnya putih). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Rubahlah warna (uban) ini dengan sesuatu, tapi jauhilah yang berwarna hitam.” (HR. Muslim no. 3925)

Imam An-Nawawi rahimahullah memberikan judul bab terhadap hadits di atas, “Bab: Disunnahkannya mewarnai uban dengan warna kuning atau warna merah, dan haramnya mewarnai dengan warna hitam.”

Apa yang dikatakan oleh Imam An-Nawawi rahimahullah mengenai warna yang diperbolehkan (kuning dan merah) sangatlah jelas. Karena Nabi shallallahu alaihi wasallam hanya melarang satu warna yaitu hitam. Sehingga ini menunjukkan semua warna lainnya diperbolehkan, wallahu a’lam.

ِِAdapun bahannya, maka tersebut dalam hadits Anas bin Malik radhiallahu anhu dimana dia berkata:

قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَيْسَ فِي أَصْحَابِهِ أَشْمَطُ غَيْرَ أَبِي بَكْرٍ فَغَلَفَهَا بِالْحِنَّاءِ وَالْكَتَمِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tiba (di Madinah) dan tidak ada satupun dari shahabat beliau yang paling banyak ubanya selain Abu Bakar. Maka kemudian dia mengecatnya dengan daun inai dan katam (daun pewarna lainnya)”. (HR. Al-Bukhari no. 3627)

Adapun jika rambut tidak beruban lalu diwarnai, maka wallahu a’lam hal itu tidak disyariatkan. Karena hadits-hadits yang menerangkan pewarnaan rambut, semuanya mengkhususkannya pada rambut yang telah beruban. Ini diisyaratkan dalam hadits Anas bin Malik radhiallahu anhu ketika dia ditanya mengenai apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam rambutnya dicelup? Dia menjawab:

لَوْ شِئْتُ أَنْ أَعُدَّ شَمَطَاتٍ كُنَّ فِي رَأْسِهِ فَعَلْتُ وَقَالَ: لَمْ يَخْتَضِبْ. وَقَدْ اخْتَضَبَ أَبُو بَكْرٍ بِالْحِنَّاءِ وَالْكَتَمِ وَاخْتَضَبَ عُمَرُ بِالْحِنَّاءِ بَحْتًا

“Seandainya saya mau menghitung jumlah rambut putih yang berada di antara jumlah rambut hitam beliau, tentu saya bisa menghitungnya. Dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mencelupnya. Adapun Abu Bakar dan Umar, maka sungguh keduanya mencelup rambut mereka dengan Inai dan sejenisnya.”(HR. Muslim no. 4320)

Bahkan jika mewarnai rambut yang tidak beruban merupakan kebiasaan atau model rambut orang kafir, maka perbuatan itu bisa dikategorikan ke dalam bentuk tasyabbuh(penyerupaan) kepada orang-orang kafir yang diharamkan.

Wallahu a’lam bishshawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *